![]() |
| Toilet Sekber UTM Rusak. Foto: Gi |
WKUTM
– Berdasarkan data
Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) Lembaga Kebijakan Pengadaan
Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP), perawatan toilet Universitas Trunojoyo
Madura (UTM) direncanakan rampung pada awal bulan April, namun hingga menjelang
bulan Mei 2021 rencana ini belum terlaksana secara total. Kondisi beberapa
toilet di fakultas keislaman, fakultas ilmu pendidikan, fakultas ilmu sosial
dan ilmu budaya, gedung cakra, dan toilet sekretariat bersama (Sekber)
mahasiswa, masih dalam keadaan rusak.
Budi
Jaya Sugiarto, selaku Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) memaparkan bahwa
perawatan toilet dilakukan secara berkala. Saat ini, beberapa toilet yang telah
direhabilitasi terlebih dahulu adalah toilet di laboratorium terpadu dan
laboratorium sosial. Perawatan toilet di
kedua gedung ini didahulukan, lantaran saat ini gedung tersebut sering
digunakan, seperti untuk Ujian Berbasis Komputer (UTBK).
”Perawatan
toilet yang didahulukan, misalnya gedung untuk UTBK dan sekber, karena itu yang
dibutuhkan segera,” papar pria asal Bangkalan tersebut.
Namun,
berdasarkan pengamatan tim Lembaga Pers Spirit Mahasiswa (LPM SM), dari toilet
di lantai dua, toilet lantai tiga, dan toilet di lantai empat gedung
laboratorium sosial, masih ditemukam banyak pintu dengan tulisan 'toilet rusak'
dan air pada wastafel tidak mengalir.
Adapun
perihal dana, tertulis pada SIRUP LKPP bahwa, UTM telah menganggarkan dana
sebesar 200 juta rupiah untuk perawatan toilet. Menanggapi hal tersebut,
Ningwar selaku Kepala Biro Umum dan Keuangan (BUK) mengaku belum menerima
laporan program perawatan toilet, pihaknya belum menerima detail laporan untuk
program perawatan tersebut.
”Saya
tidak tahu dan belum mendapat kontrak detilnya seperti apa, berapa
pengeluarannya, apa yang perlu diperbaiki. Walaupun, di SIRUP LKPP itu dipasang
dana tertinggi (pagu),” akunya.
Muhammad
Badar Rizki Darmawan selaku mahasiswa program studi (Prodi) hukum bisnis
syariah pernah menyinggung perihal toilet di fakultas keislaman yang kurang
memadai saat rapat dengan kepala Prodi dan jajarannya sebagai salah satu
perwakilan dari mahasiswa. Namun, ia mengaku belum mengetahui bagaimana
penindaklanjutan dari keluhannya.
”Untuk
ditanggapi atau tidaknya, itu kita memang kurang tahu karena adanya pandemi.
Jadi saya sebagai komting juga tidak mengetahui secara pasti,” singgungnya.
Senada
dengan Badar, Muhammad Hilhamdi Romadhon selaku mahasiswa Prodi Teknik
Informatika mengaku juga mengalami kesulitan sebab toilet sekber tidak
berfungsi dengan baik. Adapun keadaan toilet sekber antara lain pintu toilet
yang rusak, tidak adanya air yang mengalir, dan keadaan toilet yang kering dan
kotor.
”Karena
keadaan ini, saya sering pergi ke masjid lama UTM untuk mencari toilet
alternatif,” akunya.
Mahasiswa asal Bangkalan tersebut berharap agar toilet sekber segera diperbaiki sehingga toilet tersebut segera dapat digunakan. (Ang/Ahr)

