WKUTM – Pada 16 Maret
lalu, rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengeluarkan
surat edaran terkait pencegahan Corona
Virus Disease (Covid) 19. Adapun salah satu isinya berkaitan dengan
pelaksanaan kuliah secara daring.
Meski demikian,
dalam pelaksanaanya menemui banyak
kendala,
baik dari pihak dosen maupun
mahasiswa. Kendala tersebut ditengarai kurangnya pemanfaatan belum maksimalnya fasilitas
perkuliahan daring.
Kurniati Indahsari, selaku ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran
dan Penjaminan Mutu (LP3MP)
mengatakan bahwa skill perkuliahan online wajib dimiliki semua dosen.
”Pembelajaran berbasis e-learning ini
sudah ada dari dulu. Semua dosen harus sudah menguasai,” ujarnya.
Indah juga menambahkan, pihak LP3MP menghimpun data terakit ini, hasilnya hanya
40% dosen yang menerapkan sistem daring. Untuk mengatasinya,
pihak
LP3MP akan segera mengadakan pelatihan.
”Rencananya kami menargetkan pelatihan pada pertengahan
tahun, namun karena kejadian luar biasa ini, maka akan dipercepat,” Terang
alumni Universitas Brawijaya tersebut.
Pada tahun 2018, LP3MP juga menginisiasi pembentukan platform kuliah.trunojoyo.ac.id. Website besutan Unit
Pelaksana Teknis Teknolgi Informasi dan komunikasi (UPT TIK) ini bertujuan untuk mensuport perkuliahan
berbasis e-learning. Namun sayangnya, website ini masih dalam
tahap pengembangan.
Cholil Amrullah, selaku staff UPT
TIK,
menungkap bahwa perjalanan perkembangan website kuliah.trunojoyo.ac.id masih mengalami banyak
hambatan.
”Kendalanya,
server masih sering eror karena
kita masih menggunakan database dari
pusat,” ungkapnya.
Menurut
Cholil, dalam pembelajaran daring dosen lebih suka menggunakan aplikasi yang bisa
digunakan via smartphone. Selain lebih praktis, juga
dinilai lebih efektif karena bisa langsung mencantumkan nilai.
Hal ini amat disayangkan karena belum dimanfaatkannya fasilitas kampus sebab
itu juga dapat menunjang akreditasi universitas.
Desi Puspita Sari, selaku dosen Sastra Inggris
mengeluhkan bahwa mata kuliah listening
yang diampu tidak bisa dilakukan
secara daring. Akibatnya, harus dilakukan via podcast agar perkuliahan berjalan maksimal.
Emi
Rizta Kusuma, dosen mata kuliah umum Bahasa Indonesia menyinggung terkait learning management system UTM, dalam
pengoperasiannya dirasa masih belum sempurna. Hal itu berdampak pada
pembelajaran yang mengharuskan
menggunakan platform lain.
”Saya
menggunakan grup WhatsApp untuk media
diskusi, karena saya mengajar 15 kelas, sistem ini menjadi efektif,” terangnya.
Emi
juga menambahkan bahwa dalam perkuliahan daring tidak seharusnya dosen memberikan banyak tugas
kepada mahasiswa.
”Yang membuat kegiatan daring tidak efektif itu
kesadaran yang kurang dari mahasiswa dan dosen,” ujarnya.
Risma Findaolivia, mahasiswa
program studi Sastra Inggris mengeluhkan
bahwa kuliah online tidak efektif.
Mahasiswa harus mengunduh berbagai macam aplikasi perkuliahan, belum lagi kalau
jaringan bermasalah. Tidak adanya sistem tatap muka, maka mahasiswa diharuskan
untuk belajar otodidak.
”Beda
dosen beda aplikasi, kalau download
banyak nanti ponselnya tidak kuat,” keluh
mahasiswa asal Sidoarjo tersebut. (Cim/Ham)

