Selama ini
sastra dikenal lekat hanya
sebagai bentuk penuh estetika. Dimana
di dalamnya cenderung membahas sesuatu melankolis, bertele-tele, dan mendayu. Sehingga sastra dianggap sebagai objek yang sebatas layak dinikmati dan dipertontonkan. Padahal fungsi sastra lebih dari
lingkar yang dipersepsikan demikian.
Sastra mempunyai kekuatan yang cukup besar. Banyak sekali karya sastra yang
mampu mengubah pandangan masyarakat dan menggerakkan sehingga menciptakan
sebuah perlawanan. Beberapa
sastrawan yang erat kaitannya dengan perlawanan melalui karyanya seperti Pramoedya Ananta Toer, Widji Thukul. Widji Tukul melalui puisi, pada jaman
orde baru menggandeng para
buruh untuk memperjuangkan haknya.
Sosok Pramoedya
Ananta Toer, membuktikan bagaimana sastra hidup dan berbicara. Dalam perlawanan
ia menggandeng sastra dan menjadikannya sebagai senjata paling ampuh. Digambarkan
semasa hidupnya ia selalu pandai menjatuhkan mental lawan (kolonial Belanda)
dengan tulisan-tulisannya. Idealisme Pram tidak mengenal menyerah dan
takut. Bahkan dalam kutipan karya legendarisnya, Pram mengungkapkan “kita harus melawan
sebaik-baiknya, dan sehormat-hormatnya.”
Berangkat dari hal tersebut, Lembaga
Pers Mahasiswa melalui buletin Kecubung edisi “Sastra Perlawanan” berusaha
menggali kembali perjuangan melalui adanya karya sastra. Tak lupa pula, segenap
jajaran keredaksian buletin kecubung, berterima kasih kepada seluruh
kontributor yang bersedia membagikan
karyanya. Dengan terbitnya buletin kecubung kali ini, diharapkan mampu menghidupkan
kembali geliat dunia sastra sebagai sarana refleksi kehidupan dan perjuangan.
Selamat membaca!

