Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Di Balik Klinik Pratama UTM

Minggu, 09 Maret 2025 | 23.39.00 WIB Last Updated 2025-03-10T06:39:53Z
31 Desember 2024, sekitar dua bulan lalu, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengadakan soft launching Klinik Pratama. Peresmian itu, menarik perhatian kami sebagai kru Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa (LPM-SM). Meski tampak seperti kabar membahagiakan, tetapi masih terdapat berbagai keraguan di benak kami.

Keraguan tersebut berupa pembangunan klinik yang baru kelar, fasilitas masih tampak minim, hingga tumpang tindih dengan pernyataan Rektor UTM, Safi’ pada November 2024 yang berbunyi paling lambat Januari 2025 Fakultas Kedokteran (FK) telah resmi. Realitanya, hanya klinik Pratama saja yang sudah diresmikan.

Berangkat dari pertimbangan itu, saya ditugaskan menggali lebih dalam terkait peresmian ini. Ada berbagai pihak yang saya minta keterangannya, baik ketua maupun anggota Satuan Tugas (Satgas) pendirian FK, penanggung jawab klinik, hingga Rektor.

Sayangnya, hanya penanggung jawab klinik saja yang berkenan memberi tanggapan, sisanya tidak menanggapi atau berdalih sedang sibuk.

Rupanya, Klinik Pratama UTM beroperasi hanya bermodalkan izin operasional yang telah dikantongi sejak November 2024, serta tiga dokter saja. Dengan dua dokter di antaranya masih belum mengantongi Surat Izin Praktik (SIP) Tenaga Kesehatan (nakes). Serta peralatan yang belum lengkap. Sehingga belum dapat dibuka untuk umum.

Peresmian itu seakan uji coba belaka, karena belum memenuhi kriteria dan hanya dibuka untuk civitas academica UTM dengan tarif gratis untuk sementara. Laporan terkait klinik pratama ini kemudian saya terbitkan dengan judul “UTM Targetkan Buka Akses Pelayanan Klinik Pratama untuk Umum Tahun Ini” pada Januari lalu.

Tak berhenti di situ, muncul rasa penasaran untuk mencicipi klinik yang masih ala kadarnya itu. Kebetulan saya bersama salah satu rekan LPM-SM mengalami sakit gigi. Akhirnya kami menawarkan diri sebagai “kelinci percobaan” dengan daftar pemeriksaan gigi pada tanggal 18 bulan lalu, Februari.
Sekitar pukul 12.00 WIB kami melalui serangkaian pengecekan seperti tekanan darah, berat badan, tinggi badan, dan lain sebagainya. Kami disuruh untuk datang kembali pukul 15.00 WIB, karena dokter gigi belum datang. Mendengar itu kami pun kembali pulang.

Saat pukul 15.00 WIB kami kembali ke klinik untuk diperiksa. Di dalam ruangan itu ternyata telah tersedia berbagai peralatan, termasuk untuk mengecek gigi. Tidak seperti saat peresmian yang masih minim peralatan. Pelayanan yang dilakukan pun cukup baik, cepat serta gratis tanpa dipungut biaya, bahkan untuk obatnya sekali pun. Namun sayangnya klinik ini tidak beroperasi 24 jam, hanya buka di saat jam kerja saja.

Dapat ditelusuri, dalam perjalanan pendirian klinik pratama memang tidaklah mudah, sehingga dapat beroperasi di waktu jam kerja kampus sudah dapat dikatakan baik. Pihak klinik pun sempat merencanakan kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang menandakan meski jauh dari kata sempurna, klinik pratama memiliki tujuan agar dapat dikenal oleh masyarakat luar. Nantinya saat dibuka untuk umum, pelayanan akan dikenakan tarif baik bagi civitas academica maupun umum.

Meski begitu, muncul satu pertanyaan, bagaimana nasib klinik pratama natinya bila rumah sakit Fakultas Kedokteran (FK) telah beroperasi. Dengan jarak yang berdekatan, dan fasilitas yang akan jauh lebih memadai dapat membuat calon pasien lebih condong datang ke rumah sakit FK. Meskipun belum ada kejelasan kapan rumah sakit tersebut dibangun, hal itu tentu memengaruhi operasional klinik pratama.

Pertanyaan itu sempat dinyatakan pada petugas klinik , dengan mimik wajah yakin mereka berkata akan terus beroperasi meskipun rumah sakit FK nanti turut beroperasi. Semoga benar begitu. (nra)

×
Berita Terbaru Update