Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perempuan Abu Tembakau

Selasa, 06 Desember 2022 | 04.54.00 WIB Last Updated 2022-12-06T13:16:35Z

“Kita harus mogok kerja untuk beberapa saat agar harga tembakau tidak menjerat leher kita, Pak,” ucap Lastri sambil melinting rokok untuk bapaknya. Perempuan 15 tahun bertubuh bongsor dalam masa remajanya dengan semangat pemberontakan yang membara ini tengah menyusun strategi untuk mendobrak kebijakan pemerintah yang mencetak para petani tembakau sebagai budak tanpa tanda jasa.

Tiga tahun berjalan penuh air mata dan keringat, dengan menahan segala kekurangan ekonomi para petani tembakau di pelosok desa Kabupaten Sampang Madura yang hasil panennya hanya cukup untuk membeli bibit tembakau di musim tanam kemudian. Keresahan petani tembakau semakin memuncak ketika keringatnya tidak terbayar dengan seimbang. Harga tembakau hanya berkisar 20 ribu per kilo sedangkan harga rokok terus naik.

Sambil menghisap dalam-dalam sebatang rokok, Suripan tampak sangat menikmati setiap isapan dan embusan asap dengan aroma tembakau hasil tanamannya sendiri, laki-laki berusia 60 tahun yang telah ditinggal mati istrinya saat melahirkan anak pertamanya ini sangat memegang teguh kepercayaan leluhurnya bahwa menanam tembakau dapat membuat hidup tenang dan mudah terbebas dari hutang, hingga ia tidak peduli sama sekali perihal harga tembakau yang tengah dipermainkan oleh pemerintah.

“Jangan terlalu memikirkan kepentingan orang, Lastri, selagi masih ada beras untuk dimakan, bisa duduk di sawah menikmati pemandangan dengan wewangian tembakau seperti ini kau seharusnya bersyukur pada sang pencipta, Nak, hidup ini sudah ada yang menjamin, kita hanya tinggal berusaha sekuat tenaga dan jangan memaksakan kehendak,” sambil meresapi isapan rokoknya, Suripan mencoba menenangkan Lastri. 

“Bapak sudah terlalu percaya dengan omong kosong leluhur apalah itu, ini semua akan sia-sia, Pak, lihat itu, harga rokok semakin tinggi, sedangkan apa yang kita dapat, tidak ada! Sampai kapan kita akan menjalani kesia-siaan ini, hutang kita akan semakin banyak, Pak, kapan kita bisa hidup tenang seperti kata leluhur bapak itu?” nada bicara Lastri semakin menggebu-gebu.

Suripan tidak pernah kasar dalam membesarkan Lastri karena sadar bahwa dia juga harus menjadi sosok ibu yang bersahaja seperti mendiang istrinya. Sambil mengelus kepala Lastri, Suripan bercerita dengan nada rendah dan menenangkan. “Kau mirip seperti mamakmu, Nak, ia sangat tegas sepertimu, mamak juga menemani bapak di sawah seperti ini tiap hari, bapak dan mamak menjalani semua ini dengan penuh sabar dan saling percaya bahwa kehidupan yang damai pasti akan datang, jadi kau tenang saja, lebih baik kau cari pendamping hidup, agar bapak punya penerus untuk menanam tembakau di sawah tinggalan nenek-nenekmu ini, toh usiamu sudah memasuki usia pernikahan.” 

Suripan terus meyakinkan Lastri dengan apa yang telah ia jalani sejak kecil. Suripan sudah bersandingan dengan tanaman tembakau sejak masih kecil, ketika ia ikut bapak dan ibunya ke sawah yang saat ini tetap terbentang lebar di hadapannya.

“Sia-sia, Pak, sia-sia! Mana itu hidup damai, kita harus meninggalkan nasihat leluhur yang tidak ada buktinya itu, sekolahku saja terkorbankan untuk hidup yang seperti ini, dan jangan selalu samakan aku sama mamak, satu lagi, Pak, jangan lagi menyuruhku untuk menikah hanya untuk melahirkan petani tembakau baru yang akan meneruskan kesengsaraan ini, aku bahkan tidak ingin punya anak sama sekali jika nantinya ia akan bernasib sama seperti kita. Aku akan memilih jalan hidupku sendiri, Pak,” perempuan itu meninggalkan bapaknya, beranjak pulang.

Lastri tidak dapat melanjutkan sekolahnya akibat tidak ada biaya, ia hanya tamat di SMP dan melanjutkan hidupnya dengan menemani bapaknya menanam tembakau. Dalam perjalanan pulang Lastri berencana untuk mengajak warga desa mogok kerja untuk beberapa waktu agar harga tembakau bisa stabil.

Sehabis subuh, langit menguning dan fajar akan segera berdiri tegak, Lastri berjaga di pematang sawah yang biasa dilalui oleh sebagian besar petani tembakau. Lastri mengumpulkan para petani tembakau dan mengajak semua petani tembakau yang juga tengah resah dengan harga tembakau yang semakin anjlok. Lastri memaparkan sebuah ketidakadilan bahwa pemerintah telah menaikkan harga rokok, sedangkan harga tembakau terus menurun.

“Lalu kita akan makan apa kalo kita mogok kerja, jangan mengada-ngada,” ucap salah satu petani.

“Kita harus memikirkan hal itu mulai sekarang, kalau kita terus-terusan seperti ini, pemerintah akan semakin ngelunjak, kita harus menyepakati bersama, di musim tanam depan, jangan ada yang menanam tembakau, ganti dengan tanaman lain, agar perusahaan tembakau dan pemerintah juga merasakan keresahan kita, perusahaan rokok itu pasti akan keteteran karena tidak memiliki bahan untuk membuat rokok, kemudian kita akan mendapatkan hak kita untuk bernegosiasi perihal harga tembakau yang sesuai. Kita harus bisa mematok harga layaknya penjual, bukan pembeli yang menentukan harga jual,” ucap Lastri berapi-api, bak Soekarno yang berpidato kemerdekaan.

“Jangan coba-coba melawan leluri leluhur kita Lastri, ini semua sudah tradisi turun-temurun,” tanggap seorang petani.

“Jangan-jangan mitos itu hanya dongeng, jangan-jangan cerita itu hanya cerita buatan, jangan-jangan semua itu sengaja dibuat oleh para pemilik modal agar kita terus menanam tembakau, agar kita takut untuk melawan dan berhenti untuk menanam tembakau lagi. Jangan mudah percaya dengan cerita seperti itu, buktinya kita sekarang hidup sengsara akibat pemerintah yang semena-mena,” Lastri terus meyakinkan para petani tembakau.

Sebagian besar petani tembakau terprovokasi oleh perkataan Lastri. Segala bentuk ide untuk mencukupi kebutuhan pangan ketika mogok kerja telah disiapkan oleh warga, ada yang beralih tanam, cabai, kacang dan lain sebagainya.

“Bapak sudah bilang jangan ikut campur urusan orang lain, kita harus bersyukur dengan apa yang kita dapat saat ini, apa yang terjadi kalau harga tembakau tetap rendah meski kita mogok kerja? Ini bukan hanya perihal harga Lastri, ini adalah jalan hidup, setiap musim tanam sampai musim tanam selalu memberikan pelajaran hidup bagi kita, wangi tembakau dan cita rasa juga mempunyai makna Lastri. Semuanya mengajarkan kita untuk sabar dan bersyukur,” setelah mendengar kabar bahwa Lastri telah mengajak para petani tembakau untuk mogok kerja, Suripan menganggap itu telah menyalahi leluri leluhurnya, namun Suripan hanya pasrah pada permintaan anaknya sebab Lastri mengancam akan minggat dari rumah kalau permintaannya tidak dituruti.

“Usahaku ini tidak akan sia-sia, Pak, lebih baik mati timbang jadi budak kayak gini,” dengan sangat keras kepala, Lastri terus membalikkan nasihat bapaknya.

### 

“Ini semua akibat perempuan sok tahu itu, kita harusnya panen hari ini, tapi lihat, harga tembakau tetap saja anjlok, dia harus bertanggung jawab atas ini semua,” satu musim tanam telah berlalu. Mogok kerja tidak membuahkan hasil. Para petani tembakau menyalahkan Lastri atas apa yang terjadi pada mereka.

Perusahaan rokok tetap berdiri kokoh sebab timbunan tembakau masih melimpah di gudang perusahaan. Mogok kerja satu musim tanam tidak berarti apa-apa bagi perusahaan rokok. Strategi ini sangat tertata, memborong semua tembakau hasil panen para petani dan menimbunnya di gudang, maka persediaan tembakau tidak akan habis sekali pun para petani tembakau mogok lima kali musim tanam, petani tembakau pun tidak akan mampu mencukupi kebutuhan harian mereka ketika ingin memberontak dan mogok tanam selama lima musim tanam, sebab menanam tembakau menjadi penghasilan utama bagi sebagian besar petani tembakau. Permainan pasar ini sangat mencekik petani tembakau pada tiga tahun terakhir.

Dengan dipenuhi rasa ketakutan Lastri bersembunyi di dalam rumahnya. Rasa putus asa menusuk dada perempuan itu, Lastri tidak berani keluar untuk menemui siapa pun. Lastri mulai menggigit jarinya sendiri dan meracau layaknya orang depresi. Semua yang usaha yang telah ia percayai akan membawa perubahan di desanya berbalik menjadi pisau yang menusuk para petani tembakau ketika masa sulit. Lastri menganggap ini semua akibat beberapa petani yang tidak menghiraukan omongannya dan tetap menanam tembakau di masa mogok kerja. Beberapa petani yang meyakini bahwa menanam tembakau adalah tradisi turun-temurun yang sudah dilakukan leluhurnya sejak masa silam, sehingga mereka tidak mengindahkan omongan Lastri untuk mogok kerja dan tetap menanam karena takut kualat.

Tekanan batin Lastri semakin memuncak, ia tidak dapat menahan rasa malu dan bersalah itu. Penuh gugup seperti orang tidak waras ia bergegas menuju lahan tembakau yang telah siap dipanen, dengan korek api dan minyak tanah yang dibawa dari rumah. Dilumurkan minyak tanah itu ke tubuh serta tembakau di sekitarnya, Lastri membaringkan tubuhnya di tengah lahan tembakau yang telah siap dipanen. Seraya menyalakan api, Lastri bergumam “Mungkin ini pelajaran hidup yang bapak maksud.” Api mulai merambat menyelimuti tubuhnya serta membakar tembakau sekelilingnya. “Aroma wangi ini lah yang bapak maksud, sangat damai, mungkin mamak juga menyukai aroma ini, memang benar menanam tembakau akan berakhir damai seperti ini hahaha… hahaha… hahaha…”

M. Amin Ashar
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 
Universitas Trunojoyo Madura
×
Berita Terbaru Update