Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Debat Kandidat Calon Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa UTM

Kamis, 14 November 2019 | 08.53.00 WIB Last Updated 2019-11-14T17:10:27Z



WKUTM – Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) mengadakan acara debat kandidat pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) periode 2019 - 2020. Acara yang mempertemukan Ainur Riski - Nisa Desiana sebagai paslon nomor urut satu dan Khorul Amin - Najib Mutamam sebagai paslon nomor urut dua ini dihadiri oleh perwakilan rektorium dan badan kelengkapan mahasiswa terkait. Acara yang berlangsung di sebelah timur gedung auditorium ini resmi dibuka setelah pemukulan gong oleh Wakil Rektor III, Agung Ali Fahmi, pada (14/11).

Perihal  open recuitment  menjadi anggota KPUM, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Nuruddin, mengatakan  bahwa sejak (06/10) telah dibuka pendaftran untuk menjadi anggota KPUM beserta pengawasnya. Lebih lanjut Nuruddin menuturkan peran dari DPM adalah sebagai penanggung jawab dan pemberi arahan pemilihan umum yang tidak memihak pada salahsatu paslon. Ia menyebutkan jika salah satu anggota DPM menjadi koordinator panitia pengawas yang berlandaskan jujur, keadilan, dan kebersamaan.

”Saya  selaku penanggung jawab disini, kita  harus memberi arahan kepada KPUM apa yang belum mereka ketahui, karena yang namanya tanggung jawab juga harus bisa mengarahkan dan tidak berpihak kepada siapapun,” ungkap mahasiswa asal sampang tersebut.

Sementara itu Ketua KPUM periode 2019, Moh. Bakir, menjelaskan tugas dari KPUM sebagai penyelenggara pemilu raya. Bakir juga menjelaskan tujuan diselenggarakannya acara debat tersebut agar mahasiswa UTM mengetahui visi-misi antar paslon. Lebih lanjut ia menilai jika acara debat tesebut masih menemui beberapa kendala, baik dari kepanitiaan maupun fasilitas.

Masih dengan Bakir, pihaknya menyayangkan sedikitnya peserta yang hadir dalam debat kandidat, karena ia menilai bahwa ini adalah momentum adu gagasan, program kerja, dan kualitas setiap paslonnya. Kendati demikian ia tetap bersyukur karena pendukung tiap kandidat bisa tertib, harap Bakir kampanye yang dilakukan tiap paslon nantinya tidak menyalahi aturan yang ada.

”Harapan kedepan saya untuk kedua paslon bisa berkampanye dengan damai dan adil jangan memakai cara-cara yang tidak baik,” harap mahasiswa prodi Teknik Industri tersebut.

Ketua Panitia Pengawas KPUM, Mohammad Toyib, mengungkapkan jika tugas utama dari panitia pengawas adalah mengawasi dan menjaga kenetralan dari anggota KPUM. Sebagai bentuk menjaga kenetralan tersebut ia dan tujuh anggota lainnya mengaku sementara harus membatasi bertemu dengan berbagai kalangan mahasiswa.

Masih dengan Toyib, ia mengaku beberapa waktu lalu menerima laporan jika salah satu anggota KPUM kedapatan mengunggah status salahsatu paslon di Whatsapp. Setelah ia konfirmasi, pihak yang bersangkutan berdalih jika nomer whatsapp-nya di hack. Mahasiswa asal sumenep tersebut menilai jika hal tersebut belum menghilangkan kenetralan anggota KPUM dan masih dalam taraf aman. Namun jika memang  terbukti salah, ia tidak segan-segan memberi sanksi tegas kepada anggota KPUM yang melanggar aturan setelah berkoordinasi dengan DPM.

”Hal tersebut masih dalam koridor aman kalau menurut saya, tapi entah kalau menurut orang lain karena saya tegaskan teman-teman untuk tetap berkumpul sesama dengan panitia,” Pungkas mahasiswa angkatan 2016.

selaku Dosen Fakultas Hukum (FH) UTM yang menjadi panelis debat, Firman Arif Pribadi, mengungkapkan jika tugasnya mengeksplor sikap paslon dari jawaban yang ia lontarkan agar menjadi refrensi bagi pemilih. Ia mengungkapkan alasan pertanyaan tentang sikap para paslon dari segi prestasi, dalam kompetisi Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen Belmawa) – bahwa, peringkat UTM masih rendah bahkan lebih dari seratus besar.

Dari pertanyaan yang ia lontarkan tersebut, Firman ingin mengetahui komitmen, sikap hubungan masing-masing paslon dengan UKM dalam peningkatan prestasi di Ditjen Belmawa, karena banyaknya prestasi menjadi salah satu penilaian dari Perguruan Tinggi.  

Firman menilai kedua paslon tersebut memiliki karakteristik jawaban terkait upaya peningkatan prestasi yang berbeda, jika nomer urut satu lebih  menekankan komunikasi antar UKM, menyelenggarakan acara bersama. Sementara kandidat nomer urut dua lebih menekankan pada komunikasi dengan pimpinan, berkaitan dengan anggaran, sarana dan prasarana. Namun kedua hal tersebut juga perlu diselaraskan dengan visi-misi Rektor yang menekankan pada daya saing bukan lagi tingkat nasional.

”saya berharap teman-teman organisasi kemahasiswaan konsisten dengan aturan yang dibuat, apakah mereka memang benar menjalankan aturan organisasi berdasarkan aturan yang disepakati bersama. Karena saya melihat apa yang dilakukan organisasi  kemahasiswaan adalah tradisi yang pada tahun-tahun lalu terkesan pasif, karena hal tersebut tidak dibingkai dalam suatu kerangka yang efektif bagi setiap organisasi kemahasiswaan untuk berinteraksi satu sama lain agar menjadi lebih dinamis,” harap pria asal Trenggalek tersebut. (Sur/Time)




×
Berita Terbaru Update