![]() |
| PKKMB UTM 2019. Foto : Liaa |
WKUTM – Pengenalan Kehidupan
Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB)
dimulai sejak Jumat (2/8).
Bertempat di Gedung Pertemuan, kegiatan ini rencananya
akan dilaksanakan selama empat
hari sampai tanggal 5 Agustus 2019.
Acara
yang dimulai sejak pukul 08.30 WIB ini dibuka secara resmi oleh Moh. Syarif selaku Rektor
Universitas Trunojoyo Madura dengan melakukan pemukulan gong. Selain diikuti oleh 4800 peserta PKKMB, acara
ini juga dihadiri oleh jajaran rektorium, dekanat serta undangan lainnya.
Pada kegiatan PKKMB tahun ini, tema
yang diusung adalah Membentuk Karakter Trunojoyo Muda dengan
Ekoliterasi dengan harapan
mahasiswa baru dapat
lebih mencintai lingkungan
sekitarnya. hal ini didukung dengan pemberian materi oleh Bambang Suprakto selaku Kepala
Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan.
Bambang dalam materinya menjelaskan beberapa komposisi penyumbang sampah
terbanyak, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Walaupun sampah organik
menjadi nomor satu dalam menyumbang sampah terbanyak, tetapi hal ini tidak
menjadi masalah karena sampah organik mudah terurai.
Berbeda lagi dengan sampah anorganik
yang tidak mudah terurai seperti plastik, kaleng dan lain sebagainya. Menurutnya,
sampah plastik merupakan jenis sampah
yang paling sulit terurai. Dibutuhkan waktu ratusan tahun agar sampah tersebut
terurai dengan sempurna.
”Sampah menjadi problem tersendiri untuk urusan dunia
karena untuk mengurai
plastik dibutuhkan ratusan tahun,”
ujarnya.
Setidaknya, menurut Bambang butuh
400 tahun untuk mengurai botol plastik, 100 tahun untuk mengurai sampai plastik
yang lainnya seperti bungkus makanan, kantong plastik dan sedotan. Selain
sampah plastik yang susah diurai ada beberapa jenis sampah lain yang butuh
beberapa bulan untuk terurai seperti putung rokok. Berbeda halnya dengan
sterofom, sampah ini menjadi sampah yang berbahaya karena jenis sampah ini
tidak bisa diurai.
Persentase penggunaan plastik dari
tahun 2013 hingga tahun 2016 juga meningkat sebanyak 3%. Peningkatan penggunaan
sampah plastik tersebut dikarenakan adanya perubahan gaya hidup, gaya hidup
dapat mempengaruhi pemakaian sampah plastik. Seperti halnya dalam kehidupan
kota metropolitan yang hampir seluruhnya menggunakan plastik.
”perubahan gaya hidup dan budaya
juga dapat mempengaruhi pemakaian sampah yang tinggi,” jelasnya.
Dampak dari sampah plastik juga
dijelaskan oleh Bambang. Seperti, merusak pemandangan, mengganggu biota laut
dan penguraiannya yang membutuhkan waktu yang lama. Hal ini dapat merugikan
seluruh mahkluk hidup.
Maka dari itu, pentingnya penyadaran
akan ruginya sampah plastik kepada mahasiswa. Bambang memilih mahasiswa dalam penyadaran hal tersebut supaya
mahasiswa menerapkan kepada
dirinya sendiri yang kemudian akan diterapkan kepada keluarga dan masyarakat
sekitar. Tidak hanya itu, seseorang yang berpendidikan seperti mahasiswa
merupakan salah satu penerus bangsa.
”Sampah menjadi isu menarik
karena persoalan sampah adalah soal kesadaran tinggi tugas mahasiswa adalah menyadarkan diri
sendiri keluarga dan masyarakat sekitar,” jelasnya. (Nov/Ra)

