WKUTM - Program Hibah Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) merupakan program yang diadakan oleh Universitas Trunojoyo Madura (UTM), yang diperuntukan bagi mahasiswa semester 1 dan 3, pada semester gasal 2020/2021. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam pelaksanaan penelitian dan pengabdian. Kendati demikian, program yang dilaksanakan sejak 10 November tersebut menuai pelbagai permasalahan, seperti: pelaksanaan yang terhenti pada penandatanganan kontrak, dana yang tidak kunjung cair, adanya pemotongan dana, hingga menimbulkan terbengkalainya penelitian.
Berdasarkan panduan hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tahun 2021, terdapat tujuh tahapan pada proses pelaksanaannya. Pertama, pengajuan proposal yang dimulai pada 11 November hingga 31 Desember 2020. Kedua, seleksi proposal yang dilakukan pada 5 Januari sampai 11 Januari 2021. Ketiga, penetapan pendanaan pada 13 Januari 2021. Keempat, penandatanganan kontrak pada 15 Januari 2021. Kelima, pelaksanaan penelitian yang dimulai pada 15 Januari 2021, hingga tiga bulan berikutnya. Keenam, mentoring dan evaluasi yang dilakukan pada bulan Maret 2021. Ketujuh, pelaporan akhir pada 30 Juni 2021. Namun, perihal pelaksanaannya, berhenti pada tahap penetapan pendanaan yang dimulai dengan keluarnya berita acara terkait mahasiswa yang lolos seleksi proposal.
Seperti yang diungkapkan oleh Moh. Syamsul Arifin, selaku mahasiswa Program Studi (Prodi) Agroteknologi. Pihaknya mengungkapkan bahwa hingga (08/10), belum ada tindak lanjut pada proses penandatangan kontrak. Sebelumnya, Syamsul juga telah menanyakan hal tersebut kepada Ketua Pelaksana, via WhatsApp (28/09). Tetapi, Ketua Pelaksana berdalih bahwa pihaknya tidak berani melakukan tindak lanjut pada program tersebut. Hal ini dikarenakan belum ada keputusan mengenai sumber dana Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
"Kami tidak berani melakukan tindak lanjut dari kegiatan hibah tersebut karena sumber pendanaan dari DIPA belum ada keputusan," tutur Andrie Kisroh Sunyigono, selaku Ketua Pelaksana kepada Syamsul via WhatsApp (28/09).
Mengonfirmasi hal tersebut, Andrie masih belum memberikan keterangan lanjut dan melemparkannya ke Kepala Biro Administrasi, Akademik, Kemahasiswaan dan Perencanaan Sistem Informasi (BAAKPSI).
”Maaf dua minggu ini saya di lapang. Informasi dari saya tentunya sama dengan informasi dari Kepala BAAKPSI,” ungkap pria kelahiran Banyuwangi tersebut (14/10).
Sedangkan, Supriyanto, selaku kepala BAAKPSI, mengungkapkan bahwa untuk masalah dana sebenarnya ingin memberikan sebesar Rp5 juta sampai Rp7 juta akan tetapi anggaran tidak cukup. Perihal masalah dana lebih lanjut Supriyanto menyarankan agar bertanya ke Andrie. Pria asal Nganjuk itu juga menuturkan bahwa total masing-masing penelitian 18 kelompok dan pengabdian 18 kelompok. Jika nanti hanya 16 judul dan 2 dikembalikan maka dana tidak dapat dibagikan ke lainnya.
”Kemarin yang diusulkan berapa Pak Andrie kan gitu, sebagai ketua sebetulnya kan tahu peruntukannya untuk apa-apa,” ungkap Supriyanto saat ditemui di ruangannya (14/10).
Adapun dari Wakil Rektor (Warek) III, Agung Ali Fahmi, menuturkan untuk bertanya kepada Ketua Pelaksana.
”Langsung ke Pak Andrei saja,” jawab pria kelahiran Surabaya itu (08/10).
Pemotongan Dana Program Hibah Riset dan PKM
Pada 28 September lalu, Ketua Pelaksana program hibah riset dan pengabdian kepada masyarakat mengadakan rapat koordinasi dengan mahasiswa yang lolos pendanaan. Rapat yang dilakukan secara virtual melalui Zoom tersebut, dihadiri oleh Warek III dan Kepala Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan dan Perencanaan Sistem Informasi (BAAKPSI). Namun, pembahasan pada rapat tersebut berujung pada pemotongan dana program, yang semula Rp7 juta untuk hibah dan Rp5 juta untuk pengabdian, menjadi Rp5 juta untuk hibah dan pengabdian sebesar Rp4 juta.
Masih dengan Syamsul, pihaknya mengungkapkan bahwa adanya rapat tersebut diadakan atas permintaan darinya, bukan atas kesadaran pribadi pihak pelaksana. Selain itu, Syamsul juga menambahkan bahwa terdapat pembahasan pemotongan dana pada program ini.
"Kemarin saya sendiri join di zoom itu, saya mendengar sendiri dari pernyataan Pak Andrie bahwa dana itu yang semula 5-7 juta akan dipotong menjadi 4-5juta," ungkapnya.
Akibat pemotongan dana tersebut, Syamsul merasa kecewa karena haknya sebagai mahasiswa tidak terpenuhi. Dia menjelaskan bahwa penelitian hibah riset yang dia kerjakan terhenti, lantaran tidak ada dana untuk melanjutkan penelitian.
"Penelitian saya akan tersendat dalam segi pendanaan apalagi penelitian saya lebih dari apa yang dianggarkan oleh pihak pelaksana," tuturnya.
Pria asal Pamekasan tersebut berharap kepada pihak pelaksana, untuk tidak memotong hak yang telah ditangguhkan agar program ini dapat terlaksana.
"Kepada pihak pelaksana itu jangan memotong hak-hak yang sudah ditangguhkan kepada mahasiswa tentunya teman-teman yang ikut program ini karena akan kecewa," harapnya.
Senada dengan Syamsul, Fijannati Lilla Naim Azzaroh, selaku mahasiswa Prodi Agroteknologi merasa kecewa atas pengurangan dana tersebut. Hal ini dikarenakan pihaknya menilai bahwa dana yang dianggarkan tidak cukup untuk melakukan penelitian.
”Jelas mempengaruhi, kekurangan uangnya ini dapat dari mana. Kalau semisal menambal dari anggota kelompok hanya bisa semampu kita. Tapi kalau sampai jutaan itu keberatan kalau menambal untuk menutupi kekurangan dananya,” ungkap Fijannti saat dihubungi (05/10).
Fijannati juga berharap untuk kedepannya agar tidak terjadi pemotongan dana dan besaran jumlah dana tetap sama seperti di proposal. Pihaknya juga menambahkan untuk tidak memotong dana terlalu banyak, apabila pemotongan dana tersebut tetap terjadi.
”Kalau bisa dananya tidak dipotong, sesuai sama jumlah nominal di proposal. Kalau misalkan dipotong jangan banyak-banyak, ini sedang pandemi, agak krisis dengan uang, kalau misal dananya dipotong pasti memberatkan kami semua,” harapnya.
Terbengkalainya penelitian
Adapun dampak dari belum adanya informasi terkait kelanjutan program hibah riset dan PKM menyebabkan penelitian menjadi terbengkalai. Mutia Afifah Zahra, selaku mahasiswa Prodi Agroteknologi, mengungkapkan bahwa setelah diadakan rapat koordinasi (28/09), belum ada informasi mengenai kelanjutan program tersebut.
"Terakhir kemarin pada tanggal 28 September namun hingga sekarang belum ada info lanjutan lagi," ungkap Mutia (12/10).
Mutia juga menambahkan bahwa kelompoknya telah memulai penelitian sejak Februari, namun setelah dua bulan penelitian tersebut berhenti lantaran belum ada informasi lebih lanjut dan menunggu hingga adanya informasi baru.
“Namun setelah dua bulan belum ada info lagi akhirnya kami berhenti melaksanakan penelitiannya untuk sementara hingga adanya info lebih lanjut,” tuturnya.
Mutia juga berharap agar dalam pelaksanaan hibah riset PKM ini dapat terkoordinir dari panitia yang menyelenggarakan terhadap terselenggaranya acara, selain itu agar juga segera terlaksana tanda tangan kontrak sehingga riset dapat berjalan dengan baik.
”Semoga lebih terkoordinir, dan disegerakan untuk tanda tangan kotrak agar riset berjalan lancar,” harapnya. (Vi/J2)
