Keluhan dirasakan oleh Yudi Widagdo Harimurti, dosen Fakultas Hukum, pihaknya merasa bahwa perlu adanya adaptasi terhadap perubahan kegiatan perkuliahan. Selain itu, Yudi juga merasa bahwasannya jaringan internet yang tidak stabil menjadi kendala kuliah daring.
”Karena ini hal baru bagi saya, harus melakukan adaptasi serta menjaga stabilitas jaringan. Karena hal ini kendala utama ketika melakukan perkuliahan secara daring,” tuturnya (01/10).
Yudi menambahkan bahwa perkuliahan belum pernah dilakukan secara luar jaringan (luring), membuat mahasiswa ataupun dosen kesulitan dalam memahami karakter satu sama lain.
”Ini juga menjadi permasalahan tersendiri bagi saya, karena belum pernah bertemu secara langsung. Oleh sebab itu proses komunikasi akan dilakukan melalui berbagai aplikasi, seperti Google Classroom, atau WhatsApp,” ujarnya.
Tolib Efendi, dosen Fakultas Hukum mengatakan bahwa mahasiswa baru tahun 2020 sudah tidak asing dengan pembelajaran daring. Menurutnya, kendala utama yang dihadapi oleh mahasiswa baru bukan terletak pada teknis perkuliahan daringnya, melainkan pada proses transisi dari siswa menjadi mahasiswa dengan pola pembelajaran yang berbeda tentunya. Sehingga dibutuhkan bimbingan lebih intens guna menghadapi pola pembelajaran mahasiswa yang cenderung bersifat student centered learning.
”Mahasiswa baru tentunya masih membutuhkan bimbingan dalam menghadapi pola pembelajaran mahasiswa, cenderung lebih bersifat student centered learning,” imbuhnya.
Tolib Efendi juga merasa bahwa kendala perkuliahan daring bukan lagi karena kuota internet melainkan jaringan yang kurang memadai.
”Kuota internet bukan lagi menjadi kendala, karena bulan September kemarin kementerian terkait telah memberikan subsidi paket data, baik ke mahasiswa ataupun dosen. Akan tetapi, jika dilihat dari data statistik, masih ada sekitar 12,4% mahasiswa saya yang belum bisa mengikuti proses perkuliahan daring ini, mayoritas mengeluhkan kondisi jaringan yang kurang memadai,” tuturnya.
Terkait presentase kehadiran mahasiswa, saat ini antusiasme mahasiswa sangat besar tetapi hal ini masih terlalu dini untuk dikatakan, mengingat proses perkuliahan masih berlangsung selama satu minggu.
”Sementara, untuk saat ini presentase kehadiran mahasiswa dalam menghadapi kuliah daring adalah sebesar 99,7%. Sangat antusias, akan tetapi saya rasa hal ini terlalu dini untuk dikatakan, karena mengingat perkuliahan secara daring ini baru saja dimulai minggu ini,” pungkasnya.
Frisca Amelia, mahasiswi program studi Ilmu Komunikasi mengalami kesulitan terhadap jaringan internet. Meskipun ia sudah menggunakan wifi namun kendala jaringan yang sulit masih ada.
”Memang, untuk kendala lebih dominan kepada jaringan. Saya sudah berusaha untuk menggunakan jaringan Wi-Fi, akan tetapi sinyal masih belum bisa stabil,” ujarnya.
Mahasiswa semester tiga tersebut menambahkan bahwa selain jaringan, banyak mahasiswa masih kesulitan masuk ke beberapa aplikasi pembelajaran seperti Google Classroom, atau Google Meet dengan menggunakan akun email yang disediakan oleh kampus.
”Selain jaringan, banyak mahasiswa yang kesulitan guna mengakses beberapa aplikasi karena harus menggunakan email kampus,” pungkas mahasiswa asal Mojokerto tersebut.
Hal serupa juga dialami oleh Wahyudi Prasetyo, mahasiswa baru Program Studi Ilmu Kelautan. Jaringan internet Wahyudi seringkali terkendala karena ia tinggal di desa. Ia berharap agar pandemi berlalu supaya bisa melangsungkan perkuliahan secara luring.
”Selain karena ingin merasakan atmosfer dunia mahasiswa, alasan saya ingin agar kuliah dapat berlangsung seperti biasa lagi adalah kendala jaringan yang sering saya alami, mengingat saya yang bertempat tinggal di desa,” ucap mahasiswa asal Sampang tersebut. (Wah/Wid).

