Rangkaian pemilihan umum presiden dan wakil
presiden mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) periode 2019 – 2020 hampir
usai. Debat kandidat yang membosankan seperti biasanya juga selesai
dengan hening. Sekarang tiba saatnya, bagaimana massa kampanye atau jauh
sebelumnya untuk mengetahui seberapa berhasil tim kandidat memperoleh suara – baik dari
serumpun, teman dekat, atau bahkan orang yang tiba-tiba dekat.
Berdasarkan pantauan di lapangan saat
debat kandidat (14/11) sepi, bahkan dari kepanitiaan dan badan kelengkapan
terkait lebih banyak daripada mahasiswa biasa yang seharusnya menjadi sasaran
utama dalam acara tersebut. Hal ini juga dibenarkan oleh ketua Komisi Pemilihan
Umum Mahasiswa (KPUM), Moh. Bakir. Walaupun pihak KPUM melakukan siaran
langsung di Instagram resmi mereka, namun masih sangat jauh menyentuh target
minimal mahasiswa yang berpartisipasi dalam hal ini.
Anggota LPM Spirit Mahasiswa mencoba
mewawancarai salah satu peserta yang mengikuti
debat dari awal sampai akhir, Abdullah. Mahasiswa asal Blega tersebut
menganggap ada hal janggal dalam proses kemarin. Pasalnya, ketika debat seharusnya
melihat seberapa jauh gagasan, kompetensi, dan wibawa setiap kandidat sangat
sepi, namun ketika pemilihan berlangsung ramai. Lalu, atas dasar apa pemilih
menggunakan hak sah suara mereka? Tentu, ada yang tidak beres.
Kendati demikian, terdapat kejenuhan kebanyakan
mahasiswa di UTM terhadap pemilihan umum mahasiswa. Stigma negatif pada peran
pihak luar dalam urusan mengusung kandidat melatarbelakangi untuk tidak
berharap pada siapapun yang jadi nantinya. Selain itu kami mencatat bahwa,
kampus pernah dihebohkan dengan serangan tulisan yang ditempel ditembok-tembok
kampus, intinya agar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan
Mahasiswa (DPM), dan Mahkamah Umum Mahasiswa (MKM) dibubarkan.
Lebih jauh teror pembubaran badan kelengkapan
tersebut bukan tanpa sebab mendasar, yang jelas hal itu dilakukan oleh mereka
yang kurang memiliki peran dalam badan kelengkapan kampus. Kala itu, bahasa ’mereka’
yang mengikuti rapat, menganggap bahwa badan kelengkapan menjadi ladang pertarungan
kader-kader pihak luar. Terdengar tabu, namun secara realitas tidak dapat
dibantah.
Seperti yang dikatakan oleh calon presiden
mahasiswa (presma) nomor urut 02, Khairul Amin, pihaknya menganggap bahwa
pembahasan organisasi eksternal kampus merupakan pembahasan yang kurang relevan
dibicarakan dalam forum internal. Memang benar, karena sampai sekarang rektor
UTM belum berpendapat tentang urgensi bahwa harus membuka Unit Kegiatan
Mahasiswa (UKM) yang anggotanya berisi dari beberapa organisasi eksternal yang
ada. Namun, mari berbicara sesuai faktanya, ketika Imam Nahrawi masih menjabat
Menpora dan Mahfud MD sebelum menjadi menteri Hukum dan HAM – pernah mereka
diundang ke UTM untuk mengisi materi, ada saja masalah yang timbul waktu itu. Jelasnya
adalah perihal penggunaan atribut organisasi eksternal di dalam kampus. Lebih jauh
waktu itu Zahid sebagai presma, dan Halimi sebagai ketua DPM.
Ada sebuah teori, jika ada kejadian yang
memiliki kesamaan pola berarti sudah direncakan sebelumnya, bukan suatu
kebetulan. Misalnya seperti ini, dari presma, ketua DPM dan MKM, memiliki
kesamaan latar belakang. Dalam hal ini ada dua kemungkinan – pertama, memang
berkompeten dalam bidangnya, sedangkan sebab kedua yakni nepotisme yang telah
direncanakan dengan matang.
Syahdan, dalam slogan ”Pemimpin Baru Harapan
Baru” yang diusung oleh KPUM seolah menjadi klise nan utopis belaka. Pasalnya,
berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah harapan itu akan selalu lebih indah,
sulit untuk kenyataannya. Hemat saya ketika mengamati debat kandidat kemarin
dari awal sampai akhir, nampaknya kedua calon belum menjamah masalah mendasar
dari mahasiswa di UTM. Selain itu jawaban yang mereka lontarkan atas pertanyaan
panelis terkesan diplomatis.
Syahdan, kembali pada dua kandidat periode
sekarang – saya sempat wawancara secara khusus dengan tiap calon presma. Walaupun
dari pihak 01 terkesan menghindar, sampai detik ini belum memberikan konfirmasi
kesiapan untuk diwawancara. Padahal baik bagi 01 ataupun 02 tersedia pertanyaan
yang sama, yaitu perihal literasi, harmonisasi organisasi mahasiswa intra
kampus, isu lokalitas, dan bayang-bayang pengaruh pihak luar dalam intra
kampus.
Perihal pertanyaan yang hendak dilemparkan
kepada setiap kandidat bukan tanpa alasan tertentu. Jelasnya kami menyoroti
perihal literasi dan sinergitas organisasi mahasiswa intra kampus itu penting –
pasalnya, pihak perpustakaan dengan segala upaya telah dilakukan agar pembaca
tidak sebatas yang hendak skripsian saja, namun masih jauh dari ekspetasi. Persoalan
sinergitas, elemen-elemen kecil penunjang kemajuan kampus, seperti UKM, sering
tidak selaras yang disebabkan banyak hal. Logikanya, jika elemen kecil tadi
saling percaya satu sama lain, khususnya mulai dari badan kelengkapan, maka
untuk menciptakan prestasi dan ada tujuan bersama tidak sulit untuk diwujudkan.
Namun, baik dari pemaparan kubu 01 ketika debat, dan hasil wawancara khusus
dengan 02, secara subjektif solusi yang mereka tawarkan tidak meyakinkan. Bagi anda
yang tidak menonton debat, harap tidak protes, dari kubu manapun anda condong.
Saya yakin tidak sedikit dari pembaca yang
sakit hati karena fakta-fakta yang saya paparkan. Perihal itu, saya tegaskan
ini hanya opini dari penulis. Dan jika ada benarnya, apa salahnya untuk kita
membenahi yang sudah-sudah. Selain itu, sedikit dari pikiran saya adanya sosok
presiden dan wakil presiden mahasiswa masih perlu, karena ini adalah simbolik
di beberapa kampus.
Terkait harapan, saya pribadi tetap memiliki
karena hal ini adalah perkara yang tidak bisa direnggut oleh siapapun. Sederhana
saja harapan saya, untuk siapapun nantinya yang terpilih secara sah menjadi
presiden dan wakil presiden mahasiswa UTM, buktikan dalam program-program ke depannya
jika asumsi saya salah. Walaupun seperti itu, sejujurnya kami tetap menaruh
harap pada kedua belah pihak, urusan yang menyangkut tiap individu bukan masalah, karena ini
menyangkut masa depan mahasiswa universitas yang terus merangkak lebih baik.
Terakhir, pesan untuk pembaca yang budiman,
semoga kita tidak terjebak dalam fase simbolik. Fase dimana menganggap bahwa
perubahan akan lahir dari pemimpin, harap sudahi pikiran kuno itu. Perubahan yang
tercetus dari pimpinan sifatnya lemah, sedangkan perubahan-perubahan kecil yang
dimulai dari setiap individu kekuatannya sulit untuk dibendung. Mau bagaimanapun
selalu tanamkan niat baik, dengan cara apik menurut kalian masing-masing, dan
semoga siapapun nanti yang terpilih mampu menjadi jembatan antara pihak
mahasiswa dengan rektorium. Panjang umur niat baik, salam.
Birar Dzillul Ilah

