Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Produk Bio Hand Sinitizer yang Masih Menggantung Perkembangannya

Selasa, 17 Maret 2020 | 07.21.00 WIB Last Updated 2020-03-17T14:21:24Z



WKUTM - Upaya pencengahan infeksi Corona Virus Disease (Covid-19) membuat Dosen Teknologi Industri Pertanian (TIP) Universitas Trunojoyo Madura (UTM), M. Fuad Fauzul Mu’tamar dan Khoirul Hidayat membuat produk berupa hand sinitizer dari bahan alami. Produksi dilakukan untuk mengatasi kelangkaan cairan antiseptik yang ada di pasaran. Meskipun demikian, produk tersebut belum bisa diproduksi secara massal.

Fuad, salah satu dosen pembuat produk hand sinitizer tersebut mengungkapkan bahwa masih diperlukan tahap lolos uji dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) agar produk tersebut bisa diproduksi secara massal. Selain itu juga diperlukan hasil uji laboratorium sampai ke badan yang berwenang.

"Selain dibutuhkan hasil uji badan berwenang juga butuh legalisasi dari laboratorium yang bersertifikat KAN (Komite Akreditasi Nasional) agar hasilnya valid," ungkapnya.

Selama penelitian pihaknya mengaku tidak ada kendala, hanya kendala mengenai legalitas produk jika untuk dipasarkan.

“Kendalanya legalitas itu saja, tapi sebenarnya yang awal kita lakukan adalah menguji ke laboratorium yang sudah bersertifikat Komite Akreditasi Nasional (KAN),” imbuhnya.

Meskipun demikian, perihal dana  yang bernilai besar turut menjadi penghambat dalam proses produksi secara massal.

“Untuk pendanaan masih belum meminta kebijakan dari UTM, karena emang masih produk skala laboratorium. Terkait izin pasarannya lumayan butuh pendanaan besar, kalau kita ingin menguji ke laboratorium yang bersertifikat KAN itu agak lumayan di atas 10 jutaan, selain itu perizinan di BPOM juga lumayan besar,” tutur pria kelahiran Jember tersebut.

Fuad juga menambahkan, pihaknya berencana untuk mengajukan produknya di perusahaan pemula berbasis inovasi tahun ini, namun belum ada kepastian lebih lanjut mengenai hal ini.  Tentunya selaku dosen sekaligus peneliti mempunyai kepentingan atau kegiatan lain, tidak hanya fokus untuk mengurus segala perizinan tersebut.

“Sebenarnya mau kita ajukan ke calon perusahaan pemula berbasis inovasi nanti, untuk tahun ini rencananya gitu," paparnya.

Ia mengungkapkan jika perlunya pemberian apresiasi saat penelitian, karena ia mengibaratkan apresiasi sebagai amunisi untuk menambah kekuatan dan kepercayaan diri untuk terus. Adapun ia mengaku jika saat ini belum ada  apresiasi khusus dari pihak rektorat.

“Selama masih disediakan fasilitas tanpa ada apresiasi secara khusus menurut saya sudah cukup,” ujarnya.

Dari pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) sendiri mengungkapkan tidak ada apresiasi apapun terkait penelitian dosen. Namun, saat penelitian terdapat bantuan dana yang disebut dana hibah yang berasal dari pemerintah untuk menyalurkan bantuan guna menunjang keperluan penelitian.

“Kami tidak memberikan apresiasi apapun, kami hanya memberikan dana hibah. Jadi, kalau ada prodi yang mau melakukan penelitian apapun kami akan bantu melalui dana hibah yang berasal dari pemerintah,” ungkap  Kepala Subbagian LPPM. (Lin/Sur/Wug)


×
Berita Terbaru Update