Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Aksi Mahasiswa UTM Ajukan Tuntutan Untuk Rektor

Rabu, 22 Juli 2020 | 10.52.00 WIB Last Updated 2020-07-22T17:53:03Z
Aksi mahasiswa di depan gedung graha utama. foto: Sur


WKUTM - Mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Trunojoyo Bergerak menggelar aksi di depan gedung rektorat Universitas Trunojoyo Madura (UTM) pada pukul 09:00 WIB (22/07). Aksi dilanjutkan dengan audiensi di ruang pertemuan lantai 10 rektorat. Aksi yang diikuti kurang lebih 50 mahasiswa tersebut mengajukan beberapa tuntutan, yakni memangkas biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT), pemberian kepastian terkait Dana Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2019 yang belum dibayarkan kepada Organisasi Mahasiswa (Ormawa), dan pemberian subsidi daring berupa kuota tahun ajaran 2020/2021.

Muhammad Aksin,  salah satu peserta aksi mengungkapkan tuntutan dalam aksi tersebut berasal dari keluh kesah mahasiswa berbagai fakultas yang tidak mendapatkan kepastian dari presiden mahasiswa dan pihak rektorat. Mereka meminta pihak rektorium untuk meninjau kembali Surat Keputusan rektor nomor 211/UN.46/HK.02/2020. 

”Aksi ini berawal dari keresahan teman-teman dari fakultas terkait keringanan biaya UKT, permasalahan dana DIPA 2019 untuk ormawa dan bantuan kuota. Namun ketika mereka menanyakan hal tersebut terhadap presma, presma belum memberikan kejelasan,” ungkap mahasiswa Fakultas Hukum tersebut.

Terkait pemangkasan UKT, Muhammad Syarief, selaku Rektor mengungkapkan jika dampak Corona Virus Disease (Covid-19) dirasakan seluruh kalangan masyarakat. Selain itu, Syarief juga mengungkapkan jika UTM mendapatkan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) 2019/2020 sebesar 11 miliar rupiah.

”Kita mendapatkan bantuan BOPTN 2019/2020 sebesar 11 miliar, jika dibagi mahasiswa UTM sekitar 14000 sekian hanya 225 ribu setiap mahasiswa,” ungkapnya.
Syarief juga mengungkapkan terkait bantuan UKT melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) dalam surat edaran Nomor:B/1522/UN46/KM.01.01/2020 diberikan kuota sebanyak kurang lebih 1300 mahasiswa, namun hingga batas waktu terakhir hari ini hanya 623 mahasiswa yang mendaftar.

Berbeda dengan pernyataan Hendra Lesmana, dirinya merasa keberatan terhadap persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan bantuan KIP. Dirinya menilai jika persyaratan yang harus dipenuhi terlalu  rumit dan belum ada kepastian jika telah mengajukan persyaratan akan otomatis menerima bantuan tersebut.

”Saya dari anak petani, saya belum pernah mendapatkan KIP sebelumnya, ketika ingin mendaftar persyaratan rumit. Lantas apakah kita setelah mendaftar  juga mendapatkan bantuan tersebut?,” tanyanya.

Menanggapi pernyataan tersebut rektor hanya menyarankan jika sebaiknya yang bersangkutan daftar terlebih dahulu. Persoalan lain ketika ditanya lebih lanjut terkait kepastian penurunan UKT, jika mahasiswa telah mengisi persyaratan namun masih terkendala salah satu syarat tidak terpenuhi apakah tetap tidak bisa mendapatkan keringanan UKT? rektor  menjawab penuh emosi.

”Kalau itu dipaksakan, salah satu persyaratan tidak ada, bantuan tersebut tidak jalan, mohon maaf ini sudah di luar emosi saya. Ndak boleh, mau bunuh saya? Bunuh saja,” tegasnya. (sur/wuk)

×
Berita Terbaru Update