Visitasi Tim PPK Himala dan Belmawa Dikti dalam mengenalkan produk garam fortifikasi di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan (24/10). (Tim PPK Himala)
WKUTM – Sekitar pukul empat sore, suasana kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mulai lengang di bawah langit mendung. Cahaya matahari yang terhalang awan membuat langit tampak redup, sementara angin sore terus berembus lembut menghantarkan kesejukan.
Aku melangkah menuju gedung laboratorium eksakta, tempat teman-teman dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan (Himala) biasa berkumpul untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan pemberdayaan mereka. Usai memasuki gedung, aku langsung disambut hangat oleh Marwa Salsabila, ketua pelaksana tim Program Penguatan Kapasitas (PPK) Himala.
Sambil tersenyum, Marwa mempersilakanku berjalan di sampingnya. Kami melangkah bersama menuju laboratorium garam yang letaknya di area depan gedung.
Begitu memasuki ruangan, kujumpai mereka, sebagian teman-teman dari Himala, sedang fokus pada kegiatannya masing-masing. Sedangkan sisanya, menyambutku dengan ramah dan penuh antusias.
Marwa mulai menceritakan perjalanan mereka, dalam mengembangkan program Pemberdayaan Inovasi Diversifikasi Garam Pangan Yodium dan Fortifikasi Hasil Produksi Tunnel Garam. Dengan semangat yang terpancar dari matanya, dia membuka cerita.
Tim PPK Himala bersama warga sedang mengukur kualitas air yang akan dijadikan garam di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan (Juni, 2024). (Tim PPK Himala)
Pertama, Marwa mulai menceritakan desa Pesanggrahan yang menurutnya memiliki produksi garam yang cukup besar, tetapi selama ini hanya dijual dalam bentuk krosok atau garam mentah.
”Kita melihat hasil panen di 2023 yang melimpah,” katanya (18/11).
Usut punya usut, program yang telah mereka jalani ternyata merupakan kelanjutan dari proyek sebelumnya di tahun 2023. Saat itu, mereka memperkenalkan teknologi tunnel, sebuah inovasi yang memungkinkan petambak tetap memproduksi garam meski musim hujan sekalipun. Tapi kali ini, mereka melangkah lebih jauh.
Mereka ingin meningkatkan kualitas garam, mengubahnya menjadi produk fortifikasi yang diperkaya yodium dan protein dari ikan pepetek. Semangat perubahan dipancarkan oleh Marwa dan timnya yang ingin Desa Pesanggrahan tak sekadar menjadi desa penghasil garam.
Di sana, tim PPK Himala melihat potensi yang belum terjamah, potensi untuk membuat garam tidak hanya sekadar bahan mentah yang dijual murah, tapi menjadi produk bernilai yang bisa meningkatkan kesejahteraan para petambak garam setempat.
Di laboratorium tempat Marwa bercerita, terdapat berbagai barang. Ada alat-alat yang biasa mereka gunakan untuk uji lab garam, hingga produk hasil program mereka.
Tim PPK Himala dan warga Desa Pesanggrahan sedang melakukan produksi ulang garam fortifikasi. Dengan menggunakan mesin penghalus garam di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan, (8/24). (Tim PPK Himala)
Selain produk garam fortifikasi, keluaran tim PPK Himala lainnya berupa pembuatan filter air baku garam. Mereka juga mengembangkan mesin penghalus garam pasca-produksi, sehingga garam menjadi lebih halus, tidak mudah menggumpal, dan siap dipasarkan dengan nilai jual yang lebih tinggi.
”Selama ini akses untuk mendapatkan garam juga lumayan susah,” ujar Haris Riqin, salah satu anggota tim, di sela-sela cerita Marwa.
Haris menjelaskan bahwa latar belakang timnya memilih membuat filter air baku garam untuk membantu para petambak garam setempat agar lebih mudah mendapatkan garam.
Desa tempat proyek ini berlangsung—Desa Pesanggrahan dengan hamparan tambak garam dan penduduknya yang sebagian besar menggantungkan hidup dari garam krosok. Selama bertahun-tahun, kehidupan mereka tak banyak berubah.
Selama ini mereka hanya mengandalkan matahari dan cuaca yang bersahabat untuk menguapkan air laut dan menghasilkan garam. Namun, kehadiran teknologi sederhana yang dibawa oleh Himala ini membawa harapan baru bagi desa itu.
Marwa melanjutkan ceritanya tentang pelatihan yang mereka berikan kepada para ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan pemuda karang taruna. Program ini tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada pemasaran digital.
Mereka melatih masyarakat desa untuk memasarkan produk garam fortifikasi mereka di platform seperti TikTok dan Tokopedia, sesuatu yang bahkan belum pernah terlintas di benak para petambak di desa itu.
”Kami memberikan pelatihan pemasaran online lewat media sosial seperti TikTok dan Tokopedia, supaya masyarakat nggak cuma bisa produksi, tapi juga paham cara jualan di pasar digital,” kata Yemima Anindya Kartika, sekretaris tim.
Para ibu di desa itu, yang sebelumnya hanya tahu cara memproduksi garam kasar, kini menjadi lebih terampil dalam membuat produk yang punya nilai tambah.
Mereka mengolah garam krosok menjadi garam fortifikasi yang lebih halus dan punya daya jual lebih tinggi. Sebuah perubahan besar dalam hidup mereka. Mereka bahkan mulai terbiasa melihat produk mereka terjual ke luar desa, bahkan ke luar Madura.
”Sekarang mereka jadi lebih percaya diri jualan produk yang bernilai tambah,” ucap Marwa sambil tersenyum.
Selama enam bulan di lapangan, tim Himala tak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga belajar memahami kehidupan masyarakat di desa. Tantangan demi tantangan harus mereka lewati seperti menyesuaikan jadwal dengan para petambak, hingga memperkenalkan teknologi baru menjadi pelajaran berharga bagi mereka.
Di mata mereka, program ini adalah kesempatan emas untuk mengembangkan ilmu sekaligus memberi dampak langsung pada masyarakat.
Program ini bukan hanya soal inovasi teknologi atau meningkatkan ekonomi semata. Ini adalah perjalanan membuka peluang baru bagi masyarakat desa, mengangkat potensi garam Madura, dan membawa produk desa kecil ini ke pasar yang lebih luas, memberi harapan baru bagi para petambak di pesisir Madura.
Stevani Agustin
Mahasiswi Program Studi ilmu Hukum
