Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Aliansi UTM Berjuang Adakan Seruan Aksi, hingga Penyegelan Ruang Rektorium

Jumat, 04 Februari 2022 | 07.52.00 WIB Last Updated 2022-04-26T10:43:41Z

WKUTM – Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang tergabung dalam Aliansi UTM Berjuang mengadakan seruan aksi di depan gedung rektorat (04/02) pukul 09.30 WIB. Seruan ini juga disertai dengan aksi  penyegelan ruang rektor, Wakil Rektor (Warek) II Bidang Umum dan Keuangan, dan ruang Kepala Biro Umum dan Keuangan (BUK). 

Seruan aksi ini diikuti oleh peserta orasi yang berjumlah sekitar 35 orang. Dalam aksi ini, peserta memberikan beberapa tuntutan, yakni kejelasan penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT), tanggal herregistrasi yang dirasa rancu, transparansi dana pembangunan masjid UTM, dan kepastian Pembelajaran Tatap Muka (PTM). 

Menanggapi hal tersebut, Ningwar, selaku Kepala BUK menegaskan penurunan UKT telah ada konsepnya. Namun, berkas tersebut belum ditandatangani oleh rektor. Adapun penurunan UKT tersebut hanya diberikan kepada mahasiswa yang terjangkit Corona Viruses Disease 2019 (Covid-19), orang tuanya meninggal, pensiun, atau Putus Hubungan Kerja (PHK). 

“Berkasnya masih di rektor, tetapi perihal sudah ditandatangani atau belum masih tidak tahu karena hari ini beliau belum datang,” tegas Ningwar (04/02).

Terkait mahasiswa yang mengeluhkan perihal tidak adanya surat PHK karena mayoritas pekerjaan orang tua sebagai petani, Ningwar mengaku hal tersebut masih dipelajari. Sedangkan, untuk permasalahan kerancuan herregistrasi, Ningwar menyerahkan masalah tersebut kepada Supriyanto, selaku Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan, dan Sistem Informasi (BAAKPSI).

“Saya akan sampaikan yang terkait dengan bidang saya, yakni penurunan UKT. Memang untuk hal ini sudah ada konsep, namun belum ada tanda tangan, tetapi sudah di rektor,” tuturnya.

Menanggapi kerancuan tanggal herregistrasi, Supriyanto, mengungkapkan apabila hal tersebut memang kesalahan teknis oleh pihak BAAKPSI. Dalam hal ini, pihaknya menegaskan akan segera membatalkan pengumuman tersebut dan menerbitkannya kembali pada hari Senin atau hari Selasa depan.

“Untuk hal itu mohon maaf tanggalnya memang salah, namun nanti bisa diperbaiki lagi,” ungkap pria asal Nganjuk tersebut (04/02).

Sedangkan terkait kepastian PTM, Supriyanto menuturkan UTM akan melangsungkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) semester genap ini secara tatap muka 100 persen. Namun, hal ini dapat dilaksanakan dengan beberapa syarat, yakni memenuhi Prosedur Kesehatan (Prokes), telah mendapatkan vaksin dosis kedua, dan mempunyai surat izin dari orang tua.

“Nanti masing-masing gedung akan disediakan dua titik untuk pengecekan suhu dan scan barcode Peduli Lindungi,” tuturnya.
 
Supriyanto berharap, pihaknya dapat memberikan pelayanan optimal meski mahasiswa mengeluhkan mengenai uang UKT. Hal tersebut dikarenakan penurunan UKT dapat menimbulkan penurunan pendapatan bagi UTM.

“Ya, bagaimana mau optimal kalau pendapatan kita menurun,” pungkasnya.

Penyegelan Ruangan dan Aksi Bakar Ban

Saat aksi, peserta orasi mendapatkan kesaksian bahwa pihak rektorium sedang tidak ada di tempat. Namun, dikarenakan adanya kecurigaan, akhirnya para peserta memutuskan masuk secara paksa dan menyegel  ruang Rektor, Warek II, dan Kepala BUK.

Menanggapi hal tersebut, Abdurrahman Wahed, selaku Koordinator Lapangan (Korlap) Aliansi UTM Berjuang mengungkapkan apabila hal ini merupakan bentuk aspirasi mahasiswa. Dirinya berpendapat penyegelan tersebut adalah hasil dari kekesalan sekaligus peringatan.

”Seharusnya ketika aspirasi dari mahasiswa disampaikan, rektor bersama kita. Jangan-jangan ketika kita sudah sampai sana, rektor bermain di belakang karena tidak mau menemui kita,” ungkapnya (04/02).

Selain penyegelan ruangan, peserta orasi juga melakukan aksi bakar ban dan meminta pihak rektorium agar segera menanda tangani press release yang diajukan. Kendati demikian, Ningwar akhirnya bersedia memastikan bahwa press release tersebut akan sampai kepada rektor dalam jangka waktu satu kali 24 jam.

“Iya saya akan menyampaikan, tapi bukan memutuskan karena keputusan bukan di saya,” pungkas pria asal Bangkalan tersebut.

Lebih lanjut Wahed menjelaskan, setelah adanya seruan aksi ini pihaknya akan melakukan pengawalan sesuai yang telah disepakati dengan Kepala BUK. Hal tersebut mengingat bahwa, yang dilakukan sesuai dengan prosedur, mulai dari surat audiensi yang sudah dikirimkan dan diterima.

‘’Kita tunggu hasilnya sampai Senin, dibedah hari Selasa. Kalau tidak ada kabar dari rektor, Rabu atau Kamis kita akan adakan aksi lagi dengan masa yang lebih besar,” lanjutnya.

Adapun Wahed berharap bahwa, rektor seharusnya memperhatikan seruan aksi dari Aliansi UTM Berjuang. Hal ini dikarenakan aksi kali ini dapat dilaksanakan tanpa bantuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Presiden  Mahasiswa (Presma).

“Kita tunggu dari BEM maupun Presma belum ada gerakan. Maka, sebagai mahasiswa bawahan Presma, kami menunjukkan bahwasannya kami lebih dari Presma,” ungkap mahasiswa asal Bangkalan tersebut. (Gi/Xin)
×
Berita Terbaru Update