![]() |
| Universitas Trunojoyo Madura. Foto: Hom |
WKUTM-Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri yaitu, Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Menteri Agama (Menag), Menteri Kesehatan
(Menkes), dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) mengenai Panduan Penyelenggaraan
Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa
Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), pemerintah akan
melaksanakan pembelajaran secara Luar Jaringan (Luring). Terkait hal ini, Universitas Trunojoyo Madura
(UTM) belum melakukan persiapan secara maksimal.
Ningwar selaku
Kepala Biro Umum dan Keuangan (BUK) sekaligus Kepala Satuan Tugas (Satgas)
penanganan Corona Virus Disease 2019
(Covid-19) UTM mengungkapkan jika
persiapan yang sudah dilakukan oleh UTM masih sebatas menyiapkan tempat cuci
tangan dengan jumlah yang belum merata, sehingga dia berencana akan melakukan
penambahan fasilitas tempat cuci tangan.
”Saya
sesuaikan dengan peraturan pemerintah daerah, sampai saat ini belum ada
informasi untuk luring,” ungkapnya.
Nigwar menambahkan,
meskipun pemerintah pusat sudah melakukan upaya untuk memaksimalkan
pembelajaran luring semester depan, namun terkait penerapan kuliah luring bergantung
pada perizinan pemerintah daerah.
”Jika Bupati
mengatakan `aman`, maka pembelajaran untuk semester depan dapat dilakukan
secara luring dengan memperhatikan protokol kesehatan,” tutur pria asal Bangkalan
tersebut.
Terkait sistem
pembelajaran dari fakultas, Lailatul Qadariyah, selaku Wakil Dekan (Wadek) I
Fakultas Keislaman, mengungkapkan jika seluruh Wadek I, Koordinator Prodi
(koorprodi), dan kepala Jurusan (kajur) Fakultas Se-Universitas telah melakukan
koordinasi berkaitan dengan persiapan pembelajaran untuk semester gasal.
”Ada dua wacana
yaitu bisa luring 100% dan luring 50%,” ungkapnya.
Lailatul Menambahkan
jika pihak fakultas telah mempersiapkan fasilitas untuk menunjang penerapan
protokol kesehatan seperti alat pengukur suhu dan tempat cuci tangan.
”Untuk ruangan
pembelajaran sendiri sudah diatur dengan cara jaga jarak,” imbuhnya.
Berbeda dengan
Lailatul yang mengungkapkan masih ada dua opsi, Kurniyati Indahsari selaku
kepala LP3MP (Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Mutu Pendidikan)
mengungkapkan jika teknis pembelajaran tidak boleh 100% luring.
”Kita lihat prosedurnya
seperti apa, karena kalau tidak nantinya akan menimbulkan cluster penyebaran covid-19 terbaru,” ungkapnya.
Yudha Dwi, dosen
Fakultas Teknik (FT) mengungkapkan jika pihaknya sudah mempersiapkan diri untuk
pembelajaran luring seperti melakukan vaksinasi, memperbanyak stock masker,
hand sanitizer, sekaligus alat pembelajaran luring.
”Saya rasa UTM
sudah mulai mempersiapkan wacana tersebut salah satunya dengan mengikuti
program pemerintah yaitu vaksinasi untuk pegawai dan dosen UTM,” ungkapnya.
Sementara itu,
Septiana Laraswati, selaku mahasiswa Program Studi (Prodi) Agroteknologi
mengungkapkan bahwa dia belum banyak mempersiapkan diri seperti penyambutan
wacana luring yang dicanangkan oleh pemerintah pusat.
”Mungkin 50 % persiapan, susahnya
nanti karena akan menerapkan protokol kesehatan,” ungkapnya.
Mahasiswa asal Pamekasan ini berharap jika semester gasal dilakukan pembelajaran
secara luring, maka kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik.
”Semoga terlaksana dengan baik dan jika memang tidak bisa sepenuhnya luring tidak apa-apa tapi kouta pelajar harus tetap berjalan,” harapnya. (Iis/Jj)

