WKUTM – Berdasarkan Surat Edaran Rektor nomor. B/825/UN46/HM.00.06/2020 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah melaksanakan pembelajaran dalam jaringan (daring) sejak tanggal 17 Maret 2020. Terhitung hingga saat ini sudah 9 bulan UTM melaksanakan pembelajaran daring. Kendati demikian, mahasiswa inginkan kuliah luar jaringan (luring) di semester depan.
Seperti yang diharapkan mahasiswa asal Gresik, Andhika Yoga Pratama yang merasa lebih nyaman dengan sistem kuliah tatap muka. Selain itu, Yoga juga mengakui bahwa ia memiliki beberapa kesulitan selama pembelajaran daring. Kesulitan tersebut berupa masalah koneksi jaringan, kurangnya penjelasan dosen, minimnya komunikasi antara dosen dengan mahasiswa, dan kantuk.
” Ngantuk, hawa di rumah menjadikan badan ingin tidur,” ungkap mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Indonesia itu.
Salma Utiya Hikmah, mahasiswa Hukum Bisnis Syariah (HBS), juga mengalami beberapa kesulitan selama pembelajaran daring. Kesulitan tersebut adalah koneksi jaringan, di tempat tinggalnya ia mesti menempuh jarak yang cukup jauh agar mendapat jaringan yang stabil. Tak hanya itu, mahasiswa asal Jombang ini mengaku kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara daring menjadi semakin membosankan.
“Kuliah ini monoton, saya merasa bosan dan mengantuk karena minimnya dialog yang interaktif,” ungkapnya.
Citra Lutfia, selaku dosen perpajakan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB), mengakui bahwa, suasana perkuliahan daring sangat berbeda dengan perkuliahan luring, maka terdapat banyak sekali kesulitan yang dialami. Pihaknya mengaku kesulitan tersebut salah satunya berupa sinyal. Meskipun mahasiswa telah mendapatkan subsidi kuota namun kekuatan sinyal tidak memadai. Sehingga pihaknya selalu membagikan record dari kelas video virtual.
”Solusi yang saya berikan adalah dengan meletakkan record tersebut di drive dan linknya saya bagikan sehingga mahasiswa dapat mengakses kapan saja" terangnya.
Dosen asal Sidoarjo ini berharap semester depan perkuliahan diadakan offline sebab dengan perkuliahan offline kendala yang dialami akan lebih sedikit.
”Tidak menutup kemungkinan semester depan dapat kembali normal. Namun, kita juga harus mempertimbangkan kesiapan dari wilayah sekitar jika ingin mengadakan kelas offline. Pada intinya mengikuti aturan yang berlaku, pola hidup sehat, jaga imun, jaga kebersihan, dan jaga jarak,” ujarnya.
Berbeda dengan Citra, Arie Wahyu Pranata, salah satu dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB), mengaku bahwa ia juga memiliki banyak kesulitan selama pembelajaran daring ini. Kesulitan tersebut mengenai perangkat pembelajaran, metode pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan soft skill serta etika belajar.
”Kesulitan utama ialah susahnya membangun adab dan etika hubungan relasi antara dosen dan mahasiswa,” ungkapnya (18/11/2020).
Meskipun begitu dosen asal Malang ini tidak begitu berharap perkuliahan luring di semester depan, menginggat risiko pandemi masih susah untuk dikendalikan.
”Kita tidak perlu luring, karena resiko pandemi masih susah dikendalikan jika luring. Lebih baik masih daring saja dan saya rasa kemungkinan untuk luring di semester depan hanya 10%,” ungkapnya. (Cha/Ma)
