WKUTM - Berdasarkan Surat Edaran S/1533/UN46/TI.05.01/2022, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah melakukan pembatasan kapasitas penyimpanan Google Workspace lantaran adanya kebijakan baru dari pihak Google. Pembatasan tersebut meliputi Google E-mail (Gmail), Google Drive (Gdrive), hingga Google Photos. Adapun berkenaan dengan ini, berbagai pihak menanggapi dengan berbagai tanggapan sejak diterapkannya pada (20/06).
Hal tersebut seperti yang diungkapkan, Erma Rusdiana, selaku Wakil Dekan (Wadek) I Fakultas Hukum (FH), bahwa kebijakan pengurangan kapasitas penyimpanan Google Workspace dinilai sangat merugikan. Menurutnya kapasitas penyimpanan justru sebaiknya ditambah karena hampir semua kegiatan pembelajaran membutuhkan Google Workspace.
”Kalau secara kebutuhan, penyimpanan Google Workspace sangat dibutuhkan. Dengan pembatasan ini, kita harus kembali ke kertas, padahal penumpukan di tempat yang terbatas akan kurang ideal,” ungkapnya (22/06).
Senada dengan Erma, Yudi Widagdo Harimurti, selaku dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Hukum, menuturkan pembatasan kapasitas Google Workspace dinilai tidak mendukung sistem pembelajaran, padahal saat ini penggunaan teknologi harus dikedepankan. Yudi mengaku sudah lama menggunakan Google Classroom untuk proses belajar mengajar, bahkan dari sebelum pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).
”Katanya ada kerja sama, mestinya untuk kemaslahatan bersama tidak perlu pembatasan,” ungkapnya (22/06).
Adapun Mujiono, dosen Prodi Teknologi Industri Pertanian (TIP), menilai pengurangan penyimpanan Google Workspace tidak sepenuhnya menjadi masalah karena semester genap sudah hampir selesai. Namun menurutnya, kendala yang dihadapi adalah pemindahan atau penghapusan berkas yang sudah tidak terpakai.
”Kendalanya terkait pemindahan berkas karena hanya difasilitasi 12 Gigabita (GB),” tutur Mujiono (20/06).
Sementara itu, tanggapan dari pihak mahasiswa, Rizal Affandi, mahasiswa Ilmu Komunikasi, mengaku sedikit kecewa ketika penyimpanan yang awalnya 1 Terabita (TB) dibatasi menjadi 4GB. Dirinya berpendapat, mahasiswa yang menyimpan berkas di Google Workspace akan kerepotan dalam melakukan duplikasi berkas karena terkadang laptop dan akun personal mahasiswa juga penuh.
”Menurut saya (4GB) masih kurang, karena terkadang terdapat dosen yang membagikan buku,” ungkapnya (20/06).
Muhammad Syahrul Abidin, mahasiswa Prodi Sistem Informasi (SI), mengungkapkan kendala pengurangan kapasitas penyimpanan Google Workspace adalah ketika pengumpulan Ujian Akhir Semester (UAS).
“Kendala saya saat ketika pengumpulan UAS,” ungkap Syahrul (20/06).
Adapun Firmansyah Adiputra, selaku Kepala Bagian Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPT TIK), menjelaskan apabila tidak mengikuti kebijakan Google, maka akan menimbulkan risiko bagi seluruh civitas academica UTM yakni, tidak bisa mengakses Google Workspace. Hal ini dikarenakan pemakaian penyimpanan Google Workspace UTM sudah sebesar 128TB. Selain itu, Firman berpendapat saat ini banyak data tidak wajar disimpan di Google Workspace, sedangkan untuk menambah kapasitas penyimpanan diharuskan membayar, karena itu Firman perlu melihat perkembangan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli.
”Banyak data yang tidak wajar, artinya ada yang terlalu sedikit dan terlalu berlebih. Kalau asal beli, saya merugikan negara, maka kita batasi dulu, nanti kita lihat perkembangannya, baru membeli setelah mengetahui jumlahnya,” jelasnya (20/06).
Lebih lanjut, Pria asal Bangkalan ini mengungkapkan awalnya Google memberikan penyimpanan (storage) tidak terbatas untuk seluruh kampus di dunia. Namun, Google sekarang hanya memberi kuota setiap kampus sebesar 100TB. Pemakaian tersebut meliputi mahasiswa, karyawan dan unit kerja.
”Awalnya tidak dibatasi, tapi sekarang Google membatasi setiap institusi 100TB untuk masing-masing kampus dan tidak boleh lebih, Jika lebih dari 100TB tidak bisa menerima E-mail, dan tidak bisa menyimpan foto di Google Photos,” ungkapnya.
Adapun ihwal aturan pembatasan kapasitas penyimpanan, Firman menjelaskan dipertimbangkan berdasarkan rata-rata pemakaian mahasiswa dan dosen. Hal tersebut dia dapatkan setelah melakukan analisis data terhadap seluruh pengguna yang ada di UTM kemudian menggolongkannya menjadi data wajar dan tidak wajar. Rata-rata mahasiswa memakai penyimpanan sebesar 2,5GB dan untuk dosen sekitar 4GB. Setelah dikalkulasi dengan memberikan batas minimal di atas rata-rata, maka mahasiswa mendapatkan 4GB, sedangkan dosen 12GB.
”Rata-rata mahasiswa memakai 2,5GB maka saya harus memberi batasan di atas itu. Setelah dibagi dengan dosen, maka mahasiswa diberikan kapasitas 4GB, sedangkan untuk dosen 12GB. Kita lihat perkembangan penggunaan penyimpanan tahun ini, kalau perlu kita tambah, kalau tidak perlu, tidak,” jelas Firman.
Terkait kontra pembatasan penyimpanan, Firman menuturkan bahwa hal tersebut wajar terjadi. Google Workspace dikhususkan untuk menyimpan data perkuliahan, bukan data personal. Semisal, sambungnya, untuk pengumpulan video ataupun berkas lain dengan kapasitas yang besar menggunakan aplikasi lain seperti Youtube yang memiliki layanan khusus dan gratis. Firman Berharap, UTM mulai berbenah dan mahasiswa mengerti dokumen yang seharusnya disimpan di Google Classroom.
”Harapan saya, UTM mulai berbenah diri, ada banyak akun yang penggunaannya sangat besar sampai 13TB. Karena sekarang sudah terbatas, maka hal-hal seperti dokumen yang berbau sara dan pornografi, buku-buku bajakan, tidak seharusnya disimpan. Dengan begitu, insyaallah anggaran yang dikeluarkan negara akan bermanfaat karena dipakai untuk hal-hal yang diperlukan,” pungkasnya.
Adapun harapan lain datang dari Erma Rusdiana. Dirinya berharap terdapat peninjauan ulang karena pembatasan kapasitas penyimpanan dinilai hanya cocok untuk mahasiswa semester akhir.
”Saya berharap agar ditinjau ulang, mungkin pembatasan itu cocok untuk mahasiswa semester akhir, sudah tidak banyak tugas,” harapnya. (RYZ/GIE)
