WKUTM - Perpanjangan proses pembelajaran dalam jaringan (daring) yang termaktub dalam Surat Edaran Nomor: B/1122/UN46/HM.00.06/2020 pada tanggal 28 April lalu, menimbulkan persoalan baru. Pasalnya, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) baru memberikan solusi terkait Kuliah Kerja Nyata (KKN), sedangkan Praktek Kerja Lapangan, dan wisuda belum ada solusi pasti.
Menanggapi hal tersebut, Deni Setya Bagus Yuherawan, selaku Wakil Rektor I mengungkapkan jika pihak universitas masih merencanakan kegiatan lain pengganti kegiatan KKN. Rencana tersebut berupa pembentukan satuan tugas (satgas) atau suka relawan dalam penanganan Corona Virus Disease - 2019 (COVID-19). Ia mengaku jika rencana tersebut masih menunggu kepastian dari pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM).
"KKN rencananya berubah menjadi semacam satgas atau sukarelawan pada penanganan COVID-19," jelasnya saat dimintai keterangan melalui whatssapp (WA) (11/05).
Dalam buku panduan KKN tematik satgas UTM yang dikeluarkan oleh LPPM, pada Bab 1 bagian pendahuluan dijelaskan bahwa KKN semester genap tahun akademik 2019/2020 menggunakan model satgas covid-19. Model tersebut sebagai upaya membantu masyarakat dan Pemerintah dalam menanggulangi wabah yang makin meluas. Adapun pelaksanaan KKN dilakukan pada 29 juni hingga 24 juli.
Terkait ujian Praktek Lapangan (PKL) Teti Sugiarti, selaku Wadek I fakultas Pertanian mengaku jika dari pihak fakultas sudah berusaha maksimal untuk memberikan pelayanan teknis fakultas seperti surat menyurat, seminar, PKL ataupun Skripsi saat sistem daring, sehingga mahasiswa dan dosen tidak perlu datang ke kampus.
"Fakultas berusaha maksimal memberikan pelayanan, seperti menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) dan alat implementasinya. Sehingga mahasiswa dan dosen tidak perlu ke kampus," pungkasnya dalam pesan WA.
Namun, Arie Wahyu Prananta, selaku dosen pembimbing menjelaskan jika banyak kesulitan yang dialami oleh dosen dalam pelaporan administrasi untuk Fakultas. Hal tersebut dikarenakan bentuk pelaporan tersebut terlalu banyak macam dan ragamnya. Pihaknya juga menilai jika pelaporan administratif tersebut terlalu berbelit-belit.
"Kesulitannya bukan masalah teknis kuliah online dengan medianya, tapi persoalan ketidakseragaman format pelaporan administrasinya buat Fakultas, perubahan itu yang membuat kami mengulang lagi laporan - laporan. Jika memakai Google Form juga terbatas besar kapasitas upload bukti record kuliah onlinenya, walaupun ada kebijakan screen shoot" ujar pria asal Malang tersebut.
Ia berharap jika administrasi dan sistem pelaporannya harus segera diseragamkan agar prosesnya tidak berbelit-belit. Menurutnya, lebih baik jika dapat dibuatkan database sistem yang terintegrasi dengan absen online dan perangkat pembelajaran.
"Yang perlu diperbaiki itu administrasi dan sistem pelaporan, harus seragam dan tidak berbelit-belit. Kan bisa dibuat database system yang terintegrasi dengan absen online dan perangkat pembelajaran," harapnya.
Ia menambahkan jika banyak menerima keluhan dari mahasiswa saat mengerjakan tugas melalui sistem daring sebab fasilitas yang kurang memadai. Oleh karena itu, Ia harus berperilaku bijak dalam menyikapi hal tersebut.
"Banyak sekali, rata-rata yang mengeluh akibat sinyal, tipe ponsel yang masih jadul, dan yang paling banyak mereka pakai untuk buat beli pulsa dan kuota internet," ujarnya.
Rhi mahasiswa prodi Manajemen yang sedang menjalani bimbingan online mengaku jika dalam bimbingan online terdapat miss komunikasi dengan dosen pembimbing.
“Kalau saya kebetulan sudah sempro sebelum sistem online ini berlaku, untuk saat ini masih bimbingan online, ada miss komunikasi dengan dosen pembimbing, tapi saya rasa itu juga bisa dikomunikasikan,” Ujar pria asal Kediri tersebut.
Rhi berharap jika pandemi COVID-19 yang sedang terjadi saat ini semoga segera mereda dan menghilang. Ia juga berharap pada pihak kampus untuk memudahkan sistem administrasi bagi mahasiswanya. (Kur/j2/uya)

