WKUTM – Melalui dialog virtual (19/08), Presiden Joko Widodo telah menyampaikan izin bahwa kampus dapat melaksanakan pembelajaran Luar Jaringan (Luring) dengan syarat keseluruhan mahasiswanya sudah tervaksinasi. Namun berkenaan dengan hal ini, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) belum memastikan pelaksanakan vaksinasi untuk mahasiswa.
Ningwar, selaku Satuan Tugas (Satgas) Corona Viruses Disease 2019 (Covid-19) UTM, memaparkan bahwa saat ini, vaksinasi terhadap mahasiswa masih dirapatkan pada tingkat kabupaten, dikarenakan jumlah mahasiswa UTM yang tidak sedikit, yaitu sekitar 15.000 orang. Menurutnya, Kedatangan 15.000 orang ke Bangkalan juga mengkhawatirkan kondisi kabupaten Bangkalan.
”Ini susah, karena mahasiswa UTM ini berasal dari seluruh Indonesia, dengan kondisi daerahnya yang tidak menentu. Mungkin sekarang status Bangkalan kuning, tapi nanti ketika didatangi 15.000 orang, kan gagal juga kondisi mereka,” papar pria asal Bangkalan tersebut (31/08).
Ningwar menambahkan, untuk kepastian pembelajaran Luring dan vaksinasi berada di Wakil Rektor (Warek) I Bidang Akademik. Pihaknya hanya bertugas sebagai Satgas Covid-19 dan infrastruktur, jadi tidak bisa memberikan informasi yang pasti.
"Kepastiannya ada pada Warek I bidang Akademik, karena saya hanya bagian Satgas dan infrastruktur," tambahnya.
Namun hingga berita ini diterbitkan, Deni Setya Bagus Yuherawan, Warek I Bidang Akademik, masih belum memberikan konfirmasi terkait hal ini dan mengarahkan ke Lembaga Pengembangan, Pembelajaran, dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LP3MP). Adapun Kurniyati Indahsari, selaku Ketua LP3MP mengatakan bahwa UTM masih belum berani mendatangkan mahasiswa.
"UTM belum berani mendatangkan mahasiswa, 70% itu ada dimana-mana dengan kondisi yang tidak bisa kami jamin," ujar perempuan yang kerap disapa Iin tersebut saat ditemui di ruangannya (31/08).
Siti Nurfitria, selaku ketua Unit Pelayanan Kesehatan (UPK), menanggapi bahwa UTM siap mendukung program pemerintah, termasuk vaksinasi. Namun untuk saat ini masih belum ada informasi dari pihak-pihak terkait masalah ini, nantinya pasti akan ada pemberitahuan lebih lanjut.
”Vaksinnya sendiri dari pemerintah dengan jumlah yang terbatas, kalau UTM Sudah mendapat gilirannya, nanti bisa dilaksanakan vaksinasi masal bagi mahasiswanya,” ujarnya.
Sementara itu, Sopia Rohmatus, mahasiswa Ilmu Hukum, merasa UTM perlu mengadakan vaksinasi Covid-19 masal terhadap mahasiswanya. Hal ini karena menurutnya banyak desa-desa yang belum dapat vaksinasi dari vaksin pertama.
”Langkah agar kita bisa melakukannya sesuai dengan persyaratan bapak presiden yaitu vaksinasi untuk seluruh pelajar maka, langkah yang harus ditempuh universitas sendiri ialah mengadakan vaksinasi masal untuk mahasiswa UTM sendiri terutama,” ujar perempuan asal Bojonegoro tersebut.
Senada dengan Sopia, Kharisma Ladyagustina, mahasiswa Ilmu Hukum, mengungkapkan UTM perlu mengadakan vaksinasi Covid-19 masal supaya lebih tertata mahasiswanya. Terlebih lagi menurutnya, vaksin merupakan syarat yang diberikan Presiden Joko Widodo untuk melaksanakan kuliah Luring.
”Kalau menurut saya perlu diadakan vaksinasi, biar lebih tertata mahasiswanya, jadi terjamin kalau sudah divaksin, ketimbang pada vaksin sendiri,” ujarnya.
Adapun Salsabilla, mahasiswi Pendidikan Informatika, turut berpendapat jika UTM perlu mengadakan vaksinasi agar mahasiswanya tidak kesulitan mencari vaksin gratis.
”Bagus jika hal tersebut terlaksana, jadi mahasiswa tidak perlu terburu-buru untuk mencari vaksin gratis,” ujar perempuan asal Mojokerto tersebut. (Din/Mel)
