Kami mulai dari terpilihnya Jailani dinyatakan menang
dan resmi menjadi presiden mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) periode
2018 – 2019. Jailani saat kami wawancara secara eksklusif, pihaknya mengatakan
ada tiga isu besar dalam masa periodenya yang akan diselesaikan. Pencairan
dana, fasilitas, dan jam malam adalah masalah yang akan diselesaikan – karena
tiga hal tersebut sangat meresahkan kalangan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Namun, melihat fakta yang ada, ketiga perkara tersebut
satupun tidak selesai di bawah kepemimpinannya. Bahkan, kami menilai perihal
pencairan pendanaan malah semakin rumit. Memang, bukan pihaknya yang membuat
rumit, namun seharusnya bisa menjembatani ke pihak rektorium, seolah Jailani
hanya memetik keuntungan secara sepihak. Bagaimana tidak, ketika UKM lain
sedang bingung dengan dana yang tak kunjung turun, banyak sekali dana tambahan
untuk Jailani dinas ke beberapa daerah. Selain itu, tentu menyiprat ke anggota
Badan Eksekutif Mahasiswa lainnya yang diajak untuk keluar kota.
Di samping itu, kami juga tidak berat hati Jailani
adalah sosok yang akrab dengan anak-anak UKM, dengan tolak ukur presma dua
periode sebelumnya.
Walau bagaimanapun, fakta tetap fakta, dan harus kami
utarakan. Masalah yang selalu sama di kinerja badan kelengkapan masih terulang
di periode Jailani. Seperti masalah usang stagnasi studi banding – yang selalu
’kurang persiapan’.
Masih dengan Jailani, pihaknya juga menyayangkan Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) pada tahun-tahun sebelumnya yang sebatas event organizer (EO) belaka – yang
seharusnya bisa dilakukan oleh UKM lain, bukan malah dikuasai oleh BEM.
Awalnya, memang kami menaruh harap Jailani bisa
merubah kebiasaan kurang baik dan visioner di lingkaran badan kelengkapan, di
BEM khususnya. Namun, ternyata Jailani tak ubahnya presiden mahasiswa lainnya
yang diusung oleh Organisasi Mahasiswa Eksternal Kampus (Ormek).
Syahdan, badan kelengkapan selain BEM, Dewan
Perwakilan Mahasiswa (DPM), dan Mahkamah Konstitusi Mahasiswa (MKM) tidak jauh
beda dengan simbolik mitos trias politika, yang tidak penting-penting banget.
Menguliti
Kinerja Badan Kelengkapan Mahasiswa
Kami mulai dari postingan masing-masing badan
kelengkapan mahasiswa, yang didominasi postingan tidak penting (sampah). Seolah
ingin menampakkan progresivitas, padahal jatuhnya norak dan unfaedah. Walaupun
sedikit apresiasi kami berikan kepada layouter
BEM dan DPM, yang sudah berusaha membuat seolah postingan di Instagram ramai.
Sedang MKM, fungsinya tidak lebih dari sebatas kepunyaan saja, selebihnya
nihil.
Terkait kinerja BEM, melihat agenda akbar dalam
mengurusi pengenalan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru – dengan masif dan
rapi kami mengawal dalam bentuk berita harian. Salah satu konsep dalam agenda
tersebut salah satunya adalah ekoliterasi, yang bisa kami katakan sebuah
kemunafikan. Pasalnya, gerakan ekologi misalnya, hanya sebatas seremonial dan
gaya-gayaan saja. Pihak panitia yang dibentuk BEM mewajibkan maba untuk memakai
kotak makanan, dan menghindari penggunaan plastik, sedangkan dari BEM dan
kepanitiaan menggunakan bungkus makanan dari sterofoam. Ihwal literasi,
singkatnya hanya gerakan pungli buku – membaca bukunya kembali ke individu
masing-masing.
Beranjak dari BEM – DPM sendiri tidak jauh berbeda
dengan BEM, perlu sedikit diapresiasi kinerja layouter-nya, selebihnya tidak. Feed Instagram DPM juga
didominasi oleh sampah yang seharusnya tidak perlu diunggah. Hemat kami,
melihat pola feed yang dipakai kedua badan kelengkapan mahasiswa ini
jatuhnya adalah spam.
Nuruddin, sebagai ketua DPM periode 2018 – 2019 adalah
mantan ketua MKM pada tahun sebelumnya. Walaupun ketika di MKM kami tidak bisa
merasakan bagaimana program kerja mereka. Mungkin, hanya Nuruddin yang bisa
loncat-loncat menjabat sebagai ketua badan kelengkapan mahasiswa. Mungkin untuk
kedua kalinya, hanya Nuruddin mahasiswa di UTM yang memiliki kaliber dan
kompetensi yang amat tinggi.
Lebih lanjut, DPM adalah representatif dari legislator
di tingkat kampus, singkatnya tugas, wewenang, dan fungsinya tidak jauh beda
dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPR). Namun, kami rasa DPM tidak mampu
membuat gebrakan hukum di lingkungan kampus, yang bisa memberikan manfaat
kepada banyak mahasiswa.
Sampai pada MKM, bagian dari UKM yang tidak ada tidak
masalah. Pengaruhnya tidak ada, jika tiba-tiba UKM ini dibubarkan. Pasalnya,
dalam sejarah MKM dari awal berdiri, sidang hanya pernah sekali, dan banyak
pihak yang menilai sidang yang dilakukan MKM cacat. Namun, sidang tersebut
bukan di masa kepemimpinan Holel.
Kami selalu serius mengawal ihwal MKM – yang sekaligus
kami berharap peran nyata dari UKM ini. Pada masa kepemimpinan Nuruddin
misalnya, Litbang kami pernah berbincang mengenai MKM ke depan. Nuruddin
mengatakan waktu itu, haluan dan jaungkauan penyelesaian sengketa akan
diperluas. Walaupun hasilnya hanya sebatas wacana saja.
Lebih jauh, karena kami begitu peduli dengan MKM
sedari dulu – pada 2017 silam kami pernah membuat buletin khusus membahas MKM.
Dalam buletin tersebut berisi, survei, kilas balik, dan lainnya yang sekiranya
dapat menjadi bahan untuk evaluasi.
Kembali ke MKM, yang dipimpin Holel mahasiswa prodi
Ilmu Hukum UTM angkatan 2016, yang kami rasakan secara langsung adalah sikapnya
mengusir reporter kami saat sedang bertugas. Terima kasih kami haturkan.
Dominasi
dan Penguasaan Trio Maskentir
Ada beberapa selentingan, yang menyesalkan perilaku
eksklusif dari anggota badan kelengkapan kampus, yang didominasi oleh kesamaan
almamater ekstra kampus, juga dekat dengan orang rektorat tentunya.
Tentu, sikap semacam ini seharusnya tidak terjadi.
Pasalnya, embel-embel keluarga mahasiswa sudah disepakati menjadi bagian dari
nama setiap UKM. Selain itu, BEM, DPM, MKM, merupakan bagian dari UKM, sumber
perolehan anggaran juga sama dengan UKM. Lalu, fakta-fakta tadi menjadi
pengingat bahwa tidak seharusnya dari Trio Maskentir, ini saya menyebutnya,
merasa superior dan lebih tinggi derajatnya.
Sebagai akhir kata, pesan untuk Khairul Amin, presiden
mahasiswa terpilih, agar lebih serius mendengungkan perihal sinergitas antar
UKM – nyata dan tidak sebatas rekayasa
belaka.

