![]() |
| Cek Plagiasi. Foto: Mbrk |
WKUTM – Berdasarkan data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP), Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah berlangganan software cek plagiasi online bernama Turnitin dengan dana yang dianggarakan sebesar Rp. 200.000.000,-. Namun, akun software cek plagiasi ini hanya diperuntukkan dosen dan operator Program Studi (Prodi), sedangkan untuk mahasiswa, UTM belum menyediakan.
Eva Nurhayati selaku mahasiswa Prodi Agribisnis mengaku bahwa selama ini dia harus menggunakan cek plagiasi sebanyak tiga kali dengan software cek plagiasi yang berbeda lantaran tidak adanya pakem software cek plagiasi dari dosen. Eva berpendapat jika mahasiswa seharusnya juga diberikan turnitin dikarenakan banyak dosen yang menentukan tingkat plagiasi untuk tugas kuliah mereka.
”Kita sebagai mahasiswa, seharusnya juga diberikan akses Turnitin,” ungkap perempuan asal Gresik tersebut.
Senada dengan Eva, Moch. Andyka Saputra selaku mahasiswa Prodi Teknik Informatika berpendapat jika mahasiswa seharusnya diberi fasilitas cek plagiasi Turnitin untuk dapat mempermudah mahasiswa dan dosen. Menurutnya hal ini dapat mempersingkat waktu pembuatan skripsi dan tugas lainnya.
”Daripada dosen coret-coret revisi karena terdeteksi plagiat, lebih baik disediakan fasilitas cek plagiasi saja,” ungkapnya.
Mahasiswa asal Sidoarjo ini juga mengungkapkan bahwa setiap software cek plagiasi memiliki algoritma berbeda sehingga menjadikan tingkat akurasi yang berbeda-beda pula. Menanggapi ini, menurutnya akan lebih baik jika antara dosen dan mahasiswa diberikan tool yang sama.
Ketika diwawancarai pada Senin (19/4), Supriyanto selaku Kepala Biro Administrasi, Akademik, Kemahasiswaan Perencanaan dan Sistem Informasi (BAAKPSI) mengungkapkan terkait langganan software plagiasi tersebut diserahkan kepada setiap Prodi.
”Untuk masalah pemakaian langganan software plagiasi diserahkan kepada Prodi,” tuturnya.
Menanggapi hal tersebut, Bani Eka Dartiningsih selaku Kepala Prodi Ilmu Komunikasi mengatakan bahwa terkait Turnitin dipergunakan bagi dosen untuk cek plagiasi.
”Untuk Prodi Ilmu Komunikasi Turnitin digunakan untuk dosen jika mahasiswa meminta bantuan kepada admin untuk cek plagiasi skripsi saja,” ungkapnya.
Dia mengaku bahwa selama ini, perihal cek plagiasi tugas, mahasiswa akan mengecek secara pribadi dengan software cek plagiasi yang dipercayai karena setiap dosen memiliki kebijakan yang berbeda.
Senada dengan Eka, Novi Diana Badrut Tamami selaku Kepala Prodi Agribisnis menjelaskan bahwa terkait akun Turnitin hanya dimiliki oleh dosen dan operator Prodi untuk mengecek plagiasi hasil tugas dari mahasiswa.
”Dosen dan mahasiswa menggunakannya untuk hasil ujian take home, tugas, laporan PKL, draft skripsi, artikel ilmiah tapi yang memiliki akun hanya dosen dan operator Prodi,” jelasnya.
Novi juga menambahkan jika mahasiswa tidak dapat menggunakan fasilitas cek plagiasi tersebut dikarenakan keterbatasan pemegang akun.
Sementara itu dari pihak dosen, Resti Prastika Destiarni, selaku dosen Prodi Agribisnis mengungkapkan jika perbandingan persentase plagiasi antara Turnitin dengan checker adalah 30% dan 20%.
”Jika menggunakan checker tingkat plagiasinya sebesar 20%, sedangkan Turnitin masih bisa 30%,”ungkap perempuan asal Pamekasan tersebut.
Yeni Kustiyahningsih, selaku dosen Prodi Sistem Informasi mengungkapkan jika akun Turnitin tersebut digunakan khusus untuk dosen dan karyawan dan hak akses terbatas diberikan kepada mahasiswa tingkat akhir.
”Untuk akun Turnitin dikhususkan untuk dosen dan karyawan sedangkan mahasiswa tingkat akhir hanya diberikan hak akses terbatas, saran saya lebih baik dibentuk tim khusus untuk mengecek plagiasi mahasiswa atau diberikan fasilitas cek plagiasi meskipun bukan Turnitin, misalkan dibuat software khusus,” ungkap perempuan asal Sidoarjo tersebut. (Hom/Puk)

