Di zaman sekarang, ketika seseorang hendak membicarakan tentang tanggung jawab sebaiknya pikir-pikir dulu karena akan sulit dijelaskan. Mengingat hal ini merupakan salah satu tindakan yang sangat jarang kita jumpai pada dekade terakhir ini. Bagaimana tidak, dalam lingkup kecil di kelas. misalnya, mereka mahasiswa akan saling menuduh ketika ada suatu masalah yang terjadi. Mulai dari menyalahkan komting ( Komandan Tingkat), teman, atau bahkan dosen sekalipun, meski hanya berani ngedumel di belakang. Sangat jarang atau bahkan sudah tidak ada lagi, mereka yang berani mengangkat tangan dan mengacungkan jari telunjuknya dengan mengatakan ”ini kesalahan saya!”
Dari uraian di atas, mari kita fokus pada kata ”Mahasiswa.” Konon, mahasiswa merupakan seorang yang sedang menyandang kedudukan tertinggi dalam kalkulasi pendidikan. Banyak yang bilang bahwa mahasiswa adalah Agen Of Change, dengan segala wah yang lainnya. Namun yang perlu kita sadari, bahwa tidak semua orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi ia juga termasuk orang yang bertanggung jawab. Belum tentu.
Memang tidak ada salahnya seseorang menempuh pendidikan, sebagai bentuk upaya untuk mewujudkan suatu Itikad baik yaitu menjadi orang yang lebih bijak. Namun hal itu tidak serta merta pula kita memandang orang yang tidak mendapat kesempatan pendidikan adalah orang-orang yang buruk, dari segi moral, cara berfikir, tindakan, apalagi klaim bahwa mereka tidak memiliki rasa tanggung jawab karena keadaan tersebut. Bisa saya katakan antara keduanya memiliki persentase yang sama yaitu 50:50. Mengingat masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dalam hidup ini.
Terlepas dari setiap orang membutuhkan tanggung jawab, sebenarnya manusia dan tanggung jawab adalah satu kesatuan dalam diri. Tergantung bagaimana kita mau atau tidak mengimplementasikannya pada setiap keputusan yang diambil. Menurut saya, tanggung jawab ialah tindakan keberanian dengan kesadaran untuk menerima segala sesuatu hal yang akan terjadi.
Persepsi orang-orang mengenai kata tanggung jawab sangatlah muluk-muluk, hal itu menjadikannya sesuatu yang seakan-akan sangat sulit untuk dilaksanakan. Padahal semua orang tentu saja melakukannya tanpa disadari. Seperti kebiasaan sehari-hari; makan, minum, tidur, adalah salah satu bentuk tanggung jawab pada diri sendiri. Dan menurut saya, tanggung itu jawab penting, sama halnya profisionalisme sangat dibutuhkan untuk hidup di masyarakat. Namun tidak bisa dipungkiri, bahwa pola kebiasaan dan lingkungan sekitar juga dapat membentuk dan menjadikan kita orang yang bertanggung jawab atau tidak.
Sedangkan pola kebiasaan sendiri terbentuk dari sikap dan karakter pada setiap individu. Tidak sedikit orang mempunyai pola kebiasaan yang enggan melakukan tanggung jawab. Namun seakan setiap manusia dituntut untuk menerapkannya. Jauh dari memaksa, menurut saya ini adalah bentuk nasehat yang paling berkesan. Dimana dit masyarakat hal ini sangat dibutuhkan, bahkan seorang Bandar akan memilih orang-orang yang bertanggung jawab untuk dijadikan pionnya.
Bila mana kita tidak bertanggung jawab pada diri sendiri sering tidak dianggap melakukan kejahatan, itu karena dampak yang dirasakan hanya pada diri sendiri yang mengalami. Yang menjadi permasalahan jika rasa tidak tanggung jawab ini melibatkan dan merugikan orang banyak. Kemungkinan terburuk dari seseorang yang tidak memiliki tanggung jawab ialah selain sudah tidak dipercaya, ia kan hilang dari masyarakat karena tidak lagi dianggap ada.
Adapun rasa tanggung jawab sudah mulai ditanggalkan oleh setiap individu, seakan dikubur hidup-hidup. Pastilah ini tanda-tanda akhir peradaban. Karena jika sampai satu sama lain tidak ada rasa percaya, bagaimana kita akan melangsungkan hidup. Kata judika dalam lirik lagunya ”karena percaya itu lebih dari cinta,” jika sudah tidak ada cinta akan sengsara, bagaimana dengan kehilangan rasa percaya?
Namun, tidak menjadi hal yang mustahil bila ingin menghadirkan rasa tanggung jawab kembali, meski sangat sulit. Langkah yang pertama yaitu sadar atas tindakan tidak tanggung jawab yang sudah dilakukan, kemudian mencoba untuk bertanggung jawab atas diri sendiri, dan mulai lagi mencoba pada masyarakat yang belum pernah kita kecewakan sebelumnya misalkan, itu akan lebih mudah daripada memohon lagi kepercayaan pada seseorang yang sudah pernah kita khianati. Karena trauma yang masih ada sebelumnya, akan menjadikan orang ragu-ragu percaya untuk kedua kalinya.
Hamidah Irma Yunita
Program Studi Ilmu Pendidikan Alam
Universitas Trunojoyo Madura

