Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pemira UTM 2022 Masih Menggunakan E-vote di Tengah Perkuliahan Luring

Selasa, 20 Desember 2022 | 23.01.00 WIB Last Updated 2023-07-02T07:59:55Z
WKUTM -  Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) pada tahun 2022, berlanjut menggunakan Electronic vote (E-vote) seperti dua tahun sebelumnya saat terdapat larangan beraktivitas di kampus lantaran pandemi. Penggunaan E-vote untuk Pemira tahun 2022 ini tidak sesuai dengan Undang-Undang Keluarga Mahasiswa UTM nomor 1 tahun 2021 tentang Pemilihan Umum Mahasiswa Bab IX pasal 37 ayat 2 UTM, yang menyatakan bahwa Pemira E-vote digunakan pada kondisi darurat saja. Sedangkan pada tahun ini, UTM telah memberlakukan kebijakan penuh Luar Jaringan (Luring) untuk kegiatan mahasiswa. Adapun jika Pemira menggunakan E-vote kembali dilaksanakan, hal tersebut menambah catatan demokrasi secara digital yang dilakukan oleh mahasiswa UTM.

Imam Syafi'e, selaku Panitia Pengawas Pemira, membenarkan jikalau Pemira kali ini masih menggunakan sistem yang sama pada dua tahun belakangan. Ia membeberkan penggunaan lanjutan E-vote ini lantaran menurutnya pada Pemira sebelumnya berjalan tanpa masalah. Selain itu, Imam berpendapat E-vote sudah ditetapkan sebagai alat Pemira di kampus-kampus ternama lainnya.

”Di era seperti ini, kita perlu untuk mengembangkan era digital, di mana kita sudah memasukinya," pungkas mahasiswa fakultas hukum tersebut (20/12).

Di sisi lain, Agung Ali Fahmi, Wakil Rektor (Warek) III UTM, menjelaskan  penggunaan E-vote bersistem google form tersebut sudah menjadi pertimbangan sejak tahun 2019. Agung menegaskan E-vote tidak berhubungan dengan keberadaan pandemi, dan murni menjadi bagian pengembangan teknologi di UTM.

"Ketentuan E-vote itu penggunaan teknologi, aplikasi. Tidak ada hubungannya dengan pandemi," ungkapnya (20/12).

Penggunaan E-vote di tahun yang sudah membebaskan mahasiswa aktif di kampus saat ini, cukup disayangkan oleh para Calon Presiden Mahasiswa (Capresma). Ahmad Roby Gunawan, sebagai Capresma nomor urut satu, mengaku menginginkan pemilihan secara langsung. Roby mengetahui jikalau pemberlakuan pemilihan ini merupakan arahan dari Warek III. 

"Sebenarnya kurang maksimal dari sisi demokrasi dan sebagainya," tutup pria kelahiran Sampang itu (20/12).

Bisma Alhamar Sudar, Capres nomor urut dua, menyatakan jikalau E-vote memiliki kelebihan untuk pemilih yang dilakukan saat dalam masa liburan saat ini agar tidak perlu datang ke kampus. Namun, dirinya juga menjelaskan kekurangannya terletak pada tingkat partisipasi yang minim. 

"Setiap sistem terdapat kelebihan dan kekurangan. Kalau kelebihannya E-vote ini bagus dikarenakan saat ini masa libur semester. Tapi, kekurangannya adalah tingkat partisipan dari pencoblos," tutur Bisma (20/12).

Beny, mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dam Sastra Indonesia (PBSI) angkatan tahun 2021, menuturkan beberapa rekannya belum mengetahui jikalau Pemira Capresma dan Cawapresma saat ini menggunakan E-vote. Benny berpendapat E-vote efektif dilakukan di saat libur semester,  agar mahasiswa tidak perlu menghadiri kegiatannya secara langsung.

"Bagi saya cukup menjangkau dan merata untuk mahasiswa, karena di tengah liburan seperti ini," ucapnya (20/12).

Alvito Prima, mahasiswa Prodi Manajemen angkatan tahun 2021, mengira jika Pemira tahun ini akan dilaksanakan secara offline. Alvito berpendapat jikalau informasi tentang Pemira E-vote di tengah Luring kali ini masih dirasa kurang menjangkau mahasiswa.

”(E-vote) ini sudah baik. Tetapi masih kurangnya informasi mengenai pemilihan tersebut," tandasnya (20/12). (AHR/CHA)
×
Berita Terbaru Update