WKUTM – Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2020 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) di hari ketiga diisi materi bertemakan tentang pengabdian masyarakat dan riset sumber daya pangan lokal (16/09).
Khairul Amin, selaku presiden mahasiswa (presma) UTM, dalam sesi bincang bersama Raudiatuzzahra selaku moderator menjelaskan bahwa pengabdian mahasiswa kali ini tidak hanya terbatas pada kegiatan terjun langsung ke masyarakat.
”Perlu dipahami, bahwa konteks pengabdian kali ini tidak terbatas hanya pada kegiatan terjunnya mahasiswa secara langsung ke masyarakat, akan tetapi secara lebih luas, pengabdian dapat dilakukan di tempat dan kondisi apapun,” ujarnya via Youtube (16/09).
Menanggapi hal itu, Sholihah Agustina selaku peserta PKMMB UTM tahun 2020, mengatakan bahwa dalam hal ini, pengabdian masyarakat yang dicanangkan oleh panitia PKKMB UTM dirasa kurang efektif sebab, tugas yang diberikan rawan untuk dimanipulasi..
”Kegiatan pengabdian yang hanya dibuktikan dengan mengunggah foto di media sosial, bisa saja hanya terlihat seperti formalitas belaka. Mengingat, hal ini rawan untuk dimanipulasi oleh peserta dengan berpura-pura untuk terlihat seperti sedang melakukan pengabdian, padahal tidak,” ujar mahasiswa baru Fakultas Ilmu Pendidikan tersebut.
Lebih jauh, dirinya mengatakan bahwa daripada pengabdian masyarakat, kegiatan riset pangan lokal dinilai jauh lebih baik. Mengingat, kegiatan tersebut harus dibuktikan dengan hasil karya serta video dalam proses pembuatannya.
”Saya rasa kegiatan riset pangan lokal lebih baik jika dibandingkan dengan pengabdian masyarakat. Karena, hal itu harus dibuktikan dengan hasil karya serta video proses pembuatannya,” tambahnya.
Perihal kebutuhan kuota yang besar bagi mahasiswa baru dan stabilitas jaringan internet, Ninuk Isma Safitri, mahasiswa program studi Manajemen mengungkapkan, jika kendala utama peserta PKKMB kali ini adalah besarnya kuota serta stabilitas sinyal. Mengingat segala materi yang disampaikan dalam kegiatan PKKMB daring ini berupa tayangan video, maka dibutuhkan kuota yang besar serta sinyal yang stabil untuk hal itu.
”Kendala yang saya alami saat mengikuti kegiatan PKKMB kali ini adalah perihal besarnya kuota dan stabilitas sinyal. Melihat rentetan materi yang disampaikan panitia, hampir semuanya berbentuk video, maka diperlukan kuota serta sinyal yang stabil untuk itu,” ungkapnya.
Sampai berita ini terbit, Wahid Khairul Ikhwan, Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Pendidikan yang juga menjabat sebagai ketua panitia PKKMB UTM tahun 2020, tidak dapat dimintai keterangan perihal kendala yang dialami mahasiswa baru. Begitu juga dengan Slamet Hendra Riyadi, ketua panitia pelaksana PKKMB UTM tahun 2020, juga masih belum memberikan keterangan apapun. (Yu/Uya)
