Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sembilan Berita Warta UTM Terpopuler di Tahun 2019

Minggu, 22 Desember 2019 | 05.36.00 WIB Last Updated 2019-12-23T00:48:53Z



Selama kurun waktu tahun 2019, dinamika mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) bisa dikatakan cukup, walaupun tidak signifikan – dalam arti, banyak kultur yang tidak menunjukkan perilaku sebagai akademisi yang masih kerap terjadi. Dan kami, dari Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa (LPM SM) turut berpartisipasi dalam mencatat, merekam, dan mengabadikan bagian dari sejarah UTM. Kritik untuk menjadi lebih baik sering kami bungkus dalam berbagai bentuk, dengan alasan kuat berharap kedepannya kampus ini menjadi lebih baik. Tak terasa tahun ini akan usai dan semoga dinamika yang lebih baik menunggu di tahun mendatang.

Terhitung sejak Februari 2019, kami mulai meliput isu-isu kampus, baik yang menyangkut kemahasiswaan, pembangunan, rektorium, dan lain-lain. Boleh diakui, berita atau artikel yang kita terbitkan membuat geram pihak yang bersangkutan. Intimidasi, teror, dan hal tidak menyenangkan lainnya biasa kami terima. Bahkan, kami sempat akan digeruduk di tempat kami beraktivitas. Namun, yang lalu biarlah berlalu, seperti kata orang bijak yang sering kita dengar.

Syahdan, kami memilih Sembilan kejadian yang berhasil kami back up – tentu, ini berita pilihan karena selain pembacanya yang banyak, dampaknya juga demikian. Berikut adalah urutan berita dan kejadiannya:

Polemik KTM Multifungsi

Pada bulan Februari, kami mengawal isu keluhan beberapa mahasiswa terhadap mekanisme pembuatan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) multifungsi. Berita yang kami terbitkan dengan judul ”Polemik KTM Multifungsi Mahasiswa Baru UTM” ini dibaca dan disebar oleh banyak mahasiswa, baik mahasiswa lama ataupun baru.

Tentu, KTM ini adalah format baru yang tidak dirasakan mahasiswa angkatan mulai 2018 ke bawah. Walaupun alasan pihak rektorat agar lebih efisien, namun berbagai masalah yang didapat, gelombang demonstrasi juga harus dihadapi oleh rektorium.

Sultan Fuadi, Mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2016 yang menjadi Kordinator Lapangan (Korlap) demo menuntut kejelasan pembuatan KTM. Pasalnya, selain masalah teknis, massa mencurigai ada ’main’ antara pihak Bank BNI dan UTM. Logika mereka seperti ini, dari sebuah perjanjian dan kesepakatan ada keuntungan untuk setiap pihak.

Namun, seiring berjalannya waktu, isu ini tenggelam dan hilang. Pihak rektorium, Supriyanto yang bersangkutan, berjanji akan menguhungi Korlap dengan meminta nomor Whatsapp-nya. Tapi, Sultan mengatakan, jangankan kabar baik, sekedar kabar saja tidak ia dapat.

Lebih lanjut, ketika demonstrasi sedang berlangsung, kami dari pihak Warta UTM juga turut terkena imbasnya. Pasalnya, banyak beredar aliansi ”Spirit Trunojoyo” yang melangsungkan aksi berafiliasi ke Spirit Mahasiswa, padahal tidak demikian. Tentu, kita langsung melakukan klarifikasi dengan menyebarkan poster lewat story whatsapp (WA) – yang isinya Spirit Mahasiswa tidak ada kaitannya dengan Spirit Trunojoyo. Hal itu kami lakukan saat demo sedang berlangsung.

Syahdan, di kalangan mahasiswa KTM multifungsi memang menemui pro kontra, kebanyakan mahasiswa yang sepakat dengan konsep baru tersebut suka dengan efisien dan tidak mau ribet. Terutama mahasiswa dari perantauan, seperti se-JABODETABEK, kebanyakan mereka setuju dengan konsep ini, bahkan tak jarang yang menyayangkan harus ada demo.

Menurut kami, KTM multifungsi ini bagus-bagus saja, terlebih untuk mengejar ketertinggalan UTM dengan kampus-kampus besar lain, rata-rata sudah jauh hari menggunakan KTM multifungsi. Namun, bukan di sana letak permasalahannya, melainkan bagaimana bentuk perjanjian kedua belah pihak yang kami soroti. Mau bagaimanapun, harus ada transparansi. Toh, ketika bentuk perjanjian baik dan memiliki legalitas, harusnya tidak perlu ada yang ditutupi.

Indikasi Korupsi BAAKPSI

Berawal dari laporan presiden mahasiswa (Presma)  periode 2018 – 2019, Jailani, yang mendapat print out anggaran janggal yang dikeluarkan oleh Biro Akademik Administrasi Kemahasiswaan dan Perencanaan Sistem Informasi (BAAKPSI). Melihat banyak anggaran yang tidak masuk akan dan disertai dengan bukti yang ada, Jailani langsung mengajak jajarannya. Pihak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) juga dikoordinir untuk bergabung dalam aksi.

Setelah waktu ditentukan, Khairul Amin yang saat ini mengantikan posisi Jailani sebagai Presma menjadi Korlapnya. Lebih jauh saat itu, Amin saat itu masih menjabat menjadi Menteri Kesejahteraan Mahasiswa  (Menkesma) di kabinet Jokotole.

Kami mengikuti jalannya demo mulai dari awal, yakni titik kumpul massa di lantai dasar Graha Utama UTM. Setelah berkoordinasi, Amin langsung menginstruksikan untuk masuk gedung rektorat, dan mulai berorasi. Massa lain juga turut menyuarakan pendapatnya secara bergilir.

Saat orasi sedang berlangsung yang dijaga oleh satpam, Sri Mulyani Budianingsih dan Supriyanto menemui massa, yang sekaligus ada audiensi kecil dengan tanya jawab persoalan kejanggalan anggaran yang dikeluarkan pihak BAAKPSI.

Berita yang kami terbitkan dengan judul ”Indikasi Korupsi Pihak BAAKPSI UTM” ini menempati urutan kedua yang paling populer. Selain isunya yang menarik, terlebih hal ini menyandung pihak rektorium. Walaupun, dalam aksi tersebut massa lebih dominan menyoroti perihal pembuatan buku pedoman mahasiswa, yang antara bukti dan anggaran tidak sinkron.

Selang beberapa hari, massa kembali melakukan aksi – karena demo pertama mereka tidak ditemui oleh Wakil Rektor (Warek) III, yang saat itu dijabat oleh Boedi Mustiko. Di demo kedua ini, massa menuntut pemberhentian Boedi sebagai kemahasiswaan. Pasalnya, massa menganggap Boedi yang paling bertanggung jawab dalam hal ini. selain itu, massa juga menyegel ruangan Warek III, karena Boedi sendiri tidak mempermasalahkan dan berdalih tidak ingin ada keributan.

Sampai tulisan ini terbit, kasus ini selesai tanpa kejelasan kelanjutan kasusnya.

Program Kampung Karakter UTM Tidak Jelas

Berita populer berikutnya adalah terkait kampung karakter yang lahir dari konsep Wakil Rektor III pengganti Boedi Mustiko, Agung Ali Fahmi. Kensep yang pertama digaungkan secara masal saat pengenalan kehidupan kampus 2019 ini, ramai dilirik oleh pembaca.

Mungkin, banyak tidak terima dengan berita yang kami terbitkan dengan judul ”Kampung Karakter UTM Masih Belum Jelas” – tentu, perkara terima dan tidak bukan urusan kami. Namun, kami hanya mencoba memaparkan fakta dan tanggapan dari pihak terkait.

Sempat kami menemui Agung Ali Fahmi di ruangannya setelah berita ini ramai diperbincangkan. Agung juga sedikit menyangkan dengan isi berita, namun pihaknya menganggap masih dalam taraf wajar. Selain itu, Agung juga memaklumi independensi dari Warta UTM – yang sekaligus mengajak berdiskusi terkait produk dari Warta UTM. Selebihnya Agung berharap kepada Warta UTM bisa lebih ’baik’ lagi dalam pemberitaan.

Masih dengan kampung karakter, keberuntungan sedang berpihak pada kami. Litbang Warta UTM sedang menggali informasi terkait ini di luar kampus, tepatnya di warung kopi. Saat itu Litbang kami berhasil menemui salah satu panitia pengenalan kehidupan kampus yang sekaligus bagian dari kampung karakter. Mungkin, pihaknya tidak sadar yang diajak bicara adalah bagian dari kami. Sebut saja si A, mahasiswa prodi pendidikan IPA, memaparkan banyak hal terkait kampung karakter, termasuk pemilihan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi eksternal tertentu.

Sebenarnya, kami menilai secara garis besar kampung karakter itu baik. Namun, lagi-lagi, kami hanya mencoba menguji keabsahan konsep yang ditawarkan oleh panitia. Selain itu, tentu kami tidak ingin ada konsep yang kurang absah diterapkan ke masyarakat. selain itu, kami berharap seharusnya ada diskusi terbuka untuk konsep ini.

Pengenalan UKM di PKKMB

Sejujurnya kami tidak mengira berita yang kami terbitkan dengan judul ”Pengenalan UKM Tuai Keluhan Berbagai Pihak” ini bakal ramai pembacanya. Pasalnya, kami  mulanya hanya menampung keresahan pihak UKM atas teknis yang ditetapkan panitia pengenalan kehidupan kampus, terutama perihal waktu.

Mungkin, sekali lagi kami mengira ada pendengung dari pihak yang tidak senang dengan berita kita sedang bekerja. Karena memang, berita ini terkesan menyudutkan panitia, kalau ditinjau dari statement narasumber yang kami pilih.

Memang, kami tidak mempermasalahkan perubahan teknis yang tidak sama dengan tahun sebelumnya. Namun, kenapa perlu diubah jika hasilnya semakin buruk. Selain itu, seolah panitia memang tidak peduli dengan UKM, karena mahasiswa baru memang tidak digiring untuk mengikuti salah satu organisasi internal kampus.

Melirik tahun-tahun sebelumnya, seperti kata komandan Resimen Mahasiswa 2018 – 2019, Wahib Husni Tamrin, ada penugasan untuk mahasiswa baru agar berkenal dengan semua UKM, yang sekaligus diberi tugas untuk meminta bukti pengenalan berupa stempel dari setiap UKM.

Fakta lain, menurut pengakuan dari kebanyakan UKM universitas, peminat untuk mengikuti UKM dominan turun. Perkara ini malah diperkeruh dengan konsep panitia bentukan BEM yang tidak berpihak pada UKM.

Pengusiran Reporter Pers Mahasiswa

Kami menerbitkan berita berjudul ”Kegiatan PKKMB UTM Tertutup” setelah berkali-kali mendapat pengusiran dari panitia pengenalan kehidupan kampus. Beberapa reporter kami digiring paksa keluar ruangan gedung pertemuan saat meliput hari terakhir pengenalan kehidupan kampus, setelah panitia dengan rumit menjelaskan alasan tidak masuk akal pengusiran.

Alasan yang mbulet dan konyol diutarakan oleh beberapa pihak, salah satunya adalah yang sedang menjabat ketua Mahkamah Konsititusi Mahasiswa. Tentu kami geram dengan hal ini, pasalnya jika alasan mereka jelas dan memiliki legalitas, kami bisa menghormati untuk tidak meliput.

Setelah mendapat laporan pengusiran, pihak Litbang kami mencoba menemui sekaligus melabrak kepanitian di ruang mereka berkumpul. Namun, ketika didatangi, kepanitiaan malah banyak diam. Lalu, Litbang kami minta presiden mahasiswa untuk keluar. Ketika sudah bertemu, Jailani mengutarakan permohonan maafnya dan menjelaskan banyak hal. Namun, ketika itu Litbang Warta UTM meminta Jailani untuk datang ke ruang kerja kami untuk meminta maaf.

Tidak sampai situ, kami mendatangi ruangan Agung Ali Fahmi dan langsung menceritakan yang terjadi. Agung mengatakan bahwa seluruh kegiatan pengenalan kehidupan kampus boleh diliput dan tidak boleh tertutup. Selain itu, pihaknya juga meminta maaf atas nama kemahasiswaan atas kesalahpahaman tersebut. 

HMI Geruduk Kampus

Kampus sempat dihebohkan dengan penggrudukan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Bangkalan. Hal ini terjadi setelah beredar screenshot pernyataan Agung Ali Fahmi yang membuat mereka sakit hati. Berita dengan judul ”Ricuh, Mahasiswa Beratribut HMI Memaksa Masuk Rektorat” masuk daftar berita populer berikutnya.

Kebetulan saat demo berlangsung, kebanyakan dari angota kami sedang berada di luar kota, yang tersisa satu reporter dan satu editor. Dan anehnya, demo ini juga didemo oleh kelompok mahasiswa lain, yang banyak juga dari anggota BEM. Katanya, mereka mendemo gara-gara sikap HMI tersebut kurang pantas masuk dalam ranah akademisi.

Namun, secara garis besar, sikap antara kedua belah pihak bisa dibenarkan, pertama dari Agung Ali Fahmi sendiri, dan kedua dari massa aksi. Tapi, jika melihat dari konsep aksi-reaksi, HMI tidak akan mengruduk kampus, jika pernyataan klaim dari Agung tidak sampai keluar. Terlebih statement tersebut diutarakan di grup WA yang isinya kader dari organisasi eksternal kampus lainnya. Pihak ketiga, mahasiswa yang mendemo adanya demo, juga kurang bisa dinalar oleh otak sehat.

Sangat disayangkan, kejadian semacam ini bisa terjadi di kampus, hanya gara-gara saling butuh pengakuan.

Kelih Panitia PKKMB

Setelah kami melakukan investigasi yang mendalam dan menerbitkan berita yang pembacanya paling banyak di tahun ini, kami menerbitkan berita dengan judul ”Panitia Sebut Ajakan Masuk Ormek Di Luar Kepentingan PKKMB” pembacanya juga banyak
.
Kami mencoba mewadahi klarifikasi dari panitia dan mencoba meredam suasana tentunya. Panitia berdalih, oknum yang mengajak untuk masuk ormek tertentu bukan dari bagian PKKMB.

Reporter kami mencoba meminta pandangan dari dosen Fakultas Hukum, Encik Fauzan Muhammad. Pihaknya menganggap bahwa kegiatan kampus tidak bisa disusupi dengan kampanye organisasi secara terselubung. Selain itu, Encik juga menyesalkan marwah organisasi eksternal sekarang yang lebih condong pada orientasi masa dan identitas.

September Berdarah, Katanya

September, menjadi momok wacana mahasiswa kembali bangkit dari magernya. Isu nasional sedang getol membicarakan Rancangan Undang-undang (RUU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Demo mahasiswa antar kampus semacam menjadi kontestasi kampus mana yang paling berpengaruh.

Gerakan mahasiswa di kota-kota besar dikawal dengan rinci oleh media mainstream. Namun, ihwal bentuk protesnya juga muncul dari kampus-kampus kecil, seperti UTM.

Faktanya, massa dari UTM pecah. Saking banyaknya sampai terdapat dua golongan, ada yang ke Surabaya dan ada yang di Bangkalan sendiri. Litbang kami melaporkan, ada pembicaraan di lapangan yang kenapa massa bisa pecah, yaitu konsolidasi yang gagal.

Pasalnya, gelombang pertama yang berangkat ke Surabaya diinisiasi oleh BEM, sedangkan di Bangkalan sendiri hasil konsolidasi beberapa organisasi eksternal tertentu.

Berita berjudul ”Gelombang Protes dan Tuntutan Mahasiswa Bangkalan” juga ramai dibaca. Tentu, karena ini adalah isu nasional dan momentum yang menarik.

Selain menerbitkan berita, kami juga menerbitkan konten ”Kumpulan Foto Gelombang Demonstrasi 26/9” dan ”Kumpulan Poster Unik Pilihan” di Instagram. Konten pertama berisi foto jurnalistik pilihan redaksi. Sedangkan konten kedua adalah berisi foto massa yang membawa poster unik, karena menjadi sebuah tren nasional demo sembari membawa poster dengan kata-kata yang sedikit menggemaskan. Konten kedua ini sangat banyak peminatnya, notifikasi Instagram sampai jebol like dan komen, lebih dari 75 ribu like dan 500 komentar membanjiri konten ini, bahkan konten ini sempat dihapus oleh pihak Instagram lebih dari dua bulan, sampai akhirnya di kembalikan pada (14/12) lalu.

Investigasi Warta UTM

Sampailah pada berita dengan pembaca paling populer di tahun ini, adalah ”Praktik Politik Praktis Panitia PKKMB Sakera 2019”. Selain pembacanya yang paling banyak dan dibanjiri komentar di Instagram, dampak yang ditimbulkan atas berita ini kepada kami juga sedikit menegangkan. Pasalnya, sampai muncul dari surat terbuka dari mahasiswa yang enggan menyebutkan namanya (cupu). Surat terbuka tersebut ditujukan langsung ke Agung Ali Fahmi selaku Wakil Rektor III, yang kata penulis surat terbuka tersebut, secara garis besarnya mempermasalahkan berita yang kami terbitkan. Alkisah seperti ini, Litbang Warta UTM melakukan investigasi yang melibatkan lebih dari 60 responden, yang intinya menanyakan ada atau tidaknya panitia yang mengajak ikut organisasi eksternal tertentu. Kebanyakan responden secara acak tersebut mengiyakan adanya ajakan dari panitia. Selain itu, ada beberapa mahasiswa juga yang tanpa diminta melaporkan ajakan panitia ke kami.

Syahdan, setelah berita ini viral di kalangan mahasiswa UTM, banyak cacian, intimidasi bahkan teror yang ditujukan kepada kami. Story WA yang isinya ujar kebencian kepada kami juga banyak. Bahkan, ada banyak laporan dari mahasiswa baru yang dihasut oleh panitia bahwa kami suka bikin ulah. Sejujurnya, kami bingung, siapa yang bikin ulah.

Lebih lanjut, pada hari terbitnya beri ini, ada ancaman dari pihak yang kami beritakan agar kami meminta maaf. Bahkan dikasih ultimatum sampai sore harinya, jika tidak kami akan digeruduk. Tentu, sejujurnya kami bingung minta maaf atas apa, toh fakta yang kami sertakan dalam berita cukup jelas.

Namun, selain ancaman, dukungan juga banyak berdatangan kepada kami. Tanpa diminta, banyak perwakilan dari UKM, organisasi, bahkan komunitas luar kampus menyatakan mendukung kami. Garis besarnya mereka akan membantu kami jika ada hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun, seiring berjalannya waktu, kami menganggap masalah ini telah selesai.

Dari keseluruhan berita di atas, ada sedikit kesimpulan bahwa memang pembaca khususnya dari mahasiswa UTM lebih senang dengan berita ’keburukan’ kampus. Padahal, berita semacam prestasi UTM menjadi tuan rumah rapat kerja PTS se-Jawa Timur sepi pembacanya. 

Sedihnya seperti ini, kita menerbitkan berita yang dianggap ’buruk’ dihujat habis-habisan dengan berbagai tuduhan, bikin berita yang biasa-biasa tidak dibaca, dan malah tidak jarang yang menghujat ketika menyelenggarakan acara dan seterusnya minta untuk diliput.

Tidak apa-apa, kami kuat.



×
Berita Terbaru Update