Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perkuliahan Sistem Hybrid UTM Tuai Kendala, Mulai dari Sinyal Hingga Prokes

Rabu, 09 Maret 2022 | 18.44.00 WIB Last Updated 2022-03-10T03:21:36Z
WKUTM - Sejak 1 Maret 2022, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) melakukan perkuliahan secara hybrid. Namun dalam pelaksanaannya masih banyak masalah dan kendala yang dialami, khususnya bagi mahasiswa dan tenaga pendidik. Adapun masalah tersebut berupa gangguan sinyal internet saat pembelajaran Dalam Jaringan (Daring), perubahan metode perkuliahan oleh mahasiswa, hingga Protokol Kesehatan (Prokes) yang masih belum diterapkan secara tepat.

Verdy Hidayat, salah satu mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi mengungkapkan, mahasiswa yang mengikuti perkuliahan secara Daring banyak yang mengalami kendala pada sinyal internet. Adapun hal ini mengakibatkan suara pengajar tidak terdengar jelas saat proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung.

”Minggu-minggu ini memang banyak kendala, terutama pada sinyal. Lalu, mau  paham bagaimana jika suaranya saja tidak jelas,” ungkap mahasiswa asal Lamongan tersebut (08/03).

Selain masalah secara teknis, masalah lainnya diungkapkan oleh Arsadi Nur Malik, sebagai mahasiswa Prodi Agribisnis. Arsadi menuturkan, terdapat fenomena mahasiswa yang mengubah metode perkuliahan dari Luar Jaringan (Luring) menjadi Daring. Namun, menurutnya hal ini terjadi bukan karena kebijakan universitas yang kurang tegas, melainkan kesalahan mahasiswa yang malas dalam mengikuti perkuliahan secara Luring.

”Mahasiswa yang datang ke Telang, tetapi malah memilih untuk Daring, tak lain dikarenakan malas dan masih terbawa suasana Daring,” tuturnya (08/03).

Menanggapi hal ini, Shofiyun Nahidloh, selaku Dekan Fakultas Keislaman (FKis) berpendapat, fenomena mahasiswa yang bergonta-ganti metode perkuliahan merupakan kemalasan dari mahasiswa tersebut. Adapun FKis telah mendata mahasiswa yang memilih Luring dan Daring yang seharusnya tidak bisa diubah. 

”Sejak awal, FKis sudah mendata yang memilih perkuliahan secara Luring atau Daring, yang kemudian tidak dapat diubah. Jika mahasiswa hari ini Luring, kemudian besok Daring, berarti memang kemalasan dari mahasiswa untuk datang ke kampus,” pungkasnya (08/03).

Sedangkan, untuk perihal fasilitas perkuliahan Luring, Shofiyun berpendapat telah memadai. Misalnya dengan pengadaan akses poin Wireless Fidelity (Wi-Fi) di setiap dua kelas sebagai penyempurna kegiatan pembelajaran hybrid. 

”Universitas sudah memberikan fasilitas berupa akses poin Wi-Fi untuk memudahkan mahasiswa dalam perkuliahan hybrid, baik yang di kelas ataupun yang secara Daring,” imbuhnya saat ditemui di ruangan.

Senada dengan Shofiyun, Arie Wahyu Prananta, selaku Kepala Prodi (Kaprodi) Sosiologi mengungkapkan, fasilitas untuk perkuliahan Luring sudah bisa dikatakan cukup baik. Tambahan peralatan seperti perangkat jemala bluetooth, nantinya akan disediakan oleh fakultas. 

”Fasilitasnya saya rasa cukup, karena dari fakultas akan menyediakan perangkat jemala bluetooth agar mahasiswa Daring bisa mendengar jelas. Namun, minusnya yakni kamera laptop yang kadang tidak begitu jelas, serta teknis pemakaiannya yang di mana tidak semua dosen mampu mengoperasikan tanpa adanya pelatihan terlebih dahulu,” ungkapnya (09/03).

Adapun Arie berharap agar KBM bisa dilaksanakan dengan kapasitas seratus persen Luring. Hal ini disebabkan, model perkuliahan yang sekarang membutuhkan fasilitas dua kali lipat dan juga dinilai mempersulit mahasiswa.

”Semoga cepat Luring seratus persen agar pengondisiannya lebih mudah, baik dari fasilitas maupun mahasiswanya,” harapnya (09/03). 

Adapun perihal Prokes, Deviana Ayu, salah satu mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi menuturkan, penerapannya masih dirasa kurang. Menurutnya masih terdapat dosen dan mahasiswa yang tidak menggunakan masker, baik saat jam perkuliahan maupun tidak. Selain itu, terdapat mahasiswa yang tidak mencuci tangan saat akan memasuki kelas dan tidak melakukan pindai PeduliLindungi seperti yang dianjurkan.

”Penerapan Prokes masih tidak sesuai aturan, seperti beberapa dosen dan mahasiswa terlihat tidak menggunakan masker saat KBM berlangsung maupun tidak,” ungkap mahasiswa asal Tuban tersebut (09/03).

Adapun tanggapan dari pihak dekanat, Mohammad Fuad Fauzul Mu’tamar menjelaskan, untuk fasilitas Prokes beberapa fakultas sudah terpenuhi, mulai dari alat cek suhu dan hand sanitizer. Tak hanya itu, beberapa tempat juga dijaga oleh tim pengawas untuk mengingatkan mahasiswa agar mencuci tangan sebelum memasuki gedung. 

”Beberapa mahasiswa memang ada yang melanggar, tapi tidak sedikit juga yang tetap taat peraturan,” jelas pria asal Jember tersebut (08/03).

Fuad juga menambahkan, setiap seminggu sekali akan ada penyemprotan disinfektan yang dilakukan pada sore atau hari libur kuliah agar tidak mengganggu proses KBM mahasiswa.

Adapun Ari Basuki, selaku Dekan Fakultas Teknik (FT) mengungkapkan, meskipun telah disediakan tempat cuci tangan, terkadang mahasiswa tidak menggunakannya seperti pada Prokes.

”Mahasiswa memang begitu, sudah disediakan fasilitas dan disuruh menerapkan Prokes, tetap saja masih ada yang melanggar dengan berbagai alasan,” ungkap pria asal Sidoarjo itu (08/03).

Perihal Prokes di FKis, Shofiyun menuturkan, FKis telah disediakan fasilitas seperti tempat cuci tangan, cek suhu, dan hand sanitizer. Namun, dirinya mengaku untuk kode Respon Cepat (RC) PeduliLindungi masih belum disediakan.

”Menurut saya, Prokes di FKis sudah cukup memadai. Namun, untuk kode RC PeduliLindungi masih belum disediakan. Siapa yang menyediakan saya kurang tahu, apakah disediakan oleh pihak fakultas atau universitas,” tuturnya.

Menanggapi hal ini, Supriyanto, selaku Kepala Biro Akademik, Administrasi, Kemahasiswaan, Perencanaan, dan Sistem Informasi (BAAKPSI) menjelaskan, universitas telah memberikan banyak fasilitas Prokes. Namun, untuk kode RC PeduliLindungi masih belum diadakan sepenuhnya.

”Hanya saja, beberapa masih belum disediakan kode RC PeduliLindungi, namun secepatnya akan menyusul,” ungkap pria asal Nganjuk tersebut (09/03). (WN/J2)
×
Berita Terbaru Update