Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anak-anak dan Buku yang Disukai Para Pembunuh

Senin, 06 April 2020 | 19.41.00 WIB Last Updated 2020-04-07T02:41:34Z


Judul : The Catcher in The Rye 
Penulis : J.D. Salinger
Penerbit : Banana
Halaman : 296 halaman
ISBN: 979-99986-0-3

Awalnya saya berpikir apa yang membuat buku ini menarik ? Apakah terdapat adegan tembak menembak, sebab di bagian belakang sampul terdapat kalimat ‘Mengapa buku ini disukai para pembunuh?’. 

Sampulnya pun terkesan simpel dan membosankan. Hanya berwarna putih dengan tulisan judul berwarna hitam dan merah pada kata terakhir yang seperti menjadi penenkanan. Sempat saya berpikir kalau penulis ingin pembacanya berpikiran kosong dan tidak bisa menebak betapa rumitnya kehidupan tokoh utama. 

Benar, selesai membaca buku ini, emosi saya sebagai pembaca dibuat naik-turun oleh sikap Holden, si tokoh utama yang menyebalkan. Berlatar di Amerika Serikat dengan sudut pandang orang pertama, novel ini tidak disarankan untuk anak dibawah umur. Sebab, selain terdapat banyak umpatan, bahasa yang digunakan juga vulgar dalam menggambarkan tokoh utama yang merokok, berkelahi, membayangkan berhubungan seks, dan mabuk. Hal-hal itulah yang menjadikan novel ini sempat dilarang di Amerika.

Secara garis besar, novel ini mengisahkan pelarian Holden Caufield setelah dikeluarkan dari sekolahnya. Holden yang terobsesi untuk dipandang sebagai orang dewasa, di pelariannya itu mencoba untuk mabuk, menyewa pelacur, dan beragam tingkah laku yang harusnya dilakukan oleh orang dewasa.

Namun, Holden yang terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara itu juga digambarkan sangat menyayangi anak kecil. Seperti ketika Holden bertemu Phoebe, adiknya. Ia menunjukkan sikap penyayang, peduli, periang dan penuh cinta. Sikap Holden itu, seperti menjadi cerminan dari J.D. Salinger, penulis novel ini yang pernah berkata ‘Some of my friends are children’. Holden seperti menjadi penyambung lidah Salinger yang memandang anak-anak sebagai manusia yang polos, lugu, dan penuh kedamaian ketika menatap dunia.

Hal yang berbeda sering ditunjukkan oleh orang dewasa yang munafik dan lebih sering membuat kehancuran. Ya, memang benar ketika dewasa manusia memiliki tujuan hidup masing-masing. Mereka lebih mementingkan egonya dan bersikap fake people, sehingga menyebabkan kehancuran dunia. 

Bisa dibilang, karakter Holden masih relate untuk menggambarkan kondisi remaja saat ini. Dalam mencari jati dirinya, para remaja lebih sering terjebak pada pergaulan bebas yang menjerumus pada narkoba, seks bebas, atau kenakalan remaja yang lain. Bahkan di Amerika, novel The Catcher in The Rye yang sempat dilarang pada akhirnya dilegalkan dan dijadikan buku bacaan wajib di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Hal tersebut dilakukan dengan harapan karakter Holden yang merasa kesepian, ketakutan, depresi dan keinginan untuk diperhatikan dapat dijadikan cerminan untuk diambil pelajarannya oleh para remaja.

J.D. Salinger dalam novel ini begitu menekankan pandangan dan pengalamannya. Sebagai seorang mantan anggota militer yang mengalami post-traumatic stress disorder (kondisi mental yang dipicu trauma masa lalu), mengharuskan ia untuk menjalani perawatan. Dari kasusnya, Salinger seperti ingin mengatakan jika orang dewasa saja bisa mendapatkan trauma, lebih-lebih dengan anak kecil yang masih lugu tak memiliki pengalaman apapun, hanya melihat apa yang didepan mata. Dan ketika seorang anak melihat apa yang terjadi maka kejadian itu membekas di otaknya hingga dewasa, apalagi yang dilihat hal kurang baik sebab anak tersebut akan remaja dan tumbuh dewasa dengan rekaman ingatan apa yang dilihat.

Ibaratnya, seorang anak adalah sebuah kertas kosong yang membutuhkan gambaran kehidupan sebelum beranjak remaja. Ketika kertas kosong itu diisi oleh tinta hitam maka yang terjadi hanyalah kenangan buruk, tapi jika diisi dengan tinta yang berwarna-warni maka gambaran kehidupannya penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Jadi di dalam novel diingatkan kembali bahwasannya orang tua semestinya menjaga dan mendampingi seorang anak untuk tumbuh kembangnya.

Holden pun mengalami hal buruk ketika remaja, dalam cerita itu dia merasa digerayangi oleh Mr. Antolini yang saat itu mengelus-elus kepalanya hingga membuat dia ketakutan. Adegan itu seperti seorang Queer atau Pedeofilia, yang menyukai anak-anak. Pengalaman dilecehkan oleh orang terdekat akan lebih membekas ya di memori otak dan apa yang bisa dilakukan oleh anak remaja ketika diperlakukan demikian? Dukungan dari orang tua, komunikasi dan keterbukaan menjadi hal yang penting. Namun Holden tak pernah bercerita kepada orang tuanya mengenai apa yang terjadi seperti dikeluarkan dari sekolah sebab dia takut mendapat amarah dari orang tuanya.

Yang terakhir, buku ini juga ditujukan kepada ibu Salinger. Salinger ingin menunjukkan bagaimana semestinya orang tua memperlakukan seorang remaja, terlebih masa remaja itu labil sekali dan mudah dipengaruhi. Cerita Holden bisa dijadikan cermin bagi orang tua yang memiliki kesibukan dan semestinya bisa jadi bekal untuk para remaja dalam bersikap di era modern ini. 

Tak ada buku yang sempurna tentunya, buku ini memiliki kekurangan salah satunya jalan ceritanya yang menggantung. Selain itu, pembaca juga harus benar-benar teliti. Sebab dalam novel ini, karakter Holden yang menjadi tokoh utama tidak bisa dicerna dengan mentah begitu saja. Ada banyak hal yang perlu direnungi pembaca untuk menilai Holden dengan segala sikapnya sebagai remaja yang mencari jati dirinya. oHHH

Talita Salsabila 
Program Studi Sastra Inggris
×
Berita Terbaru Update