Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menjadi Anak Baik di Tengah Ombang-Ambing Proyek UTM

Minggu, 09 Januari 2022 | 01.40.00 WIB Last Updated 2022-01-09T09:47:40Z
Rasa-rasanya isu molornya proyek di UTM bukanlah kabar yang segar lagi alias basi. Menurut rekam jejaknya, sejak tahun 2017 hingga sekarang terdapat cukup banyak proyek yang belum selesai. Sialnya, bukannya kekurangan seperti ini menjadikan muak dan ingin ditinggalkan, beberapa pihak malah seakan sepakat permasalahan seperti ini bagus untuk dibudidayakan atau bahkan dilanggengkan.

Hal ini terbukti dari kisah proyek wisata halal (2017) yang belum rampung, namun UTM sudah membikin projek lain seperti lembaga pemeriksa halal yaitu bagian dari halal center yang telah resmi 4 tahun lalu (2018), dan pembangunan masjid UTM (2019)—yang ujungnya saya kira sudah bisa ditebak: sama-sama belum rampung sampai sekarang.

Namun, penulis sendiri sebagai mahasiswa yang—boro-boro paham permasalahan kampus, merasakan pembelajaran tatap muka saja tidak pernah—bersama ingin mengajak pembaca yang budiman untuk membedah permasalahan-permasalahan ini. Sehingga jika suatu saat permasalahan-permasalahan sejenis hadir, pembaca lebih bisa menyadari perlunya pergerakan berlapang dada dan tidak rewel layaknya anak yang baik. 

Pertama, pembangunan masjid. Proyek ini telah berjalan sejak tahun 2019 yang lalu dengan anggaran dana sampai miliaran rupiah. Tercatat, proyek ini juga sempat terbengkalai pada tahun 2020 lalu. Beberapa waktu setelah itu pun masjid tersebut mengalami kemacetan pembangunan. Pihak rektorat berdalih jika kondisi pandemi menjadi penyebab utama kemacetan itu karena dana harus dialihkan untuk keperluan penanganan Covid-19 di area kampus yang memang penting dan bagus. Tentu tidak bisa dibayangkan jika UTM menjadi tempat penyebaran Covid-19 yang konon telah memakan banyak korban hingga saat ini. Untuk itu, mari kita berikan apresiasi yang besar untuk kebijakan UTM yang satu ini. 

Tetapi, jika dipikir-pikir kembali, kebutuhan menyambut Covid-19 di UTM hanya tempat untuk mencuci tangan, tisu, atau mungkin hand sanitizer yang—menurut pengamatan amatir penulis pengeluarannya tidak seberapa. Mahasiswa melakukan pembelajaran Daring dan dosen sempat melakukan Work from Home. Lantas jika memang tidak ada anggaran tersendiri untuk kasus Covid-19, untuk siapa penanganan Covid-19 tadi. Eh?

Mohon jangan salah sangka dahulu. Sekali lagi penulis hanya ingin mengajak pembaca untuk menjadi anak baik yang tidak neko-neko. Tetap percaya kepada pemimpin dan mendukung kebijakan yang ditetapkan. Dos, jika suatu saat nanti pembangunan masjid ini tidak kunjung rampung, husnuzan saja barangkali UTM mempunyai hajat yang preferensi, penambahan sekretariat baru misalnya.

Kembali pada kasus pembangunan masjid. Beberapa saat lalu terdapat rumor jika masjid UTM lama beralih fungsi menjadi lokasi halal center.

Setelah dikonfirmasi, tanggapan yang diberikan oleh pihak rektorat adalah hal tersebut tidak sepenuhnya benar,  dikarenakan rencana tersebut tidak disampaikan dalam diskusi resmi serta belum mencapai tahap kesepakatan bersama. Hal tersebut tentunya menimbulkan asumsi bahwa UTM dalam hal ini belum mempertimbangkan secara penuh terkait pembangunan masjid, sampai terkait pengalih fungsian bangunan masjid yang tergantikan saja belum jelas. Namun, sebagai anak yang baik mari berbaik sangka mungkin UTM melakukannya secara sengaja dan telah menyiapkan rencana rahasia lain, alias surprise.

Kedua, wisata halal. Program ini merupakan salah satu projek LPPM UTM. Wisata Halal akan beroperasi di Madura dan nantinya akan memusatkan pada suasana pemukiman islami yang akan menawarkan pengalaman berbau islami. Seperti diwajibkan menutup aurat di kawasan wisata dan lainnya. Dalam hal ini kita temui keunikan yang diprediksi dapat menarik perhatian turis mancanegara untuk berkunjung, sedangkan untuk UTM tentu saja  dikomersilkan, atau bisa dibilang semacam sangu tambahan.

Melihat rencana ini, saya kira jika terdapat kontes dalam hal wacana-mewacanakan proyek sekelas penghargaan Nobel Prize, seharusnya UTM mendapati peringkat pertama. Pasalnya, wacana yang digagas UTM memang luar biasa hebat—bukan dalam hal berbicara saja tentunya. Semoga. Sebab, terhitung dari tahun 2017 hingga sekarang wisata halal ini masih berupa wacana belaka dan belum beroperasi sepenuhnya.

Sedangkan yang ketiga, terkait lembaga pemeriksa halal. Proyek ini hingga kini masih belum terdapat produk pengujian halal yang telah dihasilkan. Hal tersebut tampak dari unggahan situs halal center UTM yang sejauh ini hanya berputar pada pelatihan-pelatihan saja, cukup aneh mengingat halal center sudah terbentuk sejak 4 tahun lalu. Walaupun begitu, sebagai mahasiswa awam saya hanya berpikir positif, mungkin saja UTM membutuhkan waktu setengah dekade untuk mewujudkannya.

Syahdan, berbagai proyek UTM memang dipenuhi oleh bermacam kendala. Namun sebagai anak yang baik sudah seharusnya kita memberikan kepercayaan proyek tersebut kepada yang berwenang serta mendukung kebijakan yang telah ditetapkan. Toh, saya yakin mahasiswa sekarang juga belum tentu nggenah perkara proyek-proyek besar sejenis ini. Akhir kata, sekalipun saya berharap kita semua dapat menjadi anak yang baik namun saya tidak menyarankan agar antum sekalian menjadi ayam ternak, mengikuti bagaimana peternaknya mencetak. Tabik!

Aditya Nur Firdaus
Sastra Inggris
Universitas Trunojoyo Madura

×
Berita Terbaru Update