Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kebijakan Kuliah Online Dinilai Kurang Efektif

Jumat, 27 Maret 2020 | 08.57.00 WIB Last Updated 2020-03-27T15:57:28Z



WKUTM Pada 16 Maret lalu,  rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengeluarkan surat edaran terkait pencegahan Corona Virus Disease (Covid) 19. Adapun salah satu isinya berkaitan dengan pelaksanaan kuliah secara daring. Meski demikian, dalam pelaksanaanya menemui banyak kendala, baik dari pihak dosen maupun mahasiswa. Kendala tersebut ditengarai kurangnya pemanfaatan belum maksimalnya  fasilitas perkuliahan daring.



Kurniati Indahsari, selaku ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3MP) mengatakan bahwa skill perkuliahan online wajib dimiliki semua dosen.



”Pembelajaran berbasis e-learning ini sudah ada dari dulu. Semua dosen harus sudah menguasai,” ujarnya.



Indah juga menambahkan, pihak LP3MP menghimpun data terakit ini, hasilnya hanya 40% dosen yang  menerapkan sistem daring. Untuk mengatasinya, pihak LP3MP akan segera mengadakan pelatihan.



Rencananya kami menargetkan pelatihan pada pertengahan tahun, namun karena kejadian luar biasa ini, maka akan dipercepat,” Terang alumni Universitas Brawijaya tersebut.



Pada tahun 2018, LP3MP juga menginisiasi pembentukan platform kuliah.trunojoyo.ac.id. Website besutan Unit Pelaksana Teknis Teknolgi Informasi dan komunikasi (UPT TIK) ini bertujuan untuk mensuport perkuliahan berbasis e-learning. Namun sayangnya, website ini masih dalam tahap pengembangan.



Cholil Amrullah, selaku staff UPT TIK,  menungkap bahwa perjalanan perkembangan website kuliah.trunojoyo.ac.id masih mengalami banyak hambatan.



”Kendalanya, server masih sering eror karena kita masih menggunakan database dari pusat,” ungkapnya.



Menurut Cholil, dalam pembelajaran daring  dosen lebih suka menggunakan aplikasi yang bisa digunakan via smartphone. Selain lebih praktis, juga dinilai lebih efektif karena bisa langsung mencantumkan nilai. Hal ini amat disayangkan karena belum dimanfaatkannya fasilitas kampus sebab itu juga dapat menunjang akreditasi universitas.



Desi Puspita Sari, selaku dosen Sastra Inggris mengeluhkan bahwa mata kuliah listening yang diampu tidak bisa dilakukan secara daring. Akibatnya, harus dilakukan via podcast agar perkuliahan berjalan maksimal.



Emi Rizta Kusuma, dosen mata kuliah umum Bahasa Indonesia menyinggung terkait learning management system UTM, dalam pengoperasiannya dirasa masih belum sempurna. Hal itu berdampak pada pembelajaran yang mengharuskan  menggunakan platform lain.



”Saya menggunakan grup WhatsApp untuk media diskusi, karena saya mengajar 15 kelas, sistem ini menjadi efektif,” terangnya.



Emi juga menambahkan bahwa dalam perkuliahan daring  tidak seharusnya dosen memberikan banyak tugas kepada mahasiswa.



 ”Yang membuat kegiatan daring tidak efektif itu kesadaran yang kurang dari mahasiswa dan dosen,” ujarnya.



Risma Findaolivia, mahasiswa program studi Sastra Inggris mengeluhkan bahwa kuliah online tidak efektif. Mahasiswa harus mengunduh berbagai macam aplikasi perkuliahan, belum lagi kalau jaringan bermasalah. Tidak adanya sistem tatap muka, maka mahasiswa diharuskan untuk belajar otodidak.



”Beda dosen beda aplikasi, kalau download banyak nanti ponselnya tidak  kuat,” keluh mahasiswa asal Sidoarjo tersebut. (Cim/Ham)
×
Berita Terbaru Update