Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perjuangan Sekuat Tenaga Badan Kelengkapan Mahasiswa

Minggu, 22 Desember 2019 | 05.38.00 WIB Last Updated 2019-12-23T00:49:10Z


Kami mulai dari terpilihnya Jailani dinyatakan menang dan resmi menjadi presiden mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) periode 2018 – 2019. Jailani saat kami wawancara secara eksklusif, pihaknya mengatakan ada tiga isu besar dalam masa periodenya yang akan diselesaikan. Pencairan dana, fasilitas, dan jam malam adalah masalah yang akan diselesaikan – karena tiga hal tersebut sangat meresahkan kalangan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Namun, melihat fakta yang ada, ketiga perkara tersebut satupun tidak selesai di bawah kepemimpinannya. Bahkan, kami menilai perihal pencairan pendanaan malah semakin rumit. Memang, bukan pihaknya yang membuat rumit, namun seharusnya bisa menjembatani ke pihak rektorium, seolah Jailani hanya memetik keuntungan secara sepihak. Bagaimana tidak, ketika UKM lain sedang bingung dengan dana yang tak kunjung turun, banyak sekali dana tambahan untuk Jailani dinas ke beberapa daerah. Selain itu, tentu menyiprat ke anggota Badan Eksekutif Mahasiswa lainnya yang diajak untuk keluar kota.

Di samping itu, kami juga tidak berat hati Jailani adalah sosok yang akrab dengan anak-anak UKM, dengan tolak ukur presma dua periode sebelumnya.

Walau bagaimanapun, fakta tetap fakta, dan harus kami utarakan. Masalah yang selalu sama di kinerja badan kelengkapan masih terulang di periode Jailani. Seperti masalah usang stagnasi studi banding – yang selalu ’kurang persiapan’.

Masih dengan Jailani, pihaknya juga menyayangkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) pada tahun-tahun sebelumnya yang sebatas event organizer (EO) belaka – yang seharusnya bisa dilakukan oleh UKM lain, bukan malah dikuasai oleh BEM.

Awalnya, memang kami menaruh harap Jailani bisa merubah kebiasaan kurang baik dan visioner di lingkaran badan kelengkapan, di BEM khususnya. Namun, ternyata Jailani tak ubahnya presiden mahasiswa lainnya yang diusung oleh Organisasi Mahasiswa Eksternal Kampus (Ormek).

Syahdan, badan kelengkapan selain BEM, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), dan Mahkamah Konstitusi Mahasiswa (MKM) tidak jauh beda dengan simbolik mitos trias politika, yang tidak penting-penting banget.

Menguliti Kinerja Badan Kelengkapan Mahasiswa

Kami mulai dari postingan masing-masing badan kelengkapan mahasiswa, yang didominasi postingan tidak penting (sampah). Seolah ingin menampakkan progresivitas, padahal jatuhnya norak dan unfaedah. Walaupun sedikit apresiasi kami berikan kepada layouter BEM dan DPM, yang sudah berusaha membuat seolah postingan di Instagram ramai. Sedang MKM, fungsinya tidak lebih dari sebatas kepunyaan saja, selebihnya nihil.

Terkait kinerja BEM, melihat agenda akbar dalam mengurusi pengenalan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru – dengan masif dan rapi kami mengawal dalam bentuk berita harian. Salah satu konsep dalam agenda tersebut salah satunya adalah ekoliterasi, yang bisa kami katakan sebuah kemunafikan. Pasalnya, gerakan ekologi misalnya, hanya sebatas seremonial dan gaya-gayaan saja. Pihak panitia yang dibentuk BEM mewajibkan maba untuk memakai kotak makanan, dan menghindari penggunaan plastik, sedangkan dari BEM dan kepanitiaan menggunakan bungkus makanan dari sterofoam. Ihwal literasi, singkatnya hanya gerakan pungli buku – membaca bukunya kembali ke individu masing-masing.

Beranjak dari BEM – DPM sendiri tidak jauh berbeda dengan BEM, perlu sedikit diapresiasi kinerja layouter-nya, selebihnya tidak. Feed Instagram DPM juga didominasi oleh sampah yang seharusnya tidak perlu diunggah. Hemat kami, melihat pola feed yang dipakai kedua badan kelengkapan mahasiswa ini jatuhnya adalah spam.

Nuruddin, sebagai ketua DPM periode 2018 – 2019 adalah mantan ketua MKM pada tahun sebelumnya. Walaupun ketika di MKM kami tidak bisa merasakan bagaimana program kerja mereka. Mungkin, hanya Nuruddin yang bisa loncat-loncat menjabat sebagai ketua badan kelengkapan mahasiswa. Mungkin untuk kedua kalinya, hanya Nuruddin mahasiswa di UTM yang memiliki kaliber dan kompetensi yang amat tinggi.

Lebih lanjut, DPM adalah representatif dari legislator di tingkat kampus, singkatnya tugas, wewenang, dan fungsinya tidak jauh beda dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPR). Namun, kami rasa DPM tidak mampu membuat gebrakan hukum di lingkungan kampus, yang bisa memberikan manfaat kepada banyak mahasiswa.

Sampai pada MKM, bagian dari UKM yang tidak ada tidak masalah. Pengaruhnya tidak ada, jika tiba-tiba UKM ini dibubarkan. Pasalnya, dalam sejarah MKM dari awal berdiri, sidang hanya pernah sekali, dan banyak pihak yang menilai sidang yang dilakukan MKM cacat. Namun, sidang tersebut bukan di masa kepemimpinan Holel.

Kami selalu serius mengawal ihwal MKM – yang sekaligus kami berharap peran nyata dari UKM ini. Pada masa kepemimpinan Nuruddin misalnya, Litbang kami pernah berbincang mengenai MKM ke depan. Nuruddin mengatakan waktu itu, haluan dan jaungkauan penyelesaian sengketa akan diperluas. Walaupun hasilnya hanya sebatas wacana saja.

Lebih jauh, karena kami begitu peduli dengan MKM sedari dulu – pada 2017 silam kami pernah membuat buletin khusus membahas MKM. Dalam buletin tersebut berisi, survei, kilas balik, dan lainnya yang sekiranya dapat menjadi bahan untuk evaluasi.

Kembali ke MKM, yang dipimpin Holel mahasiswa prodi Ilmu Hukum UTM angkatan 2016, yang kami rasakan secara langsung adalah sikapnya mengusir reporter kami saat sedang bertugas. Terima kasih kami haturkan.
Dominasi dan Penguasaan Trio Maskentir
Ada beberapa selentingan, yang menyesalkan perilaku eksklusif dari anggota badan kelengkapan kampus, yang didominasi oleh kesamaan almamater ekstra kampus, juga dekat dengan orang rektorat tentunya.

Tentu, sikap semacam ini seharusnya tidak terjadi. Pasalnya, embel-embel keluarga mahasiswa sudah disepakati menjadi bagian dari nama setiap UKM. Selain itu, BEM, DPM, MKM, merupakan bagian dari UKM, sumber perolehan anggaran juga sama dengan UKM. Lalu, fakta-fakta tadi menjadi pengingat bahwa tidak seharusnya dari Trio Maskentir, ini saya menyebutnya, merasa superior dan lebih tinggi derajatnya.

Sebagai akhir kata, pesan untuk Khairul Amin, presiden mahasiswa terpilih, agar lebih serius mendengungkan perihal sinergitas antar UKM – nyata  dan tidak sebatas rekayasa belaka.


×
Berita Terbaru Update