WKUTM – Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM)
mengadakan acara debat kandidat pasangan calon (paslon) presiden dan wakil
presiden mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) periode 2019 - 2020.
Acara yang mempertemukan Ainur Riski - Nisa Desiana sebagai paslon nomor urut
satu dan Khorul Amin - Najib Mutamam sebagai paslon nomor urut dua ini dihadiri
oleh perwakilan rektorium dan badan kelengkapan mahasiswa terkait. Acara yang
berlangsung di sebelah timur gedung auditorium ini resmi dibuka setelah pemukulan
gong oleh Wakil Rektor III, Agung Ali Fahmi, pada (14/11).
Perihal open recuitment menjadi anggota KPUM, Ketua Dewan Perwakilan
Mahasiswa (DPM), Nuruddin, mengatakan bahwa
sejak (06/10) telah dibuka pendaftran untuk menjadi anggota KPUM beserta
pengawasnya. Lebih lanjut Nuruddin menuturkan peran dari DPM adalah sebagai
penanggung jawab dan pemberi arahan pemilihan umum yang tidak memihak pada
salahsatu paslon. Ia menyebutkan jika salah satu anggota DPM menjadi
koordinator panitia pengawas yang berlandaskan jujur, keadilan, dan
kebersamaan.
”Saya selaku
penanggung jawab disini, kita harus
memberi arahan kepada KPUM apa yang belum mereka ketahui, karena yang namanya
tanggung jawab juga harus bisa mengarahkan dan tidak berpihak kepada siapapun,”
ungkap mahasiswa asal sampang tersebut.
Sementara itu Ketua KPUM periode 2019, Moh. Bakir, menjelaskan
tugas dari KPUM sebagai penyelenggara pemilu raya. Bakir juga menjelaskan tujuan
diselenggarakannya acara debat tersebut agar mahasiswa UTM mengetahui visi-misi
antar paslon. Lebih lanjut ia menilai jika acara debat tesebut masih menemui
beberapa kendala, baik dari kepanitiaan maupun fasilitas.
Masih dengan Bakir, pihaknya menyayangkan sedikitnya
peserta yang hadir dalam debat kandidat, karena ia menilai bahwa ini adalah
momentum adu gagasan, program kerja, dan kualitas setiap paslonnya. Kendati
demikian ia tetap bersyukur karena pendukung tiap kandidat bisa tertib, harap
Bakir kampanye yang dilakukan tiap paslon nantinya tidak menyalahi aturan yang
ada.
”Harapan kedepan saya untuk kedua paslon bisa
berkampanye dengan damai dan adil jangan memakai cara-cara yang tidak baik,”
harap mahasiswa prodi Teknik Industri tersebut.
Ketua Panitia Pengawas KPUM, Mohammad Toyib,
mengungkapkan jika tugas utama dari panitia pengawas adalah mengawasi dan
menjaga kenetralan dari anggota KPUM. Sebagai bentuk menjaga kenetralan tersebut
ia dan tujuh anggota lainnya mengaku sementara harus membatasi bertemu dengan
berbagai kalangan mahasiswa.
Masih dengan Toyib, ia mengaku beberapa waktu lalu
menerima laporan jika salah satu anggota KPUM kedapatan mengunggah status salahsatu
paslon di Whatsapp. Setelah ia
konfirmasi, pihak yang bersangkutan berdalih jika nomer whatsapp-nya di hack. Mahasiswa asal sumenep tersebut menilai jika hal
tersebut belum menghilangkan kenetralan anggota KPUM dan masih dalam taraf
aman. Namun jika memang terbukti salah,
ia tidak segan-segan memberi sanksi tegas kepada anggota KPUM yang melanggar
aturan setelah berkoordinasi dengan DPM.
”Hal tersebut masih dalam koridor aman kalau menurut
saya, tapi entah kalau menurut orang lain karena saya tegaskan teman-teman
untuk tetap berkumpul sesama dengan panitia,” Pungkas mahasiswa angkatan 2016.
selaku Dosen Fakultas Hukum (FH) UTM yang menjadi
panelis debat, Firman Arif Pribadi, mengungkapkan jika tugasnya mengeksplor
sikap paslon dari jawaban yang ia lontarkan agar menjadi refrensi bagi pemilih.
Ia mengungkapkan alasan pertanyaan tentang sikap para paslon dari segi prestasi,
dalam kompetisi Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen Belmawa) – bahwa, peringkat UTM masih rendah
bahkan lebih dari seratus besar.
Dari pertanyaan yang ia lontarkan tersebut, Firman
ingin mengetahui komitmen, sikap hubungan masing-masing paslon dengan UKM dalam
peningkatan prestasi di Ditjen Belmawa, karena banyaknya prestasi menjadi salah
satu penilaian dari Perguruan Tinggi.
Firman menilai kedua paslon tersebut memiliki
karakteristik jawaban terkait upaya peningkatan prestasi yang berbeda, jika
nomer urut satu lebih menekankan
komunikasi antar UKM, menyelenggarakan acara bersama. Sementara kandidat nomer
urut dua lebih menekankan pada komunikasi dengan pimpinan, berkaitan dengan
anggaran, sarana dan prasarana. Namun kedua hal tersebut juga perlu
diselaraskan dengan visi-misi Rektor yang menekankan pada daya saing bukan lagi
tingkat nasional.
”saya berharap teman-teman organisasi kemahasiswaan
konsisten dengan aturan yang dibuat, apakah mereka memang benar menjalankan
aturan organisasi berdasarkan aturan yang disepakati bersama. Karena saya
melihat apa yang dilakukan organisasi
kemahasiswaan adalah tradisi yang pada tahun-tahun lalu terkesan pasif,
karena hal tersebut tidak dibingkai dalam suatu kerangka yang efektif bagi
setiap organisasi kemahasiswaan untuk berinteraksi satu sama lain agar menjadi
lebih dinamis,” harap pria asal Trenggalek tersebut. (Sur/Time)
