WKUTM
- Upaya pencengahan infeksi Corona Virus Disease (Covid-19) membuat
Dosen Teknologi Industri Pertanian (TIP) Universitas Trunojoyo Madura (UTM), M.
Fuad Fauzul Mu’tamar dan Khoirul Hidayat membuat produk berupa hand
sinitizer dari bahan alami. Produksi dilakukan untuk mengatasi kelangkaan
cairan antiseptik yang ada di pasaran. Meskipun demikian, produk tersebut belum
bisa diproduksi secara massal.
Fuad,
salah satu dosen pembuat produk hand sinitizer tersebut mengungkapkan
bahwa masih diperlukan tahap lolos uji dari Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) agar produk tersebut bisa diproduksi secara massal. Selain itu juga diperlukan
hasil uji laboratorium sampai ke badan yang berwenang.
"Selain
dibutuhkan hasil uji badan berwenang juga butuh legalisasi dari laboratorium
yang bersertifikat KAN (Komite Akreditasi Nasional) agar hasilnya valid,"
ungkapnya.
Selama
penelitian pihaknya mengaku tidak ada kendala, hanya kendala mengenai legalitas
produk jika untuk dipasarkan.
“Kendalanya
legalitas itu saja, tapi sebenarnya yang awal kita lakukan adalah menguji ke
laboratorium yang sudah bersertifikat Komite Akreditasi Nasional (KAN),” imbuhnya.
Meskipun
demikian, perihal dana yang bernilai besar
turut menjadi penghambat dalam proses produksi secara massal.
“Untuk
pendanaan masih belum meminta kebijakan dari UTM, karena emang masih produk
skala laboratorium. Terkait izin pasarannya lumayan butuh pendanaan besar,
kalau kita ingin menguji ke laboratorium yang bersertifikat KAN itu agak
lumayan di atas 10 jutaan, selain itu perizinan di BPOM juga lumayan besar,” tutur
pria kelahiran Jember tersebut.
Fuad
juga menambahkan, pihaknya berencana untuk mengajukan produknya di perusahaan
pemula berbasis inovasi tahun ini, namun belum ada kepastian lebih lanjut
mengenai hal ini. Tentunya selaku dosen
sekaligus peneliti mempunyai kepentingan atau kegiatan lain, tidak hanya fokus
untuk mengurus segala perizinan tersebut.
“Sebenarnya
mau kita ajukan ke calon perusahaan pemula berbasis inovasi nanti, untuk tahun
ini rencananya gitu," paparnya.
Ia
mengungkapkan jika perlunya pemberian apresiasi saat penelitian, karena ia
mengibaratkan apresiasi sebagai amunisi untuk menambah kekuatan dan kepercayaan
diri untuk terus. Adapun ia mengaku jika saat ini belum ada apresiasi khusus dari pihak rektorat.
“Selama
masih disediakan fasilitas tanpa ada apresiasi secara khusus menurut saya sudah
cukup,” ujarnya.
Dari
pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) sendiri
mengungkapkan tidak ada apresiasi apapun terkait penelitian dosen. Namun, saat
penelitian terdapat bantuan dana yang disebut dana hibah yang berasal dari
pemerintah untuk menyalurkan bantuan guna menunjang keperluan penelitian.
“Kami
tidak memberikan apresiasi apapun, kami hanya memberikan dana hibah. Jadi,
kalau ada prodi yang mau melakukan penelitian apapun kami akan bantu melalui
dana hibah yang berasal dari pemerintah,” ungkap Kepala Subbagian LPPM. (Lin/Sur/Wug)
