Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kreatif tetapi Rawan Terkena Stres, Dosen Psikologi Berikan Masukan pada Generasi Stroberi

Rabu, 16 Oktober 2024 | 04.41.00 WIB Last Updated 2024-10-16T11:41:14Z
Mahasiswa sedang menuju ke gedung Cakra, Rabu (16/10). NRA/LPM-SM

WKUTM – Belakangan, julukan generasi stroberi mulai disematkan pada generasi yang lahir pada pertengahan 1990-an hingga 2010, yang turut mencakup mahasiswa saat ini. Generasi stroberi merupakan label yang disematkan pada generasi tersebut karena dinilai kreatif, kerap menyuarakan isu kesehatan mental, tetapi mudah terserang stres.  

Hera Wahyuni, selaku dosen Psikologi menuturkan bahwa generasi stroberi memiliki karakteristik kreatif, tetapi di sisi lain kurang tangguh menghadapi permasalahan. Mereka cenderung menghindar, serta menganggap masalah mereka itu berat. Lalu berlarut-larut terlalu lama di dalamnya. Hera menekankan bahwa setiap individu pasti akan selalu memiliki masalah.

”Sebenarnya, mereka harus tahu kalau semua orang itu tidak luput dari permasalahan, setiap orang pasti memiliki masalah,”tuturnya ketika ditemui di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) (10/10). 

Sejauh ini, Hera menjelaskan rasa stres telah menimpa banyak kalangan mahasiswa, tidak hanya mahasiswa baru saja, tetapi juga mahasiswa lama.

”Rata-rata mahasiswa baru penyebabnya ialah kesulitan saat beradaptasi di lingkungan kampus, merasa kehilangan dukungan dari keluarga, juga masalah perekonomian. Sedangkan untuk mahasiswa semester tiga ke atas, permasalahannya lebih pada kehawatiran kelulusan, bermasalah dengan teman, dan banyak yang mengalami kekerasan dalam pacaran,” jelasnya.

Untuk mencegah kondisi mental yang tidak stabil, Hera berpesan agar jangan pernah lari dari masalah dan tidak terlalu larut dalam kesedihan. Sebab, setiap orang memiliki kendali penuh untuk mengatur emosinya.

”Perlu dikenali, dalam situasi seperti apa, dengan siapa kamu merasa nyaman untuk menyelesaikan masalah kamu. Kemudian, kenali dukungan sosialmu,” ujarnya.

Selanjutnya, dia menjelaskan bahwa penting untuk mengenali bagaimana rasa stres tersebut muncul. Jika sedang memiliki masalah dengan orang lain, maka bisa menunggu emosi mereda, setelah itu baru mulai menyelesaikan masalah.

”Mungkin bisa menghindar dulu, untuk tidak merespons pertengkaran. Karena kalau kita emosi dan dia juga emosi, maka bukan solusi yang akan dihadirkan, tetapi malah menambah masalah. Lalu, kalau sedih, berikan afirmasi positif dengan melakukan butterfly hug. Sembari mata tertutup, bahu kanannya ditepuk dengan tangan kiri lalu bilang, semua akan baik-baik saja,” jelasnya.

Dosen psikologi itu juga berucap, bahwa semua orang bisa membantu menjadi penenang (konselor) bagi orang yang mengalami stres. Sebab, 80 sampai 90 persen kunci menjadi konselor ialah kemampuan mendengarkan. Kemudian menerapkan tiga cara, yakni look, listen, and link. Artinya, mulai amati orang-orang sekitar yang tampak sedang dalam masalah, kemudian dengarkan cerita mereka, dan yang terakhir, arahkan pada pihak yang lebih profesional jika masalah tersebut menyebabkan stres yang berkepanjangan.

”Konseling itu, 80 sampai 90 persen memahami, supaya kita tau permasalahannya, apa yang diharapkan, apa yang dipikirkan, dan apa yang ditakutkan. Sehingga kita tau alurnya, kenapa dia seperti itu, lalu baru kita mulai ajak mengobrol,” ucapnya.

Nuriz Zaimatul Aizza, mahasiswi Program Studi (Prodi) Psikologi menjelaskan bahwa dirinya seringkali mengalami stres. Hal tersebut disebabkan karena tuntutan batas waktu pembuatan tugas akhir yang memicu kekhawatiran, apalagi jika waktu yang diberikan dosen sangat singkat.

”Kalau saya sendiri ketika mengalami stres biasanya membuat jeda waktu atau me time, dan mendengarkan musik. Sekiranya bisa menyegarkan otak supaya tidak stres,” ujar mahasiswi angkatan 2021 tersebut (10/10). 

Untuk dapat terbebas dari stres, Nuriz berharap agar dirinya segera lulus. Dengan begitu beban yang menjadikannya stres dapat segera menghilang.

”Semoga cepat lulus. Agar tidak stres lagi,” ujarnya.

Terakhir, Hera berujar bahwa generasi stroberi memiliki potensi yang besar, baik berupa akademik dan kognitif. Juga, peluang yang mudah didapat dalam mencapai pengetahuan di era digital seperti sekarang. Sehingga, diperlukan untuk mencari dan mengetahui potensi yang ada di dalam diri.

”Pahami dirimu, kenali diri kamu, kekuatan kamu, dan kenali juga kelemahan kamu. Saat kamu mengenali kelemahan kamu, segera tingkatkan dan segara dilatih untuk diperbaiki,” harapnya. (NRA/SHA) 
×
Berita Terbaru Update