Seruan azan berkumandang, membuat Pak Ganjar segera bergegas mengambil sebuah sarung berwarna cokelat yang kini telah pudar warnanya. Dengan senyum mengembang, Pak Ganjar berselawat sembari membawa sepeda antiknya menuju surau. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya beliau mengucap syukur sebab tidak lama lagi padinya akan dipanen. Pak Ganjar menyapa beberapa warga yang ditemuinya di jalan dengan ramah dan tulus.
“Ke surau Ar-Rahman yah pak?” tegur salah seorang warga.
“Iya, mari berangkat bersama,” ajak pak Ganjar.
“Saya nanti saja pak, toh baru azan. Dagangan saya biar habis dulu.”
Pak Ganjar menggeleng kepala tak habis pikir, dengan tenangnya beliau berjalan mendekat pada warga tersebut dan menepuk pundaknya.
“Ada baiknya disegerakan to biar segala urusan jadi dipermudah sama Gusti.”
Meskipun pada akhirnya Pak Ganjar harus berangkat sendiri ke surau, ia tak pernah berhenti mengajak setiap warga yang ditemuinya untuk segera menunaikan salat. Hingga tak terasa derap langkahnya yang ringan itu telah memenuhi seisi ruangan tempat wudu sebab nyatanya tak satu pun warga mengisi ruang kecil berukuran 1,5 × 2 meter. Mulailah Pak Ganjar membersihkan diri dan berwudu, serta mengenakan sarung dengan sangat rapinya.
Salat asar pun digelar dengan khusyuk sebab hanya ada empat orang serta beberapa anak kecil dan putra Pak Ganjar sendiri, Guntur. Setelah selesai Guntur pun menyalami bapaknya dan memeluk erat tubuh ringkih beliau. Sudah menjadi kebiasaan Guntur bermanja dengan bapak, sebab beliau adalah satu-satunya orang yang dimiliki olehnya.
“Oalah Tur, manja sekali dengan bapak,” ucap Ali cengengesan.
“Ya biarin toh, bapakku ini,” sahut Guntur dengan memajukan sedikit bibirnya.
Pak Ganjar tersenyum sembari memeluk balik Guntur dengan amat sayang.
“Oiya Pak, sarungnya jelek sekali. Hampir seperti lap dapur ibu saya dirumah. Apa ndak ada yang lebih layak to Pak Ganjar?” celetuk Rosi.
Mendengar itu Guntur menunduk menatap sarung milik bapaknya. Benar saja, warnanya telah pudar dengan beberapa sisi ditambal paksa oleh kain perca. Sudah sekitar empat tahun lamanya bapak tidak pernah membeli sarung. Kini sarung yang dipikir Guntur merupakan sarung kesayangan bapak, sudah bisa dikatakan tidak layak lagi. Beralih Guntur menatap Pak Ganjar dengan tatapan teduh.
“Oh, sarungnya adem. Pak Ganjar suka makanya dipakai terus. Toh menghadap Gusti gak perlu pakai yang mewah yang penting bersih dan suci dari hadas, benar kan Le?,” seloroh Pak Ganjar pada Rosi.
Mendengar hal itu, Pak Rahmat menyeletuk dan memandang sinis Pak Ganjar.
“Harusnya bertemu Gusti itu dengan sebaik-baiknya pakaian. Masa iya, cuma sarung dengan harga yang tidak seberapa ndak mampu beli. Hasil dari sawah apa ndak mencukupi hanya untuk hidup dua orang ini saja to?”
Pak Ganjar tersenyum, berbeda dengan Guntur yang giginya mulai bergemelutuk. Ia menahan sakit di hatinya melihat bapak yang ia sayangi secara tidak langsung dilukai harga dirinya oleh orang lain. Dalam hati kecilnya, Guntur seolah memutar kembali ingatan yang mana rasanya uang tidak seberapa yang didapatkan dari hasil tani itu kemudian ludes menyisakan sedikit saja untuk makan sehari-hari.
Hutang dari uang berobat ibunya semasa hidup masih belum lunas. Ibunya meninggal sebab penyakit kanker yang dideritanya. Meskipun keluarga kecilnya mendapat bantuan dari desa berupa BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), tetap saja tak sedikit uang yang harus dikeluarkan oleh Pak Ganjar.
***
Suara gesekan sikat dan sepatu menemani pagi bapak dan anak yang tengah duduk berhadapan di teras rumah. Sunyi menggelayuti keduanya, dengan Pak Ganjar yang memikirkan bagaimana ia akan membayar uang tagihan dua kali lipat seperti apa yang diinginkan oleh rentenir dan Guntur yang merenung membayangkan betapa tidak layaknya sarung yang dikenakan bapak. Suara jatuhnya vas bunga membuyarkan lamunan keduanya.
“Ya ampun, sudah berapa kali si jago ini memecahkan vas bunga,” gerutu Guntur sambil berusaha mengusir ayam jantan itu dari teras rumah.
“Sudahlah Le, jago mana tahu kamu omeli begitu. Toh yang sudah pecah itu tidak bisa kembali utuh. Biar saja nanti tandurannya ditanam di dekat pagar yah,” rayu Pak Ganjar sambil membersihkan sisa pecahan vas dan tanah di teras.
Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh, dengan tas di punggung dan topi merah di kepala, Guntur berpamitan untuk segera berangkat ke sekolah. Pun dengan Pak Ganjar yang membawa sepeda antiknya menuju ke sawah.
“Kamu yakin ndak mau bapak antar Le?”
“Guntur sama Ali saja Pak berangkatnya. Biar bapak bisa segera ke sawah. Yang semangat yah Pak kerjanya, puasanya semoga kuat,” seraya mengepalkan tangan di depan wajahnya.
“Iya sudah sudah, cepat berangkat sana. Nanti terlambat.”
Sepanjang jalan menuju sekolah Guntur terdiam dan melamun. Ali yang merasa tidak dianggap kehadirannya lekas menyenggol siku temannya itu dan bertanya mengapa ia sedemikian anehnya pagi itu. Ternyata sarung untuk bapak selalu menjadi alasan mengapa Guntur merenung dan tidak selera dengan apa pun yang dilihatnya.
“Kalau mau cari kerja, anak sekolah dasar kelas 4 begini kemana toh?” Guntur mengernyitkan dahi.
“Kamu ini ada saja Tur, mana ada orang mau nerima anak masih umbelan kaya kita ini. Yang ada kamu ditertawakan, bisanya apa toh kamu ini? Kalau gak main bola yah mancing ikan.” Ali tertawa menepuk pundak Guntur.
“Buat apa kamu kerja Tur?”
“Ndak apa-apa toh, cuma sekedar ingin saja masa ndak boleh.”
“Tak tanya baik-baik nyolot kamu ini.” seloroh Ali sambil memajukan bibirnya tanda tak suka.
“Kalau mancing ikan terus dijual bisa dapat uang juga kan Li?”
“Loalah cah gemblung! Ikan kecil begitu mana ada yang mau beli Tur. Mbok yah dipikir kalo mau ngomong.” Ali berdesis tak percaya dengan ide konyol Guntur.
“Habisnya aku mau kerja apa?”
“Aah, aku tahu pekerjaan yang ndak jauh dengan rumah kita dan tentunya mungkin mau menerima kamu. Kamu malu ndak semisal kerja bantuin pak Slamet, bapaknya si Budi itu buat bantu ngurus peternakan ayam? Toh kamu juga punya ayam di rumah, mestinya sudah ndak kaget sama bau tai dan dedaknya.”
Ide Ali membawa Guntur menemui Pak Slamet dan di hari sepulang sekolah itu pula Guntur mulai bekerja.
***
Sudah seminggu lamanya, Guntur pulang terlambat dengan baju sekolah yang aromanya cukup menganggu. Pak Ganjar semula curiga, mengapa Guntur selalu pulang hampir menjelang magrib dengan keadaan lelah dan mata yang sayu. Saat ditanya, Guntur mengatakan bahwa akhir-akhir ini ia selalu mendapat pekerjaan rumah yang rumit dari guru dan dengan alasan itu ia bekerja kelompok di rumah temannya yang dianggap pintar, sebut saja Budi.
Budi adalah anak Pak Slamet, dan jelas saja Guntur ke sana tidak untuk bekerja kelompok menyelesaikan tugas melainkan untuk bekerja. Tak henti sampai di sana, Pak Ganjar bertanya mengapakah kerja kelompok bisa sampai senja. Lagi, Guntur berdalih dirinya tengah senang bermain di sana sebab halaman rumah Budi cukup luas dan bisa dibuat untuk bermain sepak bola.
“Mbok yah kalau pulang sekolah itu setidaknya lihat bapak dulu di sawah seperti biasa, terus pulang ganti baju dan makan. Baru berangkat ke rumah Budi,” racau Pak Ganjar sembari menjahit seragam Guntur yang robek.
“Ini juga kenapa bisa robek begini, kamu main dekat bambu tajam yah?”
“Ndak Pak, itu kena besi sekolah sewaktu Guntur main lari-larian,” Guntur tidak berani menatap Pak Ganjar.
“Sudah besar Le, jangan lari-larian begitu. Kalau kamu sampai merusak sesuatu karena menabraknya bagaimana? Dimarahin bu guru loh.”
Guntur mengangguk kaku, dan menyiapkan buka puasa bagi ia dan bapaknya. Tidak terasa sudah dua minggu bulan Ramadan berlalu, meskipun tahun ini dilalui tanpa ibu namun Guntur tetap bisa bersyukur sebab masih ada bapak bersamanya. Lauk telur goreng dan sedikit nasi menjadi santapan buka puasa yang nikmat bagi Guntur. Ia memakannya dengan suka cita, sebab tahu bapak telah mengusahakan yang terbaik bagi keluarga kecilnya.
Di sisi lain Pak Ganjar menatap putra semata wayangnya. Ia meneliti dari ujung rambut sampai kaki. Ada beberapa lecet di tubuh Guntur, mata lesu dan letih selalu menghiasi putranya seminggu terakhir ini. Raut wajah Pak Ganjar tak dapat ia sembunyikan, rasa khawatir merasuk ke dalam lubuk hati terdalamnya.
“Sebenarnya kamu ini kenapa toh Le Le,” gumam Pak Ganjar.
***
Tiga hari berlalu sejak kecurigaan Pak Ganjar pada hari itu. Setelah mengirim hasil panen, Pak Ganjar berniat pergi ke rumah Budi untuk melihat sendiri Guntur di sana. Entah apa yang membuat ia betah dan mau berlama-lama bahkan sampai tak menghiraukan Pak Ganjar sendiri yang menyuruhnya untuk pulang dahulu.
Sembari menghitung jumlah pemasukan dan pengeluaran, serta menyisihkan beberapa penghasilan bersih Pak Ganjar menyimpan dugaan yang bermacam-macam perihal Guntur. Bahkan ia sampai lupa sudah berapa uang yang disisihkan untuk beberapa kebutuhan termasuk membayar hutang.
Sehabis salat asar, Pak Ganjar segera melipat sarung cokelat yang dikenakannya. Ia menatap sejenak sarung tersebut sambil menciumi dengan sayang sarung lusuh di tangannya itu.
“Rasanya, masih ada kamu di sini Buk. Kamu pasti marah karena bapak ndak mau beli sarung baru. Toh buat apa, kalau yang lama masih layak pakai, mending uangnya buat beli keperluan Guntur dan beli Kejing agar kuburanmu tidak dirusak ayam lagi,” tak terasa air mata Pak Ganjar menetes melewati pipi kurusnya.
Melihat jam dinding yang terus berdentang, Pak Ganjar pun bergegas ke halaman surau dan pergi menuju kediaman Pak Slamet. Dan sesampainya di sana ia bertemu dengan Budi.
“Le, hari ini ndak main sama Guntur toh?” sapa Pak Ganjar ramah.
“Ndak main paklik, kan Guntur sibuk rewang bapak di kandang,” ujar Budi dengan polosnya.
Pak Ganjar kebingungan, apa yang dimaksud dengan menolong Pak Slamet. Lalu mengapa pula harus Pak Slamet yang ditolong oleh Guntur. Di sinilah Pak Ganjar mulai memiliki perasaan yang tak nyaman, pikirannya sudah mulai kemana-mana. Baru dua langkah beranjak, Pak Slamet menegur Pak Ganjar.
“Sore Pak Ganjar, tumben jenengan kemari? Mau melihat Guntur atau bagaimana Pak?”
“Oh iya, anu Pak. Guntur sedang apa yah Pak?”
“Loh yah masih kerja toh Pak. Ngomong-ngomong Guntur cekatan juga dalam menangani segala sesuatunya. Saya suka Guntur bekerja di sini, bahkan niatan baiknya untuk membantu perekonomian keluarga.”
Pak Ganjar tercekat, seolah ada sesuatu yang mengganjal kerongkongannya sehingga tak mampu berkata-kata. Pak Ganjar tersenyum kecut dan berpamitan kepada Pak Slamet untuk menengok Guntur di peternakan. Tanpa banyak bicara pak Ganjar menarik Guntur dan mengajaknya pulang.
Sesampainya di rumah Pak Ganjar menangis sejadi-jadinya. Guntur gemetar melihat itu kali kedua bapaknya menangis setelah sebelumnya menangisi kematian ibunya. Hati Guntur terasa disayat dengan sayatan lebar melihat Pak Ganjar tersedu-sedu.
“Bba bapak, sudah Pak. Ada apa?” tanya Guntur mendekat.
Baru selangkah kakinya berjalan, Pak Ganjar menghentikannya.
“Kamu ini mau beli apa toh Le, bapak memang orang ndak mampu Nak! Tapi kalau kamu mau sesuatu pasti bapak akan berikan ndak usah kerja nak! Kamu itu kewajibannya sekolah dan belajar bikin bapak sama almarhumah ibu bangga.”
“Ndak seperti itu Pak maksud Guntur.”
“Bantu perekonomian keluarga? Bapak memang tani Nak! Orang susah, tapi bapak ini masih kuat kerja dan mampu mencukupi keluarga kita yang cuma ada kamu sama bapak. Kamu ndak percaya sama kemampuan bapak sampai kamu bekerja?”
“Ndak Pak, cukup. Bukan begitu maksud Guntur.”
Tanpa mendengarkan Guntur yang semakin dalam menangis, Pak Ganjar masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Pak Ganjar kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak mampu membahagiakan Guntur, dan di sisi lain Guntur merasa bersalah telah membuat bapaknya sakit hati.
***
Nanti malam merupakan malam takbir yang dinanti oleh semua orang, begitu juga Guntur dan Pak Ganjar. Semenjak kejadian itu, keduanya menjadi semakin dekat satu sama lain sebab merasa di antara keduanya yang tak memiliki siapapun jua tak seharusnya berseteru. Tak pernah ada yang menyinggung perihal permasalahan yang lalu. Baik Guntur yang senantiasa meminta maaf, dan kemudian Pak Ganjar yang merasa egois tersebut kini telah memaafkan Guntur. Meskipun pada akhirnya Pak Ganjar tidak tahu sejatinya apa yang membuat Guntur ingin bekerja, beliau hanya tahu Guntur ingin membantu perekonomian keluarga.
Sore itu setelah berhari-hari berkeliling pasar dan tidak menemukan harga yang cocok bagi sarung yang akan dibeli. Tidak putus asa, Guntur terus berjalan menyusuri toko demi toko guna mencari sarung dengan harga yang pas seperti yang tersedia di kantong mungilnya.
“Yang harganya seratus ribu ada ndak Bu? Adanya cuma segitu,” ujar Guntur sambil merayu penjual agar mau memberikan sarungnya.
“Ini toko bagus Le, mana ada kalo kamu cari harga banting begitu, sana cari di tempat lain!” usir penjual dengan nada tinggi dan terus mengomel.
Sampai pemilik toko paling ujung memanggil Guntur untuk mendekat dan bertanya sebenarnya apa yang ingin dibeli oleh Guntur.
“Sarung baru Ko, untuk bapak saya,” jawaban lemas Guntur menjawab orang turunan Tionghoa itu.
“Oh, emang Lu punya duit berapa rupiah?”
“Cuma ada seratus ribu.”
“Oi Sarifah! Bagi dia satu sarung yang paling bagus.”
Sang penjual menoleh dan menjawab dengan ketus.
“Siapa yang mau bayar Ko Ahong, uang dia tidak cukup. Ndak punya uang kok mau beli sarung di sini.”
“Saya yang bayar dia punya barang nanti, cepat bungkus!”
“Ah Ko, tidak usah. Saya cari di tempat lain saja,” tolak Guntur dengan halus.
Orang keturunan Tionghoa itu tersenyum dan menarik Guntur untuk duduk di kursi yang ia singgahi tadi. Bergegas ia membayar sarung pada penjual itu dan memberikannya kepada Guntur. Ia pun sempat mendengar cerita dari Guntur betapa ia ingin sekali melihat bapaknya menggunakan sarung baru agar tidak dicemooh oleh orang lain.
“Ah pulanglah Lu, berikan itu pada bapak Lu yah. Salam buat bapak, Lu sekolah yang benar jadi dokter yah!” sambil tersenyum dengan mata sipit Ko Ahong itu membiarkan Guntur berjalan pulang.
Sebab terlalu senang, Guntur tidak merasakan bahwa dari arah Timur ada sebuah mobil yang melaju begitu kencang. Hingga kejadian tak diinginkan pun terjadi, Guntur terpental sekitar dua meter dari tempat kejadian dan luka parah pada bagian kepala serta tangan dan kaki yang terseret aspal.
Segera banyak orang mengerumuni tempat itu dan melihat kondisi Guntur, termasuk Ko Ahong. Ia tak bisa berkata-kata melihat Guntur yang sudah tak sadarkan diri.
“Oi, siapa punya kenalan orang tua anak ini?” mata Ko Ahong tak sanggup menyembunyikan kecemasannya.
“Astaughfirullah nak! Guntur. Saya kenal orang tuanya pak!”
Kemudian Pak Slamet pun bergegas mengabari Pak Ganjar sedangkan Ko Ahong membopong tubuh Guntur dan membawanya ke rumah sakit.
***
“Lu orang punya anak baik sekali, dia beli sarung agar lu tak diejek lagi saat sembahyang,” kata Ko Ahong menatap Pak Ganjar yang masih menangis menanti kabar anaknya dari ruang rawat.
Pak Ganjar gemetar memegang sarung baru di tangannya, ia tak akan bisa merasa tenang sampai mendengar kabar bahwa Guntur baik-baik saja. Sepuluh menit kemudian perawat keluar dan mengatakan bahwa Guntur sudah sedikit siuman dan bisa dijenguk. Tanpa menunggu lama Pak Ganjar pun masuk ruangan.
“Sarung baru untuk bapak,” ujar Guntur terbata sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Retno Putri Juwita
Mahasiswa Program Studi Agribisnis
Universitas Trunojoyo Madura
