Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Diam Saja, Jangan Penasaran Seperti Asri

Minggu, 21 Juni 2026 | 18.54.00 WIB Last Updated 2026-06-22T01:57:04Z

Srekk …

Belum lima menit kertas ke sekian telah dirobek. Seperti merasa kurang jika hanya menyobek, kertas yang berisi coretan asal itu kemudian diremas-remas dan dibuang dengan penuh rasa kesal. Barangkali juga belum lega, tangannya kini menjambak helai-helai panjang surai di kepala. 

Di antara cahaya lampu berpendar suram, perempuan itu kini membenturkan kepalanya berkali-kali ke meja. Suasana yang senyap menambah kesan terpuruk yang amat kepadanya. Tanpa seorang pun kawan, dia terlihat menyedihkan di depan meja panjang yang mukanya tertutup kertas berserakan. 

Duk …
Duk …
Duk …

"Heh kau kenapa Ri?!" 

Sebuah tangan akhirnya menahan kepala nya memukul muka meja. Perempuan itu menoleh untuk melihat si pemilik tangan. Dengan sorot mata merah yang memancarkan raut wajah lelah dan kesal, dia melihat seorang kawan memandangnya penuh cemas. 

Mereka saling diam tanpa bersua. Hanya sorot mata yang saling beradu, seolah semua kata sudah mampu terbaca lewatnya. 

***

Namanya Asri. Ia seorang mahasiswi tingkat akhir yang penuh rasa penasaran oleh banyak hal. Menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tinggi ternyata tidak selalu membawanya pada kebaikan. Beberapa kali dia tersandung masalah karena memenuhi hasratnya itu. Namun meski demikian, dia bukan tipikal manusia yang akan menyerah di tengah jalan. 

Kejadian hari ini merupakan satu dari sekian masalah yang timbul akibat keingintahuannya. 

Tadi pagi, seorang dosen datang menemuinya, dosen itu mengatakan bahwa ia terancam dikeluarkan dari kampus. Asri yang ketakutan seketika ingin meminta maaf atas kesalahan yang sudah dia perbuat. Namun dosen itu mengatakan bahwa ribuan maaf tidak akan menyelesaikan masalah.

"Kau tahu apa yang kulakukan?" temannya menggeleng. Sejak menemukan Asri dalam keadaan buruk, temannya memutuskan membawa Asri pergi mengelilingi kota. Tujuannya sederhana, untuk mengurangi keresahan yang sedang Asri rasakan.

"Pasti kau sedang membuat kesalahan."

Asri memukul punggungnya, "Kau ini temanku atau bukan sih, seharusnya kau membelaku."

"Tentu saja temanmu, kalau tidak sudah kubiarkan dahimu tadi pecah membentur meja." Mendengar itu Asri mengumpat dalam hati.

Motor terus melaju pelan memecah keramaian. Ditemani hembusan angin yang menyegarkan, semua gelisah yang dirasakah Asri di kepala perlahan menguap bersamaan dengan umpatan yang ia lontarkan untuk sahabatnya.

***

"Tuh kan aku bilang juga apa, seharusnya kita mengisi bensin terlebih dahulu tadi!" Asri merasa kesal ketika sepeda yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti di tengah jalan. 

"Sudahlah, daripada sibuk marah-marah lebih baik kau cari toko yang masih buka dan menyediakan bensin eceran."

Asri menghentak kakinya dengan keras ke jalan aspal. Kesal yang semula sedikit berkurang kini bermunculan dalam bentuk berbeda. Suasana jalan yang sepi dengan gelap menyertai membuat perasaan janggal muncul tersendiri baginya.

"Siapa juga yang mau buka toko tengah malam seperti ini. Daerah ini pinggiran kota, daerah rawa-rawa."

"Ya sudah kalau begitu, mungkin tiga sampai empat kilometer ke depan kita sudah masuk daerah yang ramai dan bisa dapat bensin."

Angin yang tadi menyejukkan sudah semakin dingin menusuk tulang. Daerah rawa ini memiliki lampu, namun jaraknya saling berjauhan sehingga mengaburkan jarak pandang. Menghadapi kondisi yang sunyi senyap seperti ini membuat Asri semakin was-was. Sambil tak berhentinya mengomel meratapi keadaan, Asri teringat tentang cerita yang tadi belum sempat ia ceritakan. 

"Oh ya kuteruskan cerita yang tadi." Ucapnya yang tiba-tiba antusias.

Demi mendengar ungkapan itu temannya hanya mengangguk. Dia kenal Asri, sangat mengenalnya, sehingga menghadapi perasaannya yang cepat berganti seperti ini bukan lagi hal yang mengejutkan.

Asri memulai cerita dari kejadian seminggu sebelumnya ketika dia dengan senang hati mendatangi seorang dosen yang terlihat lelah dan marah di ruang depan administrasi kampus. Hari itu dia datang ke sana untuk menyelesaikan urusan pembayaran sebagai salah satu syarat penyelesaian tugas akhirnya. 

Asri mendatangi dosen tersebut dan mereka terlibat perbincangan ringan yang berkelanjutan. Dosen yang tadinya terlihat suram itu seperti menemukan tempat untuk memuntahkan kekesalannya atas administrasi kampus. Dia mengeluhkan mengenai keuangan kampus yang sulit digunakan untuk kepentingan genting. Dia juga membeberkan dugaan penyelewengan alokasi dana oleh oknum tertentu.

Dari dosen itu Asri jadi penasaran. Rasa ingin tahunya memuncak, lalu ia mencari tahu kebenarannya sendiri. Selama ini ia memang abai terhadap keuangan kampus. Sebagai seorang mahasiswa yang hidupnya disokong penuh oleh orang tua, dia tidak pernah ambil pusing atas semua biaya pokok atau pun tambahan yang diminta pihak kampus.

Berangkat dari informasi minim tentang dugaan penyelewengan dana yang disampaikan secara tidak langsung oleh dosen tersebut, Asri mulai melakukan validasi dengan pihak-pihak terkait alokasi dana kampus.
 
Ketika proses pencarian yang tak kunjung usai, dia menemukan jalan buntu. Sudah tidak ada seorang pun yang bisa ditanyainya lebih lanjut. Apalagi pertanyaan yang Asri ajukan terbilang sensitif. Namun seolah semesta mendukung pencariannya, dia mendengar kabar burung mengenai sekelompok mahasiswa yang berencana melakukan aksi unjuk rasa transparansi alokasi dana kampus. 

Mengantongi sedikit informasi dari hasil investigasi beberapa hari sebelumnya, Asri akhirnya terbawa arus ikut dalam aksi demonstrasi tersebut. 

"Aku sebenarnya tidak ikut-ikutan aksi anarkis asal kau tau, aku hanya demonstran fomo yang kebetulan memiliki tujuan sama seperti mereka. Tapi ternyata nasib berkata lain."

Asri ikut terangkut satpam yang menghalau demonstrasi di depan gedung utama. Meskipun berkelit dan mencoba kabur dia tetap digelandang oleh satpam, bersamaan dengan beberapa orator aksi lain yang tampil di muka masa. 

Ketika proses audiensi, atau lebih tepat sidang mahasiswa tersangka aksi anarkisme, peristiwa unjuk rasa diusut tuntas hingga pihak-pihak pionir dikantongi namanya. 

"Sialan memang, aku tidak pernah terlibat urusan semacam ini. Sekalinya terlibat aku justru masuk terduga oknum-oknum yang memicu terselenggaranya aksi. Mereka itu juga bodoh sekali, bisa-bisanya begitu saja menyebutkan informan-informan terkait.”

***

Malam itu mereka habiskan dengan terus menuntun sepeda hingga mencapai keramaian jalan raya. Masih dengan dingin dan gelap, mereka akhirnya mencapai tepian keramaian kota.

"Ayo buruan naik" Asri menatap temannya sangsi. 

Brumm …

Asri terkejut saat gas tiba-tiba ditarik. "Ternyata kau juga sialan."

Sekali lagi Asri memukul punggung temannya yang hanya tertawa ringan. 

Di antara dinginnya udara gelap pagi yang semakin mencekam, Asri sudah merasa dirinya diselimuti kehangatan. Meskipun ancaman DO masih menghantuinya, setidaknya dia tahu bahwa ada seorang teman yang selalu ada untuknya. 

"Menurutmu apa aku harus tetap menulis dan menandatangani perjanjian konyol yang mereka tuntutkan?" sekali lagi Asri memastikan keputusan seperti apa yang harus diambilnya esok hari. 

Setenang apa pun dirinya, memutuskan hal yang krusial selalu membutuhkan pihak ketiga yang mampu memberi saran paling objektif. Dia meyakini temannya ini mampu memberikan pertimbangan yang diperlukan. 

"Tentu saja, kenapa tidak."

"Tapi aku kepalang jengkel dengan mereka. Kau tahu aku bukan tipikal orang yang suka membangkang, tapi kau juga pasti lebih tahu bahwa aku orang yang mengutuki kebohongan."

Dia memelankan laju motornya, memberi jeda pada cerita yang rumpang di beberapa bagiannya.
"Memangnya apa isi perjanjian itu?"

"Jadi sebenarnya aku sudah mengetahui garis besar aliran dana kampus kita, lebih tepatnya aku dan beberapa orang tertahan kemarin sama-sama mengetahuinya."

Kecepatan motor yang melambat memberi Asri jeda untuk merangkai kata dengan suara pelan-pelan. Asri juga merasa harus memilih penggunaan kata yang paling tepat.

Di bawah bulan malam yang sedang cerah-cerahnya. Diiringi hembusan angin yang makin dingin, Asri merapatkan tubuhnya ke temannya. Selain supaya temannya mampu mendengar ucapannya, juga untuk menjaga rasa hangat agar tidak menguap.

Dia berkata sambil berbisik, seolah khawatir ada telinga yang mencuri dengar atas tiap ucapannya. 

"Ketika audiensi tertutup kemarin kami mendesak mereka mengakui banyak hal. Memang mereka mengakuinya, meski tidak semua. Namun karena kami hanya membawa data seadanya, kami tidak bisa memaksa mereka memberi pengakuan lebih lanjut. Mengetahui bahwa kami kehabisan amunisi, mereka pergi meninggalkan kami begitu saja. Hanya satu pesan mereka. Tunggu saja informasi selanjutnya.”

“Lalu?”

“Pagi hari tadi, mahasiswa-mahasiswa yang kemarin bersamaku dalam audiensi didatangi orang-orang yang memberikan informasi terkait penyelewengan dana. Aku didatangi salah satu dosen. Dia bilang tentang surat perjanjian yang intinya menyuruh kami diam.”

Terdapat jeda sejenak, hanya suara sepeda yang memecah kesunyian. Sambil merangkai-rangkai susunan kata yang tepat untuk menggambarkan keluh kesahnya, Asri mulai berbicara lagi.

“Kami disuruh tutup mulut dengan imbalan kebebasan biaya kampus sampai lulus. Sebagai konsekuensinya, kalau kami sedikit saja membocorkan informasi yang kami pegang maka kami akan dikeluarkan begitu saja dari kampus. Untuk mahasiswa akhir sepertiku yang sudah sampai di ujung perjalanan kampus, kami dibebaskan dari tugas akhir. Konsekuensi yang kami terima sama.”

“Wow!”

Asri hanya menghela napas lelah. Menunggu temannya memberikan tanggapan berikutnya selain keterkejutan itu.

“Kalau aku jadi kau, sudah tentu langsung kutandatangani perjanjian itu, kapan lagi bisa lulus kuliah tanpa tugas akhir!” 

Asri terdiam mendengar jawaban temannya, dalam hati ia bergumam, ternyata percuma aku mencurahkan keresahan hatiku padamu. 



×
Berita Terbaru Update