Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

BULETIN KECUBUNG EDISI XII | MARET 2020 SASTRA PERLAWANAN

Sabtu, 28 Maret 2020 | 13.02.00 WIB Last Updated 2020-03-28T20:02:46Z

Selama ini sastra dikenal lekat hanya sebagai bentuk  penuh estetika. Dimana di dalamnya cenderung membahas sesuatu melankolis, bertele-tele, dan mendayu. Sehingga sastra  dianggap sebagai objek yang sebatas layak dinikmati dan dipertontonkan. Padahal fungsi sastra lebih dari lingkar yang dipersepsikan demikian.


Sastra mempunyai kekuatan yang cukup besar. Banyak sekali karya sastra yang mampu mengubah pandangan masyarakat dan menggerakkan sehingga menciptakan sebuah perlawanan. Beberapa sastrawan yang erat kaitannya dengan perlawanan melalui karyanya seperti Pramoedya Ananta Toer, Widji Thukul. Widji Tukul melalui puisi, pada jaman orde baru menggandeng para buruh untuk memperjuangkan haknya. 


Sosok Pramoedya Ananta Toer, membuktikan bagaimana sastra hidup dan berbicara. Dalam perlawanan ia menggandeng sastra dan menjadikannya sebagai senjata paling ampuh. Digambarkan semasa hidupnya ia selalu pandai menjatuhkan mental lawan (kolonial Belanda) dengan tulisan-tulisannya.  Idealisme Pram tidak mengenal menyerah dan takut. Bahkan dalam kutipan karya legendarisnya, Pram mengungkapkan “kita harus melawan sebaik-baiknya, dan sehormat-hormatnya.” 


Berangkat dari hal tersebut, Lembaga Pers Mahasiswa melalui buletin Kecubung edisi “Sastra Perlawanan” berusaha menggali kembali perjuangan melalui adanya karya sastra. Tak lupa pula, segenap jajaran keredaksian buletin kecubung, berterima kasih kepada seluruh kontributor  yang bersedia membagikan karyanya. Dengan terbitnya buletin kecubung kali ini, diharapkan mampu menghidupkan kembali geliat dunia sastra sebagai sarana refleksi kehidupan dan perjuangan.

Selamat membaca!


×
Berita Terbaru Update