Selama kurun waktu tahun 2019, dinamika mahasiswa
Universitas Trunojoyo Madura (UTM) bisa dikatakan cukup, walaupun tidak
signifikan – dalam arti, banyak kultur yang tidak menunjukkan perilaku sebagai
akademisi yang masih kerap terjadi. Dan kami, dari Lembaga Pers Mahasiswa
Spirit Mahasiswa (LPM SM) turut berpartisipasi dalam mencatat, merekam, dan
mengabadikan bagian dari sejarah UTM. Kritik untuk menjadi lebih baik sering
kami bungkus dalam berbagai bentuk, dengan alasan kuat berharap kedepannya
kampus ini menjadi lebih baik. Tak terasa tahun ini akan usai dan semoga
dinamika yang lebih baik menunggu di tahun mendatang.
Terhitung sejak Februari 2019, kami mulai meliput
isu-isu kampus, baik yang menyangkut kemahasiswaan, pembangunan, rektorium, dan
lain-lain. Boleh diakui, berita atau artikel yang kita terbitkan membuat geram
pihak yang bersangkutan. Intimidasi, teror, dan hal tidak menyenangkan lainnya
biasa kami terima. Bahkan, kami sempat akan digeruduk di tempat kami
beraktivitas. Namun, yang lalu biarlah berlalu, seperti kata orang bijak yang
sering kita dengar.
Syahdan, kami memilih Sembilan kejadian yang berhasil
kami back up – tentu, ini berita
pilihan karena selain pembacanya yang banyak, dampaknya juga demikian. Berikut
adalah urutan berita dan kejadiannya:
Polemik
KTM Multifungsi
Pada bulan Februari, kami mengawal isu keluhan
beberapa mahasiswa terhadap mekanisme pembuatan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM)
multifungsi. Berita yang kami terbitkan dengan judul ”Polemik KTM Multifungsi
Mahasiswa Baru UTM” ini dibaca dan disebar oleh banyak mahasiswa, baik
mahasiswa lama ataupun baru.
Tentu, KTM ini adalah format baru yang tidak dirasakan
mahasiswa angkatan mulai 2018 ke bawah. Walaupun alasan pihak rektorat agar
lebih efisien, namun berbagai masalah yang didapat, gelombang demonstrasi juga
harus dihadapi oleh rektorium.
Sultan Fuadi, Mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2016
yang menjadi Kordinator Lapangan (Korlap) demo menuntut kejelasan pembuatan
KTM. Pasalnya, selain masalah teknis, massa mencurigai ada ’main’ antara pihak
Bank BNI dan UTM. Logika mereka seperti ini, dari sebuah perjanjian dan
kesepakatan ada keuntungan untuk setiap pihak.
Namun, seiring berjalannya waktu, isu ini tenggelam
dan hilang. Pihak rektorium, Supriyanto yang bersangkutan, berjanji akan
menguhungi Korlap dengan meminta nomor Whatsapp-nya. Tapi, Sultan
mengatakan, jangankan kabar baik, sekedar kabar saja tidak ia dapat.
Lebih lanjut, ketika demonstrasi sedang berlangsung,
kami dari pihak Warta UTM juga turut terkena imbasnya. Pasalnya, banyak beredar
aliansi ”Spirit Trunojoyo” yang melangsungkan aksi berafiliasi ke Spirit
Mahasiswa, padahal tidak demikian. Tentu, kita langsung melakukan klarifikasi
dengan menyebarkan poster lewat story
whatsapp (WA) – yang isinya Spirit Mahasiswa tidak ada kaitannya dengan
Spirit Trunojoyo. Hal itu kami lakukan saat demo sedang berlangsung.
Syahdan, di kalangan mahasiswa KTM multifungsi memang
menemui pro kontra, kebanyakan mahasiswa yang sepakat dengan konsep baru
tersebut suka dengan efisien dan tidak mau ribet. Terutama mahasiswa dari
perantauan, seperti se-JABODETABEK, kebanyakan mereka setuju dengan konsep ini,
bahkan tak jarang yang menyayangkan harus ada demo.
Menurut kami, KTM multifungsi ini bagus-bagus saja,
terlebih untuk mengejar ketertinggalan UTM dengan kampus-kampus besar lain,
rata-rata sudah jauh hari menggunakan KTM multifungsi. Namun, bukan di sana
letak permasalahannya, melainkan bagaimana bentuk perjanjian kedua belah pihak
yang kami soroti. Mau bagaimanapun, harus ada transparansi. Toh, ketika bentuk
perjanjian baik dan memiliki legalitas, harusnya tidak perlu ada yang ditutupi.
Indikasi
Korupsi BAAKPSI
Berawal dari laporan presiden mahasiswa (Presma) periode 2018 – 2019, Jailani, yang mendapat print out anggaran janggal yang
dikeluarkan oleh Biro Akademik Administrasi Kemahasiswaan dan Perencanaan
Sistem Informasi (BAAKPSI). Melihat banyak anggaran yang tidak masuk akan dan
disertai dengan bukti yang ada, Jailani langsung mengajak jajarannya. Pihak
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) juga dikoordinir untuk bergabung dalam aksi.
Setelah waktu ditentukan, Khairul Amin yang saat ini
mengantikan posisi Jailani sebagai Presma menjadi Korlapnya. Lebih jauh saat
itu, Amin saat itu masih menjabat menjadi Menteri Kesejahteraan Mahasiswa (Menkesma) di kabinet Jokotole.
Kami mengikuti jalannya demo mulai dari awal, yakni
titik kumpul massa di lantai dasar Graha Utama UTM. Setelah berkoordinasi, Amin
langsung menginstruksikan untuk masuk gedung rektorat, dan mulai berorasi.
Massa lain juga turut menyuarakan pendapatnya secara bergilir.
Saat orasi sedang berlangsung yang dijaga oleh satpam,
Sri Mulyani Budianingsih dan Supriyanto menemui massa, yang sekaligus ada
audiensi kecil dengan tanya jawab persoalan kejanggalan anggaran yang
dikeluarkan pihak BAAKPSI.
Berita yang kami terbitkan dengan judul ”Indikasi
Korupsi Pihak BAAKPSI UTM” ini menempati urutan kedua yang paling populer.
Selain isunya yang menarik, terlebih hal ini menyandung pihak rektorium.
Walaupun, dalam aksi tersebut massa lebih dominan menyoroti perihal pembuatan
buku pedoman mahasiswa, yang antara bukti dan anggaran tidak sinkron.
Selang beberapa hari, massa kembali melakukan aksi –
karena demo pertama mereka tidak ditemui oleh Wakil Rektor (Warek) III, yang
saat itu dijabat oleh Boedi Mustiko. Di demo kedua ini, massa menuntut
pemberhentian Boedi sebagai kemahasiswaan. Pasalnya, massa menganggap Boedi
yang paling bertanggung jawab dalam hal ini. selain itu, massa juga menyegel ruangan
Warek III, karena Boedi sendiri tidak mempermasalahkan dan berdalih tidak ingin
ada keributan.
Sampai tulisan ini terbit, kasus ini selesai tanpa
kejelasan kelanjutan kasusnya.
Program
Kampung Karakter UTM Tidak Jelas
Berita populer berikutnya adalah terkait kampung
karakter yang lahir dari konsep Wakil Rektor III pengganti Boedi Mustiko, Agung
Ali Fahmi. Kensep yang pertama digaungkan secara masal saat pengenalan
kehidupan kampus 2019 ini, ramai dilirik oleh pembaca.
Mungkin, banyak tidak terima dengan berita yang kami
terbitkan dengan judul ”Kampung Karakter UTM Masih Belum Jelas” – tentu,
perkara terima dan tidak bukan urusan kami. Namun, kami hanya mencoba
memaparkan fakta dan tanggapan dari pihak terkait.
Sempat kami menemui Agung Ali Fahmi di ruangannya
setelah berita ini ramai diperbincangkan. Agung juga sedikit menyangkan dengan
isi berita, namun pihaknya menganggap masih dalam taraf wajar. Selain itu,
Agung juga memaklumi independensi dari Warta UTM – yang sekaligus mengajak
berdiskusi terkait produk dari Warta UTM. Selebihnya Agung berharap kepada
Warta UTM bisa lebih ’baik’ lagi dalam pemberitaan.
Masih dengan kampung karakter, keberuntungan sedang
berpihak pada kami. Litbang Warta UTM sedang menggali informasi terkait ini di
luar kampus, tepatnya di warung kopi. Saat itu Litbang kami berhasil menemui
salah satu panitia pengenalan kehidupan kampus yang sekaligus bagian dari
kampung karakter. Mungkin, pihaknya tidak sadar yang diajak bicara adalah
bagian dari kami. Sebut saja si A, mahasiswa prodi pendidikan IPA, memaparkan
banyak hal terkait kampung karakter, termasuk pemilihan mahasiswa yang
tergabung dalam organisasi eksternal tertentu.
Sebenarnya, kami menilai secara garis besar kampung
karakter itu baik. Namun, lagi-lagi, kami hanya mencoba menguji keabsahan
konsep yang ditawarkan oleh panitia. Selain itu, tentu kami tidak ingin ada
konsep yang kurang absah diterapkan ke masyarakat. selain itu, kami berharap
seharusnya ada diskusi terbuka untuk konsep ini.
Pengenalan
UKM di PKKMB
Sejujurnya kami tidak mengira berita yang kami
terbitkan dengan judul ”Pengenalan UKM Tuai Keluhan Berbagai Pihak” ini bakal
ramai pembacanya. Pasalnya, kami mulanya
hanya menampung keresahan pihak UKM atas teknis yang ditetapkan panitia
pengenalan kehidupan kampus, terutama perihal waktu.
Mungkin, sekali lagi kami mengira ada pendengung dari
pihak yang tidak senang dengan berita kita sedang bekerja. Karena memang,
berita ini terkesan menyudutkan panitia, kalau ditinjau dari statement narasumber yang kami pilih.
Memang, kami tidak mempermasalahkan perubahan teknis
yang tidak sama dengan tahun sebelumnya. Namun, kenapa perlu diubah jika
hasilnya semakin buruk. Selain itu, seolah panitia memang tidak peduli dengan
UKM, karena mahasiswa baru memang tidak digiring untuk mengikuti salah satu
organisasi internal kampus.
Melirik tahun-tahun sebelumnya, seperti kata komandan
Resimen Mahasiswa 2018 – 2019, Wahib Husni Tamrin, ada penugasan untuk
mahasiswa baru agar berkenal dengan semua UKM, yang sekaligus diberi tugas
untuk meminta bukti pengenalan berupa stempel dari setiap UKM.
Fakta lain, menurut pengakuan dari kebanyakan UKM
universitas, peminat untuk mengikuti UKM dominan turun. Perkara ini malah
diperkeruh dengan konsep panitia bentukan BEM yang tidak berpihak pada UKM.
Pengusiran
Reporter Pers Mahasiswa
Kami menerbitkan berita berjudul ”Kegiatan PKKMB UTM
Tertutup” setelah berkali-kali mendapat pengusiran dari panitia pengenalan
kehidupan kampus. Beberapa reporter kami digiring paksa keluar ruangan gedung pertemuan
saat meliput hari terakhir pengenalan kehidupan kampus, setelah panitia dengan
rumit menjelaskan alasan tidak masuk akal pengusiran.
Alasan yang mbulet
dan konyol diutarakan oleh beberapa pihak, salah satunya adalah yang sedang
menjabat ketua Mahkamah Konsititusi Mahasiswa. Tentu kami geram dengan hal ini,
pasalnya jika alasan mereka jelas dan memiliki legalitas, kami bisa menghormati
untuk tidak meliput.
Setelah mendapat laporan pengusiran, pihak Litbang
kami mencoba menemui sekaligus melabrak kepanitian di ruang mereka berkumpul.
Namun, ketika didatangi, kepanitiaan malah banyak diam. Lalu, Litbang kami
minta presiden mahasiswa untuk keluar. Ketika sudah bertemu, Jailani
mengutarakan permohonan maafnya dan menjelaskan banyak hal. Namun, ketika itu
Litbang Warta UTM meminta Jailani untuk datang ke ruang kerja kami untuk
meminta maaf.
Tidak sampai situ, kami mendatangi ruangan Agung Ali
Fahmi dan langsung menceritakan yang terjadi. Agung mengatakan bahwa seluruh
kegiatan pengenalan kehidupan kampus boleh diliput dan tidak boleh tertutup.
Selain itu, pihaknya juga meminta maaf atas nama kemahasiswaan atas
kesalahpahaman tersebut.
HMI
Geruduk Kampus
Kampus sempat dihebohkan dengan penggrudukan Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) cabang Bangkalan. Hal ini terjadi setelah beredar screenshot pernyataan Agung Ali Fahmi
yang membuat mereka sakit hati. Berita dengan judul ”Ricuh, Mahasiswa
Beratribut HMI Memaksa Masuk Rektorat” masuk daftar berita populer berikutnya.
Kebetulan saat demo berlangsung, kebanyakan dari
angota kami sedang berada di luar kota, yang tersisa satu reporter dan satu
editor. Dan anehnya, demo ini juga didemo oleh kelompok mahasiswa lain, yang
banyak juga dari anggota BEM. Katanya, mereka mendemo gara-gara sikap HMI
tersebut kurang pantas masuk dalam ranah akademisi.
Namun, secara garis besar, sikap antara kedua belah
pihak bisa dibenarkan, pertama dari Agung Ali Fahmi sendiri, dan kedua dari
massa aksi. Tapi, jika melihat dari konsep aksi-reaksi, HMI tidak akan
mengruduk kampus, jika pernyataan klaim dari Agung tidak sampai keluar.
Terlebih statement tersebut
diutarakan di grup WA yang isinya kader dari organisasi eksternal kampus
lainnya. Pihak ketiga, mahasiswa yang mendemo adanya demo, juga kurang bisa
dinalar oleh otak sehat.
Sangat disayangkan, kejadian semacam ini bisa terjadi
di kampus, hanya gara-gara saling butuh pengakuan.
Kelih
Panitia PKKMB
Setelah kami melakukan investigasi yang mendalam dan
menerbitkan berita yang pembacanya paling banyak di tahun ini, kami menerbitkan
berita dengan judul ”Panitia Sebut Ajakan Masuk Ormek Di Luar Kepentingan
PKKMB” pembacanya juga banyak
.
Kami mencoba mewadahi klarifikasi dari panitia dan
mencoba meredam suasana tentunya. Panitia berdalih, oknum yang mengajak untuk
masuk ormek tertentu bukan dari bagian PKKMB.
Reporter kami mencoba meminta pandangan dari dosen
Fakultas Hukum, Encik Fauzan Muhammad. Pihaknya menganggap bahwa kegiatan
kampus tidak bisa disusupi dengan kampanye organisasi secara terselubung.
Selain itu, Encik juga menyesalkan marwah organisasi eksternal sekarang yang
lebih condong pada orientasi masa dan identitas.
September
Berdarah, Katanya
September, menjadi momok wacana mahasiswa kembali
bangkit dari magernya. Isu nasional sedang getol membicarakan Rancangan
Undang-undang (RUU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Demo mahasiswa antar
kampus semacam menjadi kontestasi kampus mana yang paling berpengaruh.
Gerakan mahasiswa di kota-kota besar dikawal dengan
rinci oleh media mainstream. Namun,
ihwal bentuk protesnya juga muncul dari kampus-kampus kecil, seperti UTM.
Faktanya, massa dari UTM pecah. Saking banyaknya
sampai terdapat dua golongan, ada yang ke Surabaya dan ada yang di Bangkalan
sendiri. Litbang kami melaporkan, ada pembicaraan di lapangan yang kenapa massa
bisa pecah, yaitu konsolidasi yang gagal.
Pasalnya, gelombang pertama yang berangkat ke Surabaya
diinisiasi oleh BEM, sedangkan di Bangkalan sendiri hasil konsolidasi beberapa
organisasi eksternal tertentu.
Berita berjudul ”Gelombang Protes dan Tuntutan
Mahasiswa Bangkalan” juga ramai dibaca. Tentu, karena ini adalah isu nasional
dan momentum yang menarik.
Selain menerbitkan berita, kami juga menerbitkan
konten ”Kumpulan Foto Gelombang Demonstrasi 26/9” dan ”Kumpulan Poster Unik
Pilihan” di Instagram. Konten pertama berisi foto jurnalistik pilihan redaksi.
Sedangkan konten kedua adalah berisi foto massa yang membawa poster unik,
karena menjadi sebuah tren nasional demo sembari membawa poster dengan
kata-kata yang sedikit menggemaskan. Konten kedua ini sangat banyak peminatnya,
notifikasi Instagram sampai jebol like dan
komen, lebih dari 75 ribu like dan
500 komentar membanjiri konten ini, bahkan konten ini sempat dihapus oleh pihak
Instagram lebih dari dua bulan, sampai akhirnya di kembalikan pada (14/12)
lalu.
Investigasi
Warta UTM
Sampailah pada berita dengan pembaca paling populer di
tahun ini, adalah ”Praktik Politik Praktis Panitia PKKMB Sakera 2019”. Selain
pembacanya yang paling banyak dan dibanjiri komentar di Instagram, dampak yang
ditimbulkan atas berita ini kepada kami juga sedikit menegangkan. Pasalnya,
sampai muncul dari surat terbuka dari mahasiswa yang enggan menyebutkan namanya
(cupu). Surat terbuka tersebut ditujukan langsung ke Agung Ali Fahmi selaku
Wakil Rektor III, yang kata penulis surat terbuka tersebut, secara garis
besarnya mempermasalahkan berita yang kami terbitkan. Alkisah seperti ini,
Litbang Warta UTM melakukan investigasi yang melibatkan lebih dari 60
responden, yang intinya menanyakan ada atau tidaknya panitia yang mengajak ikut
organisasi eksternal tertentu. Kebanyakan responden secara acak tersebut
mengiyakan adanya ajakan dari panitia. Selain itu, ada beberapa mahasiswa juga
yang tanpa diminta melaporkan ajakan panitia ke kami.
Syahdan, setelah berita ini viral di kalangan
mahasiswa UTM, banyak cacian, intimidasi bahkan teror yang ditujukan kepada
kami. Story WA yang isinya ujar
kebencian kepada kami juga banyak. Bahkan, ada banyak laporan dari mahasiswa
baru yang dihasut oleh panitia bahwa kami suka bikin ulah. Sejujurnya, kami
bingung, siapa yang bikin ulah.
Lebih lanjut, pada hari terbitnya beri ini, ada
ancaman dari pihak yang kami beritakan agar kami meminta maaf. Bahkan dikasih
ultimatum sampai sore harinya, jika tidak kami akan digeruduk. Tentu, sejujurnya kami bingung minta maaf atas apa, toh
fakta yang kami sertakan dalam berita cukup jelas.
Namun, selain ancaman, dukungan juga banyak
berdatangan kepada kami. Tanpa diminta, banyak perwakilan dari UKM, organisasi,
bahkan komunitas luar kampus menyatakan mendukung kami. Garis besarnya mereka
akan membantu kami jika ada hal-hal yang tidak diinginkan.
Namun, seiring berjalannya waktu, kami menganggap
masalah ini telah selesai.
Dari keseluruhan berita di atas, ada sedikit
kesimpulan bahwa memang pembaca khususnya dari mahasiswa UTM lebih senang
dengan berita ’keburukan’ kampus. Padahal, berita semacam prestasi UTM menjadi
tuan rumah rapat kerja PTS se-Jawa Timur sepi pembacanya.
Sedihnya seperti ini, kita menerbitkan berita yang
dianggap ’buruk’ dihujat habis-habisan dengan berbagai tuduhan, bikin berita
yang biasa-biasa tidak dibaca, dan malah tidak jarang yang menghujat ketika
menyelenggarakan acara dan seterusnya minta untuk diliput.
Tidak apa-apa, kami kuat.

