Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dampak Krisis Iklim, Kiamat Diprediksi Datang Sebelum Tahun 2100

Sabtu, 11 November 2023 | 07.45.00 WIB Last Updated 2023-11-11T15:47:28Z

Sepertinya kita saat ini sudah sangat merindukan turunnya hujan. Hal ini disebabkan panas udara di bumi saat ini mencapai suhu tertingginya, dimana suhu rata-rata global yang seharusnya hanya berkisar 15 derajat celcius, sekarang meningkat menjadi 17 derajat celcius pada bulan September dan Oktober. Dengan begitu, suhu ini mencetak rekor sebagai suhu terpanas dalam sejarah umat manusia di seluruh dunia.

Banyak pihak yang mengaitkan naiknya suhu bumi ini dengan fenomena El Nino atau pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan SML meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik sehingga mengurangi curah hujan di Indonesia. Dengan demikian, El Nino juga bisa mengakibatkan kondisi kekeringan secara umum di Indonesia.

Akan tetapi, ini bukan pertama kalinya Indonesia mengalami EL Nino, namun tidak separah seperti sekarang ini. Apalagi jika kita melihat rekor yang berhasil diraih dalam bulan September dan Oktober, yakni berhasil mencetak suhu rata-rata dunia hingga 17 derajat celcius memberikan kita kode lain atas perubahan suhu ekstrem yang terjadi saat ini.

Jika merujuk pada pendapat dari Sekretaris Jendral Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang menyatakan jika kita sekarang telah beralih dari global warming (pemanasan global) ke era global boiling atau pendidihan global. Hal ini merujuk pada perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini yang disinyalir menjadi pertanda kerusakan iklim di bumi. Hal ini tentu saja diakibatkan karena aktivitas manusia.

Perkembangan populasi manusia yang semakin membludak tidak hanya menjadi ancaman bagi pasokan cadangan sumber makanan dan minuman, melainkan juga menjadi ancaman serius pada bumi kita ini. Hal ini dikarenakan over populasi juga akan mendorong pembukaan lahan baru untuk kebutuhan pemukiman, perkebunan, hingga pertanian baru yang biasanya menggunakan metode penebangan atau yang lebih parah adalah pembakaran hutan. Hal ini akan mendorong jumlah gas rumah kaca yang diproduksi oleh hasil pembakaran hutan, yang tentunya akan semakin membuaat “mendidih” bumi kita. Dengan begitu, global boiling di masa sekarang menjadi semakin tak terbendung lagi.

Selain pembukaan lahan baru dengan cara membakar hutan, proses industrialisasi pabrik juga turut membuat bumi semakin tercemar. Dimana dalam proses produksinya, pabrik-pabrik akan menghasilkan dua limbah yang akan mencemari udara dan laut sekaligus. Hal ini akan memperparah kondisi bumi, dimana polutan tidak hanya menyebar melalui udara saja, melainkan juga melalui laut.

Dalam hal ini, laut sebenarnya juga memiliki peran penting dalam meredam krisis iklim yang terjadi di bumi, bahkan mungkin yang jarang diketahui oleh khalayak. Laut bisa menyerap karbon dioksida yang diproduksi oleh aktivitas manusia dan proses fotosintesis dari fitoplankon yang merupakan salah satu organisme di dalam laut, dapat memproduksi sekitar 70% oksigen untuk atmosfer dan makhluk hidup yang ada di bumi.

Hal ini tentunya menjadi miris, ketika udara sudah sangat sesak dengan polusi, hutan yang menyumbang 30% oksigen juga turut ditebang, dan kini ekosistem laut juga ikut terancam karena pembuangan limbah pabrik, sampah rumah tangga, hingga polusi yang disebabkan oleh kapal-kapal laut yang dapat membunuh berbagai ekosistem laut, tentu akan semakin memperburuk krisis iklim yang ada di bumi.

Kabar buruknya adalah krisis iklim yang sekarang terjadi ini bukanlah akhir melainkan permulaan dari rentetan “siksaan” yang ada di bumi untuk kita. Perubahan iklim ekstrem yang terjadi saat ini, hingga beberapa tokoh dunia melabeli era ini sebagai global boilling seharusnya tidak hanya menjadi isu yang mudah tertiup angin lalu, karena dampaknya sudah bisa kita rasakan dari sekarang dan akan terus memburuk di setiap harinya.
Hal yang paling menarik sekaligus membuat ngeri akan fenomena ini adalah para ulama zaman dahulu seperti Ibnu Hajar Asqalani dan imam As-Suyuti berpendapat jika umur umat Islam tidak akan lebih dari 1476-1477 Hijriah, sedangkan Ibnu Hajar Hambali berpendapat usia umat Islam tidak akan lebih dari 1500 Hijriah.

Ramalan ini menjadi mengerikan karena ternyata para saintis seperti Stephen Hawking juga memiliki pendapat yang kurang lebih sama dengan para ulama, dimana dirinya meramalkan jika umat manusia tidak akan bisa bertahan lebih dari tahun 2100 masehi.
Kengerian akan kiamat yang sudah diramalkan oleh para ulama dan di prediksi oleh saintis ini, ditambah dengan fakta mengerikan jika suhu pada dua bulan terakhir mencapai predikat sebagai suhu terpanas dalam sejarah umat manusia di seluruh dunia, seharusnya menjadi tamparan kuat bagi kita umat manusia, dimana kerusakan bumi yang terjadi saat ini adalah akibat dari ulah manusia itu sendiri, era dimana para ilmuwan melabeli zaman ini sebagai zaman antroposentris, yakni etika yang memandang jika manusia adalah pusat dari segalanya termasuk dalam hal ini, kiamat!
Lantas, bagaimana dan apa yang harus kita lakukan di era yang sudah krisis seperti saat ini?

Banyak sebenarnya yang bisa kita lakukan, seperti membentuk atau tergabung dalam komunitas-komunitas yang aktif menyuarakan isu-isu lingkungan, baik secara mikro ataupun makro. Terlibat pada setiap diskusi, kegiatan sosial, hingga riset yang dilakukan demi meminimalisir krisis iklim. Meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor yang bisa membuat produksi emisi karbon meningkat.

Selain itu, hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, melakukan pemilahan sampah sesuai klasifikasinya, tidak melakukan proses pembakaran sampah, menghabiskan makanan hingga tak bersisa, ataupun meminimalisir penggunaan pendingin ruangan juga bisa menjadi alternatif secara mandiri untuk kita bisa membendung terjadinya kerusakan iklim yang terus terjadi ini.

Syahdan, manusia memang makhluk unik yang selalu menyesali perbuatannya di saat-saat terakhir dirinya terancam. Namun, itu jauh lebih baik daripada menjadi manusia yang sama sekali tidak menyesali perbuatannya hingga datang masa penghancurannya.

Ajie Rahmat Hidayat
Mahasiswa Sosiologi

×
Berita Terbaru Update