Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Warta UTM : Jurnalisme Rahmatan lil Alamin

Minggu, 22 Desember 2019 | 05.32.00 WIB Last Updated 2019-12-23T00:48:22Z



Banyak pihak menilai, kami dari Lembaga Pers Mahasiswa atau dikenal Warta UTM sering bikin ’gaduh’ dengan berita atau artikel yang kami terbitkan. Pelbagai alasan diutarakan pihak tadi seperti: kami selalu menjelekkan nama kampus, padahal dikasih dana oleh kampus – berita atau artikel yang kami terbitkan selalu menyoroti kejelekkan kampus – tidak berimbang – tidak independen, dan seterusnya. Bahkan, teror dan ancaman sering dilemparkan kepada kami, karena ada pihak yang tidak terima atau terpojokkan.

Pembaca yang arif dan bijaksana, dalam catatan devisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) kami, hal teror yang kami anggap sebagai kritikan sehat sering kami dapatkan. Sejujurnya, kami dengan senang hati bagaimanapun bentuknya sebuah kritikan – yang mencerminkan kaum akademisi dan sehat. Baik kritikan itu melalui komentar di Instagram, direct messenger, berbicara langsung, bahkan datang ke ruang kerja, akan diterima dengan lapang dada. Selanjutnya, segala bentuk kritikan tadi pasti akan kami bicarakan pada keredaksian, sebagai bahan evaluasi untuk kedepannya.

Pembaca yang merdeka, sejujurnya teror dan intimidasi baik pada lembaga atau pada anggota kami sering mencuat. Tentu, hal ini sangat kami sayangkan. Pasalnya, jika hujatan atau bahkan fitnah yang datang, kami anjurkan untuk seluruh anggota kami menyikapinya dengan sabar dan tidak membalas. Bagaimanapun, kami tidak bisa memaksakan seluruh pembaca Warta UTM senada dalam cara pandang dan berpikir. Namun, kembali lagi, kami hanya menyesalkan jika sampai ada main fisik. Sedikit kami berharap, kami yang biasa memegang kamera, keyboard, dan bolpoin ini jangan diajak berantem. Alangkah bahagianya kami, jika malah diajak ngopi untuk menyelesaikan masalah – atau menawarkan persaudaraan, agar musuh pembaca yang merdeka juga menjadi musuh kami.

Pembaca yang berkehendak, semoga kami terizinkan menyampaikan bagaimana cara kinerja jurnalistik Warta UTM – yang bertumpu pada fakta dan kebenaran, independen, dan berharap mampu membawa rahmat bagi sebanyak-banyaknya pembaca.

Kami mulai dari ideologi, karena memang banyak pembaca atau pihak yang menanyakan perihal pandangan kami. Sejujurnya, jurnalisme kami tak ubahnya jurnalisme mainstream – seperti Kompas atau Tempo. Namun, ruang cakupan kami lebih spesifik di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan pulau Madura. Lebih lanjut, garis besarnya, kami memiliki harapan besar agar UTM dan Madura bisa menjadi lebih baik setiap fasenya.

Namun, pembaca yang kritis, ihwal ideologi kami sebatas rohmatan lil alamin, berharap mampu memberikan rahmat sebanyak-banyaknya kepada siapapun. Tentu hal ini adalah menambah dari fungsi-fungsi pers pada umumnya, yang mampu memberikan informasi, edukasi, mengibur, mempengaruhi, dan kontrol tentunya.

Kendati demikian, produk-produk jurnalistik dari Warta UTM berpijak pada kebenaran dan sesuai fakta yang ada, walaupun fakta yang kami hadirkan oleh beberapa pihak dianggap buruk. Selanjutnya, dalam sebuah berita, tidak ada istilah berita baik dan buruk, tapi sesuai fakta atau tidak. Seperti: kami memberitakan antara pembangunan dan sistem pendidikan di UTM tidak seimbang – tidak seimbang bukan asumsi dari kami, namun pihak narasumber yang kami mintai keterangan.

Selanjutnya, pembaca yang berpendidikan, sering ada selentingan bahwa kami selalu memberikan kabar buruk kampus kepada pembaca. Sebenarnya, tidak demikian – jika dikaji lebih jauh, maka kami menyimpan harapan UTM tidak membuat kesalahan yang sama, ibaratkan agar UTM lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, asalkan berita yang kami terbitkan sesuai fakta yang ada, hal ini sekaligus menjadi kontrol atas kebijakan-kebijakan dalam kampus. Tentu, jika UTM administrasi lebih baik gara-gara ada yang mengontrol, pihak yang merasakan dampaknya adalah kita semua. UTM akan menjadi kampus yang baik dan sehat.

Untuk itu, pembaca yang dirahmati Allah, semoga kami diizinkan lagi untuk menjelaskan status independensi dari Warta UTM – karena memang banyak pihak juga menyoal masalah ini. Sejujurnya, kami sangat keras kepada perihal masalah ini, karena memang, kami sangat mempertaruhkan independensi. Seperti, kami mengharuskan kepada anggota Warta UTM untuk monoorganisasi, karena kami tidak ingin ada pengaruh dari pihak manapun dalam produk jurnalistik kami nantinya.

Lebih lanjut, kami sangat menolak isu atau berita titipan – misalnya, koorporasi ini membayar media itu agar diberitakan baik-baiknya saja. Tentu, idealisme pemberitaan kami sangat berpegang teguh pada kebenaran yang ada, bukan pada siapa yang membayar. Selain itu, selama ini Warta UTM dibiayai oleh kampus, uangnya dari rakyat dan seharusnya untuk rakyat. Jadi, kami menganggap, ada tanggung jawab yang kami emban agar menyampaikan sesuai apa adanya.

Maka dari itu, pembaca yang merdeka, bahkan dalam filosofi Islam diajarkan untuk mengatakan yang sebenarnya, sepahit apapun itu. Berhubung slogan kami adalah ”Aksi dan Bersuara Lewat Tulisan” – maka bentuk dan suara kami terwakili oleh produk jurnalistik yang kami terbitkan.  Mungkin, hal ini bisa menjadi pemahaman baru untuk pembaca.

Perihal keberpihakan, jelas sudah selain kami menjadi semacam penjembatan informasi antara pihak rektorium dan mahasiswa, dominan kami berpihak pada mahasiswa. Lebih tepatnya, kepada kepentingan mahasiswa.

Berpihak untuk Madura

Sedari dulu, kami selalu mengupayakan bagaimana cara paling rasional yang bisa dilakukan agar pulau tempat kami bertumpu ini mampu menjadi lebih baik. Seperti pada 2017 silam, kami membuat event tahunan dengan tema ”Mendobrak Stereotip Terhadap Masyarakat Madura” dalam bentuk lomba cerpen. Selanjutnya, kami membukukan kumpulan cerpen terbaik, agar cerita tersebut mampu menyadarkan kepada masyarakat di luar Madura, bahwa Madura itu baik, tidak seperti asumsi-asumsi yang beredar di luar Madura.

Pada tahun selanjutnya, kami juga melakukan hal yang sama – dengan tema menggali cerita ulang masyarakat Madura. Hemat kami waktu itu, adalah menceritakan kepada banyak pihak melalui buku yang terbitkan, keragaman cerita masyarakat dari Madura.

Lebih jauh, pembaca yang selalu berpikir jernih, produk jurnalistik kami dalam bentuk majalah mengedepankan permasalahan di Madura. Seperti majalah kami terkait perhatian minim pemerintah atas petani tebu di Madura. Harapan kami, agar segala sesuatu terkait tebu di Madura dikelola lebih baik dari sebelumnya.

Begitupun majalah yang terakhir kami terbitkan, perihal fenomena amal-amal di Madura – kami mencoba menjadi penjebatan antara pelaku amal-amal, dinas terkait, UTM, dan pihak yang meresahkan adanya amal-amal. Hal itu agar ada persamaan sikap terbaik untuk masalah ini. Lebih jauh, ihwal isu ini kami banyak mendapat laporan dari banyak pihak yang suka dengan majalah ini, pasalnya masalah yang kami angkat sangat dekat dengan mereka. Bahkan, banyak dari pelajar Sekolah Menengah Akhir (SMA) yang membaca majalah ini, karena memang, secara pendistribusian majalah ini kami lakukan secara gratis ke dinas-dinas yang ada di Bangkalan.

Jalan Kenabian

Sebelum akhir kata, kami meyakini jalan jurnalistik kami semacam jalan kenabian. Jujur, dapat dipercaya, cerdas, dan menyampaikan – kami adopsi dalam pola kehidupan sehari-hari. Kami tidak ingin menjelaskan lebih jauh, karena kami yakin pembaca sangat mumpuni untuk memahami banyak persoalan.

Selebihnya, sebagai akhir kata, kami masih meyakini bahwa pembaca adalah manusia yang memiliki kehendak dan berpikir cerdas, maka semua kesimpulan dan sikap ke depan, kami serahkan sepenuhnya kepada pembaca.

Rahayu.




×
Berita Terbaru Update