WKUTM - Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) merupakan wadah untuk menjembatani hubungan universitas dengan alumni UTM. IKA UTM juga berperan dalam memberikan informasi terkait peluang kerja yang nantinya dapat membantu lulusan UTM segera mendapatkan pekerjaan. Meski sudah beberapa tahun berdiri, IKA UTM masih belum memberikan perubahan banyak bagi UTM.
Surokim, selaku Wakil Rektor (Warek) III Bidang Kemahasiswaan, menuturkan terjalinnya hubungan antara alumni dengan universitas bukan hanya penting, namun sudah menjadi hal yang mendesak. Terlebih ikatan alumni yang memiliki fungsi utamanya sebagai wadah jejaring untuk mempercepat atau mengurangi masa tunggu para alumni di dunia kerja.
”Kita berharap tentu ada peran yang lebih maksimal, mendekatkan alumni dengan dunia kerja dan saling berbagi informasi antar alumni terkait peluang kerja,” tuturnya saat dihubungi melalui panggilan suara (1/5).
Menurutnya, terjalinnya hubungan antara alumni dengan universitas turut membantu mempercepat lulusan yang belum mendapatkan pekerjaan agar segera mendapatkan pekerjaan. Dengan memperbanyak peluang, maka nantinya akan memunculkan banyak informasi terkait peluang kerja, sehingga kemudian memiliki beragam opsi untuk bisa melamar pekerjaan dan berkompetisi di dunia kerja.
”Istilahnya banyak menebar pancing supaya berpeluang mendapatkan ikan yang lebih besar. Dengan banyak memberi informasi terkait peluang kerja, otomatis akan memiliki banyak opsi untuk melamar dan berkompetisi di dunia kerja,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Surokim juga mengatakan terjalinnya hubungan antara alumni dengan universitas tidak hanya menguntungkan bagi alumni saja, namun juga menguntungkan pihak universitas. Dikarenakan alumni menjadi salah satu poin penilaian dalam menaikkan nilai akreditasi, khususnya mengenai masa tunggu alumni di suatu universitas pada dunia kerja dan kontribusinya terhadap universitas.
”Tentu saja bisa menaikkan nilai akreditasi. Bagaimana masa tunggu alumni pada dunia kerja dan bagaimana kontribusinya terhadap kampus. Semua itu dinilai dan bisa menjadi poin tambahan untuk peningkatan akreditasi institusi atau kampus,” ungkap pria yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) tersebut.
Surokim berpendapat bahwa peran IKA UTM dalam menghubungkan jalinan jejaring alumni dengan UTM perlu dimaksimalkan. Ia juga mengatakan bahwa sejauh ini kontribusi IKA UTM kepada universitas masih perlu dioptimalkan lagi. Perlu adanya kolaborasi yang lebih kuat antara alumni dengan universitas. Dengan begitu sinergi alumni dengan kampus diharapkan bisa lebih meningkat. Khususnya menyangkut pemberian informasi terkait dunia kerja yang sangat diperlukan oleh para lulusan baru UTM.
”Kalau menurut penilaian saya, memang belum maksimal sehingga perlu dimaksimalkan. Perlu kolaborasi yang lebih intens antara alumni dengan kampus,” tutur pria asal Lamongan tersebut.
Berbicara soal partisipasi dan kolaborasi, Surokim mengaku jika melihat data dari Tracer Study, sejauh ini partisipasi dari alumni baik dalam menjalin hubungan dengan kampus maupun memberikan informasi terkait lapangan kerja kepada lulusan baru, masih terbatas. Kemudian, pihaknya juga menyebutkan kendala minimnya partisipasi dari alumni di antaranya kurangnya akses dan minimnya informasi terkait ikatan alumni.
”Memang organisasi seperti IKA UTM ini sukarela. Melihat tantangan hari ini dan ke depan, yang terpenting adalah soal akses dan pengetahuan alumni terhadap ikatan alumni. Artinya, kita butuh memperluas akses ke dunia kerja termasuk jejaring dengan organisasi lain, yang nantinya juga memperbesar tingkat kepercayaan alumni UTM kepada ikatan alumni,” tuturnya.
Adapun Sukris Susanti, salah satu lulusan UTM menjelaskan secara singkat terkait IKA UTM. Menurutnya, IKA UTM merupakan komunitas yang di dalamnya dapat menjalin relasi, misalnya terkait hubungan pekerjaan ataupun bisnis setelah lulus dari kegiatan perkuliahan di universitas.
”Komunitas yang di dalamnya bisa menjalin relasi. Contohnya, hubungan pekerjaan ataupun bisnis setelah lulus kuliah,” jelas alumni asal Sumatera Selatan tersebut (1/5).
Alumni angkatan 2015 tersebut juga mengaku jika sebenarnya ia mengetahui keberadaan IKA UTM, namun dirinya tidak ikut bergabung di dalamnya. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui keuntungan yang didapat jika tergabung menjadi bagian dari IKA UTM serta tidak ada yang menawarkannya terkait hal ini.
”Karena kurang tau benefit-nya untuk apa dan tidak ada yang menawarkan juga,” jelas lulusan teknik informatika tersebut.
Sedangkan, alumni lain yakni Mochammad Kriswandi alumni lulusan Program Studi (Prodi) sastra inggris menuturkan bahwa dirinya hanya sebatas tahu, namun tidak mengenal lebih dekat perihal IKA UTM. Ia juga tidak bergabung di dalamnya sehingga tak merasakan dampak dari adanya ikatan alumni tersebut. Alhasil, ia mengharapkan IKA UTM dapat lebih membantu para alumni, utamanya yang baru lulus.
“Harapannya, semoga IKA UTM bisa menjadi jembatan bagi para alumni yang belum bekerja dan bisa mendapatkan karir yang sesuai harapan, ditambah dapat bermanfaat buat UTM,” jelasnya (13/5).
Adapun Surokim juga berharap kedepannya peran IKA UTM dapat semakin penting dan bermanfaat. Mampu membersamai alumni UTM dengan jejaring yang lebih kuat agar kemudian terjalin ikatan sesama alumni yang lebih intens. Dengan begitu, nantinya dapat meningkatkan kepercayaan alumni UTM dalam bersaing dengan keberadaan ikatan alumni di kampus lain.
”Tentu saya berharap perannya akan semakin penting dan bermanfaat. Membimbing alumni UTM, agar kemudian terjalin ikatan sesama alumni lebih kuat. Dengan begitu nantinya dapat meningkatkan kepercayaan alumni UTM untuk bisa bersaing dengan keberadaan IKA alumni di universitas lain,” harapnya. (STV/NRA/TFA)
