Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Buat Apa Memilih Presiden Mahasiswa di UTM?

Senin, 18 November 2019 | 12.31.00 WIB Last Updated 2019-11-18T20:36:41Z



Rangkaian pemilihan umum presiden dan wakil presiden mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) periode 2019 – 2020 hampir usai. Debat kandidat yang membosankan seperti biasanya juga selesai dengan hening. Sekarang tiba saatnya, bagaimana massa kampanye atau jauh sebelumnya untuk mengetahui seberapa berhasil tim kandidat memperoleh suara – baik dari serumpun, teman dekat, atau bahkan orang yang tiba-tiba dekat.

Berdasarkan pantauan di lapangan saat debat kandidat (14/11) sepi, bahkan dari kepanitiaan dan badan kelengkapan terkait lebih banyak daripada mahasiswa biasa yang seharusnya menjadi sasaran utama dalam acara tersebut. Hal ini juga dibenarkan oleh ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM), Moh. Bakir. Walaupun pihak KPUM melakukan siaran langsung di Instagram resmi mereka, namun masih sangat jauh menyentuh target minimal mahasiswa yang berpartisipasi dalam hal ini.
Anggota LPM Spirit Mahasiswa mencoba mewawancarai salah satu peserta yang  mengikuti debat dari awal sampai akhir, Abdullah. Mahasiswa asal Blega tersebut menganggap ada hal janggal dalam proses kemarin. Pasalnya, ketika debat seharusnya melihat seberapa jauh gagasan, kompetensi, dan wibawa setiap kandidat sangat sepi, namun ketika pemilihan berlangsung ramai. Lalu, atas dasar apa pemilih menggunakan hak sah suara mereka? Tentu, ada yang tidak beres.

Kendati demikian, terdapat kejenuhan kebanyakan mahasiswa di UTM terhadap pemilihan umum mahasiswa. Stigma negatif pada peran pihak luar dalam urusan mengusung kandidat melatarbelakangi untuk tidak berharap pada siapapun yang jadi nantinya. Selain itu kami mencatat bahwa, kampus pernah dihebohkan dengan serangan tulisan yang ditempel ditembok-tembok kampus, intinya agar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), dan Mahkamah Umum Mahasiswa (MKM) dibubarkan.

Lebih jauh teror pembubaran badan kelengkapan tersebut bukan tanpa sebab mendasar, yang jelas hal itu dilakukan oleh mereka yang kurang memiliki peran dalam badan kelengkapan kampus. Kala itu, bahasa ’mereka’ yang mengikuti rapat, menganggap bahwa badan kelengkapan menjadi ladang pertarungan kader-kader pihak luar. Terdengar tabu, namun secara realitas tidak dapat dibantah.

Seperti yang dikatakan oleh calon presiden mahasiswa (presma) nomor urut 02, Khairul Amin, pihaknya menganggap bahwa pembahasan organisasi eksternal kampus merupakan pembahasan yang kurang relevan dibicarakan dalam forum internal. Memang benar, karena sampai sekarang rektor UTM belum berpendapat tentang urgensi bahwa harus membuka Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang anggotanya berisi dari beberapa organisasi eksternal yang ada. Namun, mari berbicara sesuai faktanya, ketika Imam Nahrawi masih menjabat Menpora dan Mahfud MD sebelum menjadi menteri Hukum dan HAM – pernah mereka diundang ke UTM untuk mengisi materi, ada saja masalah yang timbul waktu itu. Jelasnya adalah perihal penggunaan atribut organisasi eksternal di dalam kampus. Lebih jauh waktu itu Zahid sebagai presma, dan Halimi sebagai ketua DPM.

Ada sebuah teori, jika ada kejadian yang memiliki kesamaan pola berarti sudah direncakan sebelumnya, bukan suatu kebetulan. Misalnya seperti ini, dari presma, ketua DPM dan MKM, memiliki kesamaan latar belakang. Dalam hal ini ada dua kemungkinan – pertama, memang berkompeten dalam bidangnya, sedangkan sebab kedua yakni nepotisme yang telah direncanakan dengan matang.

Syahdan, dalam slogan ”Pemimpin Baru Harapan Baru” yang diusung oleh KPUM seolah menjadi klise nan utopis belaka. Pasalnya, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah harapan itu akan selalu lebih indah, sulit untuk kenyataannya. Hemat saya ketika mengamati debat kandidat kemarin dari awal sampai akhir, nampaknya kedua calon belum menjamah masalah mendasar dari mahasiswa di UTM. Selain itu jawaban yang mereka lontarkan atas pertanyaan panelis terkesan diplomatis.

Syahdan, kembali pada dua kandidat periode sekarang – saya sempat wawancara secara khusus dengan tiap calon presma. Walaupun dari pihak 01 terkesan menghindar, sampai detik ini belum memberikan konfirmasi kesiapan untuk diwawancara. Padahal baik bagi 01 ataupun 02 tersedia pertanyaan yang sama, yaitu perihal literasi, harmonisasi organisasi mahasiswa intra kampus, isu lokalitas, dan bayang-bayang pengaruh pihak luar dalam intra kampus.

Perihal pertanyaan yang hendak dilemparkan kepada setiap kandidat bukan tanpa alasan tertentu. Jelasnya kami menyoroti perihal literasi dan sinergitas organisasi mahasiswa intra kampus itu penting – pasalnya, pihak perpustakaan dengan segala upaya telah dilakukan agar pembaca tidak sebatas yang hendak skripsian saja, namun masih jauh dari ekspetasi. Persoalan sinergitas, elemen-elemen kecil penunjang kemajuan kampus, seperti UKM, sering tidak selaras yang disebabkan banyak hal. Logikanya, jika elemen kecil tadi saling percaya satu sama lain, khususnya mulai dari badan kelengkapan, maka untuk menciptakan prestasi dan ada tujuan bersama tidak sulit untuk diwujudkan. Namun, baik dari pemaparan kubu 01 ketika debat, dan hasil wawancara khusus dengan 02, secara subjektif solusi yang mereka tawarkan tidak meyakinkan. Bagi anda yang tidak menonton debat, harap tidak protes, dari kubu manapun anda condong.

Saya yakin tidak sedikit dari pembaca yang sakit hati karena fakta-fakta yang saya paparkan. Perihal itu, saya tegaskan ini hanya opini dari penulis. Dan jika ada benarnya, apa salahnya untuk kita membenahi yang sudah-sudah. Selain itu, sedikit dari pikiran saya adanya sosok presiden dan wakil presiden mahasiswa masih perlu, karena ini adalah simbolik di beberapa kampus.

Terkait harapan, saya pribadi tetap memiliki karena hal ini adalah perkara yang tidak bisa direnggut oleh siapapun. Sederhana saja harapan saya, untuk siapapun nantinya yang terpilih secara sah menjadi presiden dan wakil presiden mahasiswa UTM, buktikan dalam program-program ke depannya jika asumsi saya salah. Walaupun seperti itu, sejujurnya kami tetap menaruh harap pada kedua belah pihak, urusan yang menyangkut  tiap individu bukan masalah, karena ini menyangkut masa depan mahasiswa universitas yang terus merangkak lebih baik.

Terakhir, pesan untuk pembaca yang budiman, semoga kita tidak terjebak dalam fase simbolik. Fase dimana menganggap bahwa perubahan akan lahir dari pemimpin, harap sudahi pikiran kuno itu. Perubahan yang tercetus dari pimpinan sifatnya lemah, sedangkan perubahan-perubahan kecil yang dimulai dari setiap individu kekuatannya sulit untuk dibendung. Mau bagaimanapun selalu tanamkan niat baik, dengan cara apik menurut kalian masing-masing, dan semoga siapapun nanti yang terpilih mampu menjadi jembatan antara pihak mahasiswa dengan rektorium. Panjang umur niat baik, salam.
                                                                                                                                Birar Dzillul Ilah


×
Berita Terbaru Update