Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Membangun Kesadaran Bahaya Sampah Plastik

Jumat, 02 Agustus 2019 | 11.50.00 WIB Last Updated 2019-08-02T18:50:52Z
PKKMB UTM 2019. Foto : Liaa


WKUTM – Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) dimulai sejak Jumat (2/8). Bertempat di Gedung Pertemuan, kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan selama empat hari sampai tanggal 5 Agustus 2019.

Acara yang dimulai sejak pukul 08.30 WIB ini dibuka secara resmi oleh Moh. Syarif selaku Rektor Universitas Trunojoyo Madura dengan melakukan pemukulan gong. Selain diikuti oleh 4800 peserta PKKMB, acara ini juga dihadiri oleh jajaran rektorium, dekanat serta undangan lainnya.

Pada kegiatan PKKMB tahun ini, tema yang diusung adalah Membentuk Karakter Trunojoyo Muda dengan Ekoliterasi dengan harapan mahasiswa baru dapat lebih mencintai lingkungan sekitarnya. hal ini didukung dengan pemberian  materi oleh Bambang Suprakto selaku Kepala Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan.

Bambang dalam materinya menjelaskan beberapa komposisi penyumbang sampah terbanyak, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Walaupun sampah organik menjadi nomor satu dalam menyumbang sampah terbanyak, tetapi hal ini tidak menjadi masalah karena sampah organik mudah terurai.

Berbeda lagi dengan sampah anorganik yang tidak mudah terurai seperti plastik, kaleng dan lain sebagainya. Menurutnya, sampah plastik  merupakan jenis sampah yang paling sulit terurai. Dibutuhkan waktu ratusan tahun agar sampah tersebut terurai dengan sempurna.
Sampah menjadi problem tersendiri untuk urusan dunia karena untuk mengurai plastik dibutuhkan ratusan tahun,ujarnya.

Setidaknya, menurut Bambang butuh 400 tahun untuk mengurai botol plastik, 100 tahun untuk mengurai sampai plastik yang lainnya seperti bungkus makanan, kantong plastik dan sedotan. Selain sampah plastik yang susah diurai ada beberapa jenis sampah lain yang butuh beberapa bulan untuk terurai seperti putung rokok. Berbeda halnya dengan sterofom, sampah ini menjadi sampah yang berbahaya karena jenis sampah ini tidak bisa diurai.

Persentase penggunaan plastik dari tahun 2013 hingga tahun 2016 juga meningkat sebanyak 3%. Peningkatan penggunaan sampah plastik tersebut dikarenakan adanya perubahan gaya hidup, gaya hidup dapat mempengaruhi pemakaian sampah plastik. Seperti halnya dalam kehidupan kota metropolitan yang hampir seluruhnya menggunakan plastik.

”perubahan gaya hidup dan budaya juga dapat mempengaruhi pemakaian sampah yang tinggi,” jelasnya.

Dampak dari sampah plastik juga dijelaskan oleh Bambang. Seperti, merusak pemandangan, mengganggu biota laut dan penguraiannya yang membutuhkan waktu yang lama. Hal ini dapat merugikan seluruh mahkluk hidup.

Maka dari itu, pentingnya penyadaran akan ruginya sampah plastik kepada mahasiswa. Bambang memilih mahasiswa dalam penyadaran hal tersebut supaya mahasiswa menerapkan kepada dirinya sendiri yang kemudian akan diterapkan kepada keluarga dan masyarakat sekitar. Tidak hanya itu, seseorang yang berpendidikan seperti mahasiswa merupakan salah satu penerus bangsa.

Sampah menjadi isu menarik karena persoalan sampah adalah soal kesadaran tinggi tugas mahasiswa adalah menyadarkan diri sendiri keluarga dan masyarakat sekitar,” jelasnya.  (Nov/Ra)

×
Berita Terbaru Update