WKUTM – Dilansir dari laman library.trunojoyo.ac.id, Perpustakaan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah melakukan peresmian program Go Read Service pada September 2021. Dipandu secara langsung oleh Deny Setya Bagus, selaku Wakil Rektor (Warek) I bidang akademik. Program yang direncanakan sejak tahun 2020 ini masih memiliki beberapa kekurangan, di antaranya perihal sosialisasi yang belum menyeluruh dan jarak pengiriman yang tebatas hanya lima kilometer saja.
Iriani Ismail, selaku Kepala Unit Pelayanan terpadu Perpustakaan (UPT Perpustakaan), mengungkapkan bahwa program Go Read Service bertujuan untuk memudahkan mahasiswa dalam meminjam buku. Sehingga calon peminjam tidak perlu datang ke perpustakaan secara langsung, guna meminimalisir kerumunan. Namun, untuk jarak tempuh pengiriman dibatasi hanya lima kilometer dari universitas, dengan maksimal waktu peminjaman tiga hari.
”Tujuannya agar mahasiswa tidak perlu datang langsung ke kampus untuk menghindari kerumunan, namun tetap ada ketentuan seperti batas pengiriman maksimal hanya lima kilometer, dan durasi peminjaman hanya tiga hari,” ungkap Iriani saat diwawancara di ruangannya.
Untuk mekanisme peminjaman sampai pengembalian buku, pihaknya menuturkan bahwa, langkah utama yaitu memilih buku pada website e-library UTM. Selanjutnya menghubungi narahubung yang tertera, kemudian pihak perpustakaan akan mengirimkan buku sesuai yang dipesan. Tiga hari kemudian, peminjam wajib mengonfirmasi pada pihak perpustakaan untuk pengambilan atau perpanjangan buku. Setelah itu kurir mengambil buku berdasarkan lokasi peminjam.
”Mekanismenya mudah, tinggal menghubungi narahubung yang tertera. Kemudian mengirimkan daftar buku yang akan dipinjam, setelah itu peminjam perlu mengonfirmasi terlebih dahulu untuk perpanjangan atau pengembalian. Lalu pihak kurir perpustakaan akan mengantar sesuai dengan lokasi tujuan,” jelasnya.
Lilik Suprihatin, selaku Narahubung program Go Read Service, mengungkapkan bahwa sejak diresmikan pada 15 September 2021, sosialisasi untuk mahasiswa hanya menggunakan selebaran berupa brosur dan ucapan dari mulut ke mulut, hal ini yang menjadikan sosialisasi ini dianggap belum menyeluruh.
”Sementara ini untuk sosialisasinya belum menyeluruh masih menggunakan brosur dan ucapan dari mulut ke mulut,” ungkap Lilik saat diwawancara di ruangannya (24/09).
Senada dengan Lilik Suprihatin, Julianto, yang juga selaku Narahubung program Go Read Service, menuturkan bahwa, untuk sosialisasi baik kepada masyarakat atau mahasiswa masih belum menyeluruh. Dikarenakan jika dilakukan secara langsung kepada masyarakat masih terkendala pandemi, Pihaknya saat ini menggunakan cara sosialisasi secara daring seperti mengunggah pada portal media Pojok Suramadu website, dan akun media sosial perpustakaan UTM.
”Sosialisasi kepada masyarakat dan mahasiswa memang masih dalam tahap awal dan belum menyeluruh karena terkendala pandemi, tetapi sudah diunggah lewat beberapa portal media seperti Pojok Suramadu, website perpustakaan dan akun media sosial perpustakaan,” tuturnya (24/09).
Menanggapi hal tersebut, Deny Setya Bagus, selaku Wakil Rektor (Warek) I bidang akademik, berdalih bahwa program Go Read Service masih tahap awal dan uji coba. Pihaknya mengatakan meski masih ada kelemahan, sebagian besar program tersebut sudah cukup bagus. Sedangkan sisanya menunggu respon dan kebijakan.
”Namanya juga tahap awal uji coba, pasti ada kelemahan, namun secara gagasan sudah baik, sisanya menunggu respon dan kebijakan selanjutnya,” ungkap Deny saat diwawancara via WhatsApp.
Sementara itu, Agung Izzul Haq, selaku mahasiswa Program Studi (Prodi) Sosiologi, menanggapi bahwa terkait ketentuan jarak maksimal pengiriman lima kilometer dianggap kurang efektif.
”Seharusnya jaraknya diperluas lagi, karena teman-teman yang di luar wilayah ketentuan lima kilometer tidak bisa meminjam buku serta merasakan program ini,” tutur pria asal Gresik tersebut.
Nindya Hanum Rahmawati, selaku mahasiswa Prodi Manajemen, mengungkapkan bahwa sosialisasi program ini masih dianggap kurang kepada mahasiswa. Pihaknya berharap agar sosialisasi juga dilakukan melalui akun-akun media sosial Keluarga Mahasiswa (KM) seperti akun milik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), dan Himpunan Program Studi (HMP).
”Dari segi sosialisasi bisa dikatakan kurang, kenapa tidak melalui akun BEM, DPM, dan HMP yang memang targetnya untuk mahasiswa,” ungkapnya via telepon WhatsApp. (WN/MEL)
