WKUTM – Diskusi virtual yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) disinyalir jadi ajang promosi dan persuasi salah satu Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (Ormek).
Diskusi yang diadakan via Google meet (12/09) terdapat 113 akun peserta. Beberapa akun yang disinyalir sebagai promosi ormek, diantaranya sugikcalm, Naufal Erdogan, dan Mochammad Ilham. Mereka menuliskan jargon-jargon dan dan komentarnya yang terkait dengan Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
”Pokoknya gak rugi kalo masuk PMII. Seniornya hebat kayak yang jadi pemateri ini,” tulis akun sugikcalm tersebut.
Komentar lain juga dilontarkan atas nama akun Mochammad Ilham, ”SALAM. PERGERAKAN, MUNDUR 1 LANGKAH ADALAH BENTUK PENGKHIANATAN,” ditulis dengan semua font kapital.
Akun bernama Naufal Erdogan juga berkomentar dengan memberikan pujian pada pemateri yang notabene salah satu anggota PMII.
"Wah anggota PMII semua pematerinya, jadi pengin banget gabung di PMII," tulisnya.
Di grup Whatsapp ’Diskusi Online FH UTM’, ditemukan juga indikasi yang sama. Akun Whatsapp ~Ainun | Najib dan Sugik_calm kembali melontarkan jargon-jargon yang sama.
Ketika dikonfirmasi, Putri Pramudita sebagai mahasiswa baru yang juga mengikuti forum tersebut membenarkan adanya aksi tersebut. Putri berpendapat bila aksi tersebut hanya dilakukan oleh beberapa akun. Sekalipun tetap pada tujuan awal diadakan diskusi, namun Putri tetap tidak membenarkan adanya aksi-aksi semacam itu.
”Kebetulan pematerinya merupakan anggota PMII, banyak peserta di kolom komentar menuliskan embel-embel PMII. Kalau asumsi saya sendiri, itu juga gak etis,” ungkap mahasiswa asal Probolinggo itu.
Kejadian ini mendapat respon dari berbagai kalangan mahasiswa. Shelly Febrianti, Ketua Umum UKM-F Himpunan Mahasiswa Kosentrasi (HMK) Pemerintahan, berharap agar kejadian tersebut segera ditindaklanjuti oleh jajaran kepengurusan FH UTM. Shelly berasumsi bahwa DPM dan BEM FH sebagai penggagas kegiatan tersebut harus merepresentasikan sosok mahasiswa yang tidak menggunakan ego pribadi maupun golongan.
"Jika hal tersebut benar, semoga lekas ditindaklanjuti oleh pimpinan. Karena sudah selayaknya BEM dan DPM sebagai representasi dari mahasiswa tidak mengedepankan egonya. Entah ego pribadi atau golongan yang membawa mereka di jabatan tersebut,” papar mahasiswa asal Mojokerto itu.
Selain itu, Shelly juga merasa kecewa karena kegiatan tersebut tidak mengundang perwakilan dari UKM-F HMK Pemerintahan.
”Saya merasa kecewa, agenda yang biasa dilakukan BEM, DPM, maupun Ormawa lain yang setingkat selalu mengundang. Entah itu formal ataupun nonformal. Kami tidak merasa harus dihormati juga, namun sudah etikanya dengan sifat kelembagaan yang kolaboratif setiap UKM, maka undangan agenda adalah hal yang ditunggu oleh kami,” jelasnya.
Senada dengan hal itu, Muhammad Hadad sebagai ketua umum UKM-F Asosiasi Olahraga Fakultas Hukum (Arfakum) UTM juga menyayangkan hal tersebut. Haddad beranggapan jika kegiatan seperti diskusi, dan kegiatan lainnya, rawan ditumpangi oleh kepentingan golongan tertentu.
”Kegiatan seperti diskusi, ospek, diklat, dan kegiatan semacamnya, rawan ditumpangi kepentingan golongan-golongan tertentu. Indikasi-indikasi adanya kepentingan juga bisa dilihat dari tujuan, penyelenggara, dan pematerinya,” tulisnya.
Mendengar hal ini, Dicky Dharmawan, Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ghubatras, berpandangan jika aksi tersebut bermaksud untuk menggaet kader baru Ormek. Dicky berspekulasi jika mahasiswa anggota Ormek membuat alibi dengan cara mengadakan kegiatan semacam diskusi virtual tersebut.
”Organisasi ekstra juga akan kesusahan cari kader-kader baru untuk mereka, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka beralibi dengan pejabat-pejabat kampus yang mengadakan kegiatan seperti ini untuk mencari kader baru,” tutur mahasiswa asal Bangkalan tersebut.
Menanggapi hal ini, Dendy Prasetyo selaku Gubernur FH UTM dan narasumber dalam forum tersebut, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa ajakan tersebut merupakan di luar tanggung jawab BEM FH. Dendy menambahkan bahwa kegiatan tersebut sudah melalui izin legal dari kepengurusan FH UTM dan murni dilakukan untuk memberi sekilas informasi kepada Maba.
”Semua murni dilaksanakan oleh BEM dan DPM FH. Demi sedikit berbagi wawasan dan pengalaman yang kami miliki sebagai Mahasiswa FH. Acara ini juga sudah mendapat izin legal, bisa langsung ditanyakan ke pihak fakultas,” paparnya. (Hlm/L)

