Banyak pihak menilai, kami dari Lembaga Pers Mahasiswa
atau dikenal Warta UTM sering bikin ’gaduh’ dengan berita atau artikel yang
kami terbitkan. Pelbagai alasan diutarakan pihak tadi seperti: kami selalu menjelekkan
nama kampus, padahal dikasih dana oleh kampus – berita atau artikel yang kami
terbitkan selalu menyoroti kejelekkan kampus – tidak berimbang – tidak
independen, dan seterusnya. Bahkan, teror dan ancaman sering dilemparkan kepada
kami, karena ada pihak yang tidak terima atau terpojokkan.
Pembaca yang arif dan bijaksana, dalam catatan devisi
Penelitian dan Pengembangan (Litbang) kami, hal teror yang kami anggap sebagai
kritikan sehat sering kami dapatkan. Sejujurnya, kami dengan senang hati bagaimanapun
bentuknya sebuah kritikan – yang mencerminkan kaum akademisi dan sehat. Baik
kritikan itu melalui komentar di Instagram, direct
messenger, berbicara langsung, bahkan datang ke ruang kerja, akan diterima
dengan lapang dada. Selanjutnya, segala bentuk kritikan tadi pasti akan kami
bicarakan pada keredaksian, sebagai bahan evaluasi untuk kedepannya.
Pembaca yang merdeka, sejujurnya teror dan intimidasi
baik pada lembaga atau pada anggota kami sering mencuat. Tentu, hal ini sangat
kami sayangkan. Pasalnya, jika hujatan atau bahkan fitnah yang datang, kami
anjurkan untuk seluruh anggota kami menyikapinya dengan sabar dan tidak
membalas. Bagaimanapun, kami tidak bisa memaksakan seluruh pembaca Warta UTM
senada dalam cara pandang dan berpikir. Namun, kembali lagi, kami hanya
menyesalkan jika sampai ada main fisik. Sedikit kami berharap, kami yang biasa
memegang kamera, keyboard, dan
bolpoin ini jangan diajak berantem. Alangkah bahagianya kami, jika malah diajak
ngopi untuk menyelesaikan masalah – atau menawarkan persaudaraan, agar musuh
pembaca yang merdeka juga menjadi musuh kami.
Pembaca yang berkehendak, semoga kami terizinkan
menyampaikan bagaimana cara kinerja jurnalistik Warta UTM – yang bertumpu pada
fakta dan kebenaran, independen, dan berharap mampu membawa rahmat bagi
sebanyak-banyaknya pembaca.
Kami mulai dari ideologi, karena memang banyak pembaca
atau pihak yang menanyakan perihal pandangan kami. Sejujurnya, jurnalisme kami
tak ubahnya jurnalisme mainstream –
seperti Kompas atau Tempo. Namun, ruang cakupan kami lebih spesifik di
Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan pulau Madura. Lebih lanjut, garis
besarnya, kami memiliki harapan besar agar UTM dan Madura bisa menjadi lebih
baik setiap fasenya.
Namun, pembaca yang kritis, ihwal ideologi kami sebatas
rohmatan lil alamin, berharap mampu
memberikan rahmat sebanyak-banyaknya kepada siapapun. Tentu hal ini adalah
menambah dari fungsi-fungsi pers pada umumnya, yang mampu memberikan informasi,
edukasi, mengibur, mempengaruhi, dan kontrol tentunya.
Kendati demikian, produk-produk jurnalistik dari Warta
UTM berpijak pada kebenaran dan sesuai fakta yang ada, walaupun fakta yang kami
hadirkan oleh beberapa pihak dianggap buruk. Selanjutnya, dalam sebuah berita,
tidak ada istilah berita baik dan buruk, tapi sesuai fakta atau tidak. Seperti:
kami memberitakan antara pembangunan dan sistem pendidikan di UTM tidak
seimbang – tidak seimbang bukan asumsi dari kami, namun pihak narasumber yang
kami mintai keterangan.
Selanjutnya, pembaca yang berpendidikan, sering ada
selentingan bahwa kami selalu memberikan kabar buruk kampus kepada pembaca.
Sebenarnya, tidak demikian – jika dikaji lebih jauh, maka kami menyimpan
harapan UTM tidak membuat kesalahan yang sama, ibaratkan agar UTM lebih baik
dari sebelumnya. Selain itu, asalkan berita yang kami terbitkan sesuai fakta
yang ada, hal ini sekaligus menjadi kontrol atas kebijakan-kebijakan dalam
kampus. Tentu, jika UTM administrasi lebih baik gara-gara ada yang mengontrol,
pihak yang merasakan dampaknya adalah kita semua. UTM akan menjadi kampus yang
baik dan sehat.
Untuk itu, pembaca yang dirahmati Allah, semoga kami
diizinkan lagi untuk menjelaskan status independensi dari Warta UTM – karena
memang banyak pihak juga menyoal masalah ini. Sejujurnya, kami sangat keras
kepada perihal masalah ini, karena memang, kami sangat mempertaruhkan
independensi. Seperti, kami mengharuskan kepada anggota Warta UTM untuk
monoorganisasi, karena kami tidak ingin ada pengaruh dari pihak manapun dalam
produk jurnalistik kami nantinya.
Lebih lanjut, kami sangat menolak isu atau berita
titipan – misalnya, koorporasi ini membayar media itu agar diberitakan
baik-baiknya saja. Tentu, idealisme pemberitaan kami sangat berpegang teguh
pada kebenaran yang ada, bukan pada siapa yang membayar. Selain itu, selama ini
Warta UTM dibiayai oleh kampus, uangnya dari rakyat dan seharusnya untuk
rakyat. Jadi, kami menganggap, ada tanggung jawab yang kami emban agar
menyampaikan sesuai apa adanya.
Maka dari itu, pembaca yang merdeka, bahkan dalam
filosofi Islam diajarkan untuk mengatakan yang sebenarnya, sepahit apapun itu.
Berhubung slogan kami adalah ”Aksi dan Bersuara Lewat Tulisan” – maka bentuk
dan suara kami terwakili oleh produk jurnalistik yang kami terbitkan. Mungkin, hal ini bisa menjadi pemahaman baru
untuk pembaca.
Perihal keberpihakan, jelas sudah selain kami menjadi
semacam penjembatan informasi antara pihak rektorium dan mahasiswa, dominan
kami berpihak pada mahasiswa. Lebih tepatnya, kepada kepentingan mahasiswa.
Berpihak
untuk Madura
Sedari dulu, kami selalu mengupayakan bagaimana cara
paling rasional yang bisa dilakukan agar pulau tempat kami bertumpu ini mampu
menjadi lebih baik. Seperti pada 2017 silam, kami membuat event tahunan dengan
tema ”Mendobrak Stereotip Terhadap Masyarakat Madura” dalam bentuk lomba
cerpen. Selanjutnya, kami membukukan kumpulan cerpen terbaik, agar cerita
tersebut mampu menyadarkan kepada masyarakat di luar Madura, bahwa Madura itu
baik, tidak seperti asumsi-asumsi yang beredar di luar Madura.
Pada tahun selanjutnya, kami juga melakukan hal yang
sama – dengan tema menggali cerita ulang masyarakat Madura. Hemat kami waktu
itu, adalah menceritakan kepada banyak pihak melalui buku yang terbitkan,
keragaman cerita masyarakat dari Madura.
Lebih jauh, pembaca yang selalu berpikir jernih,
produk jurnalistik kami dalam bentuk majalah mengedepankan permasalahan di
Madura. Seperti majalah kami terkait perhatian minim pemerintah atas petani
tebu di Madura. Harapan kami, agar segala sesuatu terkait tebu di Madura
dikelola lebih baik dari sebelumnya.
Begitupun majalah yang terakhir kami terbitkan,
perihal fenomena amal-amal di Madura – kami mencoba menjadi penjebatan antara
pelaku amal-amal, dinas terkait, UTM, dan pihak yang meresahkan adanya
amal-amal. Hal itu agar ada persamaan sikap terbaik untuk masalah ini. Lebih
jauh, ihwal isu ini kami banyak mendapat laporan dari banyak pihak yang suka
dengan majalah ini, pasalnya masalah yang kami angkat sangat dekat dengan
mereka. Bahkan, banyak dari pelajar Sekolah Menengah Akhir (SMA) yang membaca
majalah ini, karena memang, secara pendistribusian majalah ini kami lakukan
secara gratis ke dinas-dinas yang ada di Bangkalan.
Jalan
Kenabian
Sebelum akhir kata, kami meyakini jalan jurnalistik
kami semacam jalan kenabian. Jujur, dapat dipercaya, cerdas, dan menyampaikan –
kami adopsi dalam pola kehidupan sehari-hari. Kami tidak ingin menjelaskan
lebih jauh, karena kami yakin pembaca sangat mumpuni untuk memahami banyak
persoalan.
Selebihnya, sebagai akhir kata, kami masih meyakini
bahwa pembaca adalah manusia yang memiliki kehendak dan berpikir cerdas, maka
semua kesimpulan dan sikap ke depan, kami serahkan sepenuhnya kepada pembaca.
Rahayu.

