WKTUTM – UTM berencana mengajukan pembukaan Program Studi (Prodi) Strata Tiga (S-3), yakni di Fakultas Hukum (FH) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Dilansir dari zoom Fakultas Pertanian (FP), FP juga berencana membuka Prodi S3 dengan telah melakukan proses studi banding ke Universitas Brawijaya Malang (UB).
Namun, Deni Setya Bagus Yuherawan, selaku Wakil Rektor (Warek) I Bidang Akademik, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak mengetahui terkait FP melakukan perencanaan membuka Prodi S-3.
”Saya tidak mengetahui tentang FP yang merencanakan Prodi S-3,”ungkapnya (06/10).
Slamet Subari, Selaku Dekan Fakultas Pertanian mengatakan jika sudah ada Surat Keputusan (SK) tim Task Force yang ditugaskan untuk mengkaji program S-3 Pertanian. Slamet menyebutkan persiapan yang dilakukan yaitu studi banding pasca sarjana Fakultas Pertanian UB Malang, kajian akademik seperti studi kelayakan untuk penentuan nama Prodi dan sudah adanya calon dosen tetap atau Homebase.
”FP sudah melakukan studi banding ke FP UB. Seperti halnya, kajian akademik studi kelayakan untuk penentuan nama Prodi,”ungkapnya (05/10).
Pria asal Bangkalan tersebut menambahkan jika tujuan dari penambahan S-3 untuk memberikan kesempatan kepada para pejabat Pemerintah Daerah (Pemda), akademisi, khususnya di wilayah Madura untuk mendapatkan layanan pendidikan S-3 yang mudah dijangkau dan memberikan wadah bagi para dosen FP UTM untuk mengembangkan keilmuan sebagai pengajar dan pembimbing S-3.
”Untuk memberikan wadah bagi para dosen FP UTM untuk mengembangkan keilmuan dengan menjadi pengajar dan pembimbing mahasiswa S-3,”tambahnya.
Teti Sugiarti, selaku Wakil Dekan (Wadek) I FP mengatakan jika pada tanggal 7 September 2021 lalu, tim Task Force FP UTM sudah dibentuk dengan tugas untuk menganalisa kelayakan, mengurus dokumen-dokumen persyaratan, dan sudah mengadakan rapat yang menargetkan realisasi draf dokumen pengajuan pada bulan Desember 2021.
”Task Force sudah mengadakan rapat dengan menargetkan pada bulan Desember sudah ada draf dokumen,”ungkapnya (14/10).
Perihal Studi Banding yang dilakukan FP, Teti menjelaskan bahwa saat ini sedang dilakukan pembelajaran Organisasi Tata Laksana. Seperti halnya penggabungan program S-2 Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) dengan Ilmu Teknologi Pertanian (ITP) untuk lebih memudahkan dalam pengajuan program S-3 ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti).
”FP sudah melakukan studi banding untuk belajar Organisasi Tata Laksana guna memudahkan pengajuan S-3 ke Dikti,”paparnya.
Perempuan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut, menambahkan jika untuk kriteria Prodi S-3, minimal waktu tempuhnya enam semester dengan perpanjangan menjadi tujuh semester. Teti mengatakan jikalau konsep yang ingin diusung pada program S-3, seperti kuliah dulu mulai dari 15 sampai 20 Satuan Kredit Semester (SKS) selanjutnya 28 SKS ada penulisan desertasi dan diadakannya mata kuliah filosofi keilmuan atau filsafat keilmuan dan metodologi riset.
Mendengar akan rencana S-3, Diana Badrut Tamami, Koordinator Program Studi (Koprodi) Agribisnis mengatakan jika dirinya mendukung pembukaan S-3 dikarenakan kebutuhan pasar yang mendukung dan berharap S-3 Pertanian segera direalisasi untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya di wilayah Madura.
”Untuk S-3 Pertanian segera direalisasikan, dipermudah pengajuan di Dikti sehingga SDM khususnya di Madura tidak perlu ambil kuliah di luar Madura,”harapnya (05/10).
Adapun dari FEB, Pribanus Wantara, selaku Dekan FEB mengatakan jika pihaknya sudah mengajukan pembukaan S-3, namun dikembalikan untuk direvisi yang salah satunya adalah terkait dosen pengampu yang harus diperbaiki. Sehingga diharapkan untuk tahun depan atau semester depan ada Report atau laporan yang positif.
”Sudah mengajukan tetapi dikembalikan untuk diperbaiki sehingga diharapkan tahun depan atau semester depan ada report positif,”ungkapnya (15/10)
Pribanus menambahkan jika konsep pembelajaran yang akan diusung adalah Blended Learning antara Luar Jaringan (Luring) dan Dalam Jaringan (Daring), dengan minimal waktu tempuh enam semester dengan 10 hingga 13 mata kuliah. Diantaranya dua atau tiga semester untuk teori di kelas, sedangkan sisanya membuat tugas akhir atau Disertasi.
”Pembelajaran akan dilakukan Blended Learning, waktu tempuh enam semester, dua atau tiga semester untuk teori, dan ada sekitar 10 hingga 13 mata kuliah,”tambahnya.
Sampai berita ini ditulis, FH belum memberikan pendapat apapun. (Hom/Ahr)
