WKUTM – Pelaksanaan Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) 2022 telah berlangsung. Timeline diawali dengan pendaftaran Pasangan Calon (Paslon) Presiden Mahasiswa (Presma) dan Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) pada Senin (12/12), serta diakhiri dengan Pemilihan Umum (Pemilu) pada Kamis (22/12). Adapun terkait jangka waktu pelaksanaannya yang dinilai lebih singkat dibandingkan tahun sebelumnya, menuai keluhan dari kedua pihak Calon Presiden Mahasiswa (Capresma).
Imam Syafi’e, selaku ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), menjelaskan bahwasanya penyusutan total durasi timeline menjadi 10 hari pada 2022, dibandingkan pada tahun 2021 sepanjang 16 hari bukanlah masalah. Hal tersebut dikarenakan berujung pada lebih banyaknya jumlah Capresma dan Calon Wakil Presma (Cawapresma), yaitu sebanyak dua Paslon, dibandingkan dua tahun sebelumnya yang hanya satu paslon.
”Saya rasa cukup, teman-teman media bisa melihat seperti apa timeline yang kami sediakan, dan alhamdulillah ada dua Paslon dengan persiapan yang sangat matang,” tuturnya (20/12).
Menanggapi timeline yang dinilai lebih singkat, Agung Ali Fahmi, selaku Wakil Rektor III (Warek III) Bidang Kemahasiswaan, menuturkan bahwasanya hal tersebut bukan berarti dapat dipastikan berdampak buruk dibandingkan timeline yang lebih panjang, dikarenakan disesuaikan dengan momentum pelaksanaannya.
”Setiap masa punya momentumnya tersendiri, lebih bagus tahun kemarin belum tentu lebih bagus tahun ini. Kan baru dilaksanakan,” tutur Agung ketika ditemui di gedung graha utama (20/12).
Sedangkan Ahmad Roby Gunawan, selaku Capresma nomor urut satu, mengungkapkan bahwasanya timeline Pemira 2022 terkesan terburu-buru. Hal tersebut dikarenakan masa waktu pendaftaran yang hanya berlangsung selama tiga hari, sehingga persiapan tidak berjalan maksimal.
”Terkait penyusutan timeline dari kami memang bukan dirugikan tapi lebih ke kurang persiapan. Karena pendaftaran hanya tiga hari. Selain itu, setelah pengambilan nomor langsung kampanye. Itu persiapan kita kurang, sehingga dari kami merasa bahwasanya terlalu mendadak dan terburu-buru,” ungkap mahasiswa asal Sampang tersebut (20/12).
Tidak hanya terkait pendaftarannya yang terkesan terburu-buru, Roby menuturkan bahwa tidak adanya sosialisasi juga turut menjadi penyebab minim informasi yang diterimanya untuk melakukan persiapan. Pihaknya menyatakan sosialisasi yang dilakukan pihak Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM), hanya terkait PKPUM (Peraturan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa) kepada kedua Paslon saja, serta tidak ada sosialisasi yang ditargetkan pada mahasiswa secara umum.
”Sangat penting adanya sosialisasi, karena untuk persiapan juga. kemarin juga bukan saya yang menyiapkan, ibarat ada teman yang dipercaya menyiapkan. Sehingga yang tahu informasinya teman saya,” tuturnya ketika ditemui di masjid Baitus Salam.
Adapun permasalahan serupa juga dialami oleh Capresma nomor urut dua, Bisma Alhamal Sudar Salis. Pihaknya, mengungkapkan bahwa turut merasa timeline yang ditetapkan terlalu singkat. Hal tersebut menyebabkan pelaksanaan kampanye berujung tidak maksimal, dikarenakan minimnya waktu yang diberikan untuk masa kampanye, yaitu selama tiga hari.
”Dampaknya, waktu yang seharusnya bisa berkampanye lebih lama, memperkenalkan kami lebih banyak, tidak terpenuhi. Kemarin saya coba ke kantin kampus berkampanye, ditanya siapa. Padahal saya Capresma-nya, Begitu. Berarti memang waktu kita untuk menyampaikan belum tercakup secara luas. Jadinya waktu kami harusnya lebih banyak, kampanye itu harusnya kan seminggu,” ungkap mahasiswa asal Surabaya tersebut (20/12).
Lebih lanjut, Bisma menuturkan bahwa pemberian informasi juga mendadak. Selain terkait proses pendaftaran namun juga terkait pelaksanaan agenda lainnya, yaitu pelaksanaan penajaman visi dan misi. Pihaknya mengungkapkan bahwa perubahan agenda dan penjadwalan diumumkan secara mendadak pada Senin sekitar pukul 23.00 WIB (19/12), sedangkan agenda dilaksanakan pada Selasa pukul 13.00 WIB (20/12).
”Pemberitahuan debat kandidat, ternyata semalam sekitar pukul 23.00 WIB, tiba-tiba diganti penajaman visi dan misi, bukan debat kandidat. Jadi persiapan saya awalnya lebih cukup santai, kalau debat kandidat kan persiapan beda. Jadi tadi saya cuma menyiapkan dari semalam itu ya, visi misi dan program saya,” tuturnya.
Fitriya Ramadhani, selaku mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), mengatakan bahwa dirinya telah mengetahui Paslon Presma dan Wapresma melalui pamflet yang disebar. Sedangkan terkait timeline-nya, tidak mengetahui sama sekali.
”Saya sudah tahu Paslon-nya, karena sudah dipromosikan. Tapi tidak tahu timeline-nya,” ucapnya (21/12).
Alfina Dhea Damayanti, selaku mahasiswa Fakultas Hukum (FH), mengatakan bahwasanya timeline yang ditetapkan dirasa terburu-buru, dikarenakan belum sempat mengenal Paslon Presma dan Wapresma lebih jauh, melainkan hanya melalui pamflet saja.
”Terlalu terburu-buru dan seharusnya sudah dari sebulan lalu menurutku. Karena Paslon-nya belum kenal siapa saja. Kalau yang satu fakultas masih kenal dan tahu prestasinya, tapi yang beda fakultas belum tahu mereka siapa,” tuturnya (21/12).
Dhea, berharap Pemira terlaksana secara baik tanpa adanya paksaan dalam memilih Paslon, tidak hanya untuk tahun ini namun juga untuk di tahun-tahun selanjutnya pula.
”Setiap tahun berharap semoga tidak ada paksaan dalam memilih. Kalau ada aku mending tidak memilih,” harapnya. (FRD/J2)
