Sufisme bukan lagi menjadi hal asing bagi kita. Sejak kecil kita diajarkan untuk senantiasa mendekatkan diri dan mengenal siapa Tuhan kita. Selain itu, kita juga diajarkan agar menjadi pribadi yang sederhana dan tidak bermegah-megahan. Bentuk-bentuk ajaran tersebut melekat pada kita sejak dari kecil dan melebur entah menjadi kebiasaan atau malah terlupakan.
Dalam hal ini, banyak sastrawan yang menjadikan sufisme sebagai ide dan inspirasi dalam karya mereka. Baik yang bersifat pelestarian maupun kritik. Para sastrawan marak menganggatkan isu-isu spiritual yang dikemas dengan nilai estetika. Bentuk karya ini lah yang kemudian digolongkan sebagai sastra sufistik.
Berangkat dari itu, Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa (LPM-SM) melalui buletin sastra kecubung mencoba untuk membangkitkan kembali karya-karya sastra bernuansa sufistik. Bersama ini terdapat berbagai sudut pandang penulis yang kami kemas sekaligus dengan harapan bisa menggugah hati dari pembaca yang budiman.
Semoga dengan terbitnya majalah sastra kecubung ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Mengingat karena kami sebagai manusia juga tidak luput dari kekhilafan, maka secara terbuka kami juga menantikan saran, kritik yang membangun dari pembaca sekalian. Dengan begitu kami mampu memberikan yang lebih baik lagi ke depannya.
Kecubung edisi XVII dapat dibaca di sini

