WKUTM – Pemberlakuan Kebijakan New Normal, sedang dikaji oleh pihak Universitas Trunojoyo Madura (UTM), adapun rencana pemberlakuan kebijakan baru tersebut mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Muhammad Syarif, selaku Rektor UTM menjelaskan bahwa pihak rektorium masih menunggu pedoman New Normal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
”Kita kaji dan evaluasi semuanya, sekaligus menunggu pedoman dari Kemendikbud,” ungkapnya.
Syarif menuturkan jika kebijakan yang akan dikeluarkan diharapkan dapat berjalan dengan baik dalam berbagai bidang seperti akademik, kemahasiswaan dan tata kelola.
”Semua harus berjalan sesuai rencana capaian dan mutunya masing-masing,” tambahnya.
Mengenai New normal di bidang akademik, Deni Setya Bagus Yuherawan, selaku Wakil Rektor (Warek) I, mengungkapkan pendapat serupa dengan Syarif. "Pendapat saya sama dengan Rektor," ujarnya.
Tanggapan lain disampaikan Achmad Ubaidillah, selaku Wadek 1 Fakultas Teknik. Pihaknya berpendapat bahwa New Normal merupakan jalan tengah antara kepentingan medis dan pelaku ekonomi. Achmad juga menjelaskan akan ada perubahan dalam proses perkuliahan.
”Untuk ujian tengah semester, ujian akhir semester, seminar proposal skripsi dan sidang skripsi nantinya akan dilaksanakan dalam jaringan (daring). Tentu proses ini mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing bila dibandingkan dengan sistem tatap muka,” ungkapanya saat diwawancara via whatsapp (05/06).
Adapun Masduki, selaku Wakil dekan (Wadek) 1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB), mengungkapkan saat ini pihaknya sedang menyiapkan variabel yang diperlukan dalam pemberlakuan New Normal dengan tetap taat pada kebijakan pemerintah dan protokol kesehatan.
”Ada beberapa opsi pembelajaran yang nantinya disesuaikan dengan kondisi yang ada. bisa dari pembelajaran secara daring murni, pembelajaran secara daring bauran atau blended learning, dan juga tatap muka langsung. Solusi-solusi ini nantinya akan diterapkan sesuai dengan keadaan yang ada,” papar pria asal Kediri itu.
Ia berharap adanya peningkatan Inovasi pembelajaran dengan menerapkan metode-metode baru dan juga menjaga pola hidup sehat. ”Terus tingkatkan inovasi pembelajaran non tatap muka dan tingkatkan perilaku kesehatan, dan melakukan berbagai variasi berbentuk kegiatan baik di dalam atau luar kampus,” paparnya.
Bani Eka Dartiningsih, selaku Dosen Ilmu Komunikasi menilai positif dengan penerapan rencana kebijakan baru tersebut. Bani merasa bahwa Covid-19 telah melumpuhkan perekonomian masyarakat di Indonesia. ”Saya setuju dengan adanya kebijakan New Normal, tetapi juga tetap harus patuh pada protokol kesehatan,” tuturnya.
Adapun terkait perkuliahan daring yang selama ini dilaksanakan, Bani menilai jika mahasiswa yang mengikuti kelasnya mengalami penurunan keaktifan karena terkendala jaringan seluler. ”Masalah teknis seperti jaringan dan pulsa itu menjadi satu kendala dari sekian banyak problem,” keluhnya.
Alfan Biroli, selaku dosen Sosiologi berpendapat bahwa penerapan New Normal tidak semudah yang dibayangkan. Karena masih ada beberapa lembaga pendidikan yang dirasa masih terkendala dengan perkuliahan daring. Alfan juga menambahkan, banyak kendala yang dialami saat perkuliahan daring, seperti jaringan internet yang menjadi bahan utama perkuliahan. Terkait pembelajaran, dirinya sudah menyiapkan beberapa metode.
”Parstisipasi saat proses pembelajaran, ada yang mengikuti dan ada yang tidak. Saya juga menyiapkan beragam variasi metode pembelajaran, seperti video pembelajaran atau menggunakan aplikasi semacam E-mail, Google meet dan sebagainya. Semoga saling bersinergitas antara dosen dan mahasiswa nanti,” pungkasnya. (Hil/Lul/Uya)

