| Pelaksanaan Pemilihan Umum Mahasiswa UTM. Foto : Maa |
WKUTM – Pemilihan
presiden dan wakil presiden mahasiswa periode 2019-2020 telah berlangsung hari
ini, Selasa (19/11). Pemilihan ini diikuti oleh dua kandidat, Ainur Rizky –
Nisa Desiana sebagai kandidat nomor urut satu dan Khairul Amin – Najib Mutamam
sebagai kandidat nomor dua.
Pihak Komisi
Pemilihan Umum Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura
(KPUM-KM UTM)menyediakan empat Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan pembagian
seperti berikut; Fakultas Hukum(FH) –
Fakultas Keislaman (FKIS), Fakultas Pertanian – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya
(FISIB), Fakultas Teknik (FT) – Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), dan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis (FEB) satu TPS.
Salah satu
panitia di TPS FIP – FT, Ahmad Nur Fahri, memaparkan bahwa syarat untuk mengikuti
pencoblosan adalah membawa Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) atau kartu perpustakaan.
Lebih lanjut Fahri mengatakan bagi mahasiswa baru yang belum memiliki KTM bisa
melampirkan Kartu Rencana Studi dengan menambahkan identitas lain seperti kartu
pelajar, Kartu Tanda Penduduk atau Surat Izin Mengemudi.
Fahri juga
menuturkan bahwa, mahasiswa yang
mendatangi TPS tergolong banyak, yaitu sekitar 500 mahasiswa. Lebih
lanjut menurutnya partisipan yang mendominasi TPS yaitu dari mahasiswa FIP.
”Lumayan banyak,
terutama dari FIP yang mana salah satu
calon presma sendiri adalah mahasiswa
pendidikan,” ungkap mahasiswa asal Bangkalan tersebut.
Hal berbeda diungkapkan
oleh panitia TPS FEB, Hanifan. Pihaknya mengungkapkan minimnya partisipan dan tertib administrasi
mahasiswa yang hendak mencoblos. Lebih dari 700 mahasiswa belum bisa dikatakan
baik. Hafinan juga menyoroti kuota mahasiswa baru yang meningkat tiap tahun,
namun untuk urusan mencoblos masih kurang. Bahkan pihaknya mengatakan
partisipan selalu turun setiap tahunnya.
Selain itu, pihaknya juga memaparkan kemungkinan
terjadinya margin error. Kendati demikian
setiap koordinator sudah mengantisipasi dengan akumulasi jika Daftar Pemilih
Tetap (DPT) tidak melebihi 10 suara maka tidak dilakukan pemilihan ulang. Lebih
lanjut ketika ditanya perihal kendala Hafinan berdalih tidak ada, namun sebatas
minimnya partisipan saja yang harus dikaji agar tidak terulang pada periode
selanjutnya.
”Sampai saat ini
tidak ada kendala, tapi terkait minimnya
partisipan dari mahasiswa entah itu salahnya panitia yang kurang sosialisasi atau
dari mahasiswanya sendiri,” ungkapnya.
Kendala lain
seperti adanya indikasi kecurangan, panitia dari TPS FH – FKIS, Sofyan,
mengatakan akan memperketat pada DPT dan KPUM sendiri. Sofyan juga menambahkan
bahwa rekapitulasi suara akan telat karena waktu pencoblosan sempat molor dari jadwal sebelumnya.
”Awalnya itu
mulai dari pukul delapan pagi sampai tiga sore, berhubung tadi sempat apel
akhirnya jadwa berubah, yaitu mulai dari jam sembilan sampai empat sore,”
terangnya.
Mahasiswa prodi
Pendidikan IPA yang ikut mencoblos, Putri Ayu Hasanah, berharap siapapun nanti
yang terpilih menjadi pasangan resmi presiden dan wakil presiden mahasiswa
mampu amanah dan mendengar aspirasi dari mahasiswa. ”Ya saya berharap siapapun
yang terpilih semoga bisa mengemban amanah dan mau menampung aspirasi setiap
mahasiswa,” harap mahasiswa asal Mojokerto tersebut. (Ham/Tim/Wuk)
