Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kenalkan Ragam Kebaikan Negeri, GNFI Selenggarakan Festival Negeri Kolaborasi 2021

Kamis, 02 September 2021 | 09.55.00 WIB Last Updated 2021-09-02T16:55:02Z

 


 

Good News From Indonesia (GNFI) menyelenggarakan Festival Negeri Kolabrasi 2021 secara Dalam Jaringan (Daring) pada tanggal 2, 9, 16, dan 23 September 2021. Mengusung tema Bersama Lestarikan Kebaikan, di hari pertama dari Festival Negeri Kolaborasi dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjut dengan keynote speech dari Sandiaga Uno, selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) dan welcoming speech dari Akhyari Hananto, selaku Founder dan Pemimpin Redaksi (Pemred) GNFI. Adapun tujuan acara tersebut untuk mengenalkan ragam kebaikan negeri, dengan materi yang dibincangkan hari ini adalah Membangun Desa Wisata Lestari dengan tiga platform program Menparekraf yakni inovasi, adaptasi, dan kolaborasi (02/09).

 

Sandiaga Uno, selaku Menparekraf, menjelaskan bahwa sisi terbaik dari kolaborasi adalah gotong royong. Terutama saat menghadapi perubahan besar di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam masa pandemi ini maka diperlukan gotong royong untuk menggerakkan kembali perekonomian masyarakat.

 

”Kita juga sedang menghadapi perubahan besar di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Inovasi, adaptasi, kolaborasi kita gabungkan untuk pemulihan sektor pariwisata dan pengembangan desa wisata. Ini menjadi salah satu program unggulan dan simbol kebangkitan ekonomi Indonesia sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat,” ungkap pria kelahiran Riau tersebut.

 

Endah Rusmanti, sebagai perwakilan dari Vinsendius Jemadu, selaku Deputi Pengembangan Destinasi Kemenparekraf, mengungkapkan bahwa wisata sebagai sektor yang paling terpengaruh dengan adanya pandemi maka Kementerian Pariwisata melakukan beberapa langkah strategis untuk memulihkannya yakni dengan melakukan revitalisasi destinasi pariwisata dan meningkatkan kepercayaan pasar.

 

”Strategi untuk memulihkan pariwisata di era pandemi dan paska pandemi yang pertama yaitu revitalisasi destinasi dan meningkatkan confidence atau kepercayaan pasar yaitu bagaimana kita mengupayakan untuk membentuk rasa aman berwisata salah satu programnya adalah dengan sertifikasi Cleanless, Health, Safety, and Environment (CHSE),” ungkapnya.

 

Endah juga memaparkan terkait adanya sertifikasi desa wisata, berkelanjutan pemasaran dan pengelolaan penilaian keberhasilan pengembangan desa wisata berdasarkan enam indikator. Diantaranya yaitu atraksi, aksesibilitas, amenitas, kolaborasi dan pemanfaatan dana desa serta digitalisasi.

 

”Keberhasilan pengembangan desa wisata ada enam indikator. Diantaranya adalah dari segi atraksi dimana masyarakat sudah mampu memberikan inovasi terhadap potensi atraksi unggulan di desa wisata. Kemudian dari segi aksesibilitas, desa wisata sudah dikenal dan dijadikan pilihan destinasi wisata yang memiliki kemudahan akses baik itu oleh wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Selanjutnya dari segi amenitas disana sudah ada sarana dan prasarana yang memadai, juga sudah berstandar mengikuti standar internasional. Lalub adanya kolaborasi dan pemanfaatan dana desa yang dilakukan dengan baik dan yang terakhir adalah digitalisasi dimana desa wisata itu sudah mampu menerapkan pemanfaatan teknologi berbasis digital baik itu dalam pengelolaan promosi dan pemasaran,” papar Endah.

 

Sugeng Handoko, selaku pegiat desa wisata Nglanggeran Gunung Kidul, turut menyampaikan bahwa mejadi desa wisata membutuhkan proses. Pihaknya memaparkan bahwa dalam pengembangan desa Nglanggeran menjadi desa wisata ada beberapa tahapan yang harus dilewati. Yakni mengenali potensi dan melakukan edukasi pada masyarakat serta melakukan jejaring kerjasama keluar.

 

”Tahapan yang pertama adalah menyadari dan mengenali potensi, kadang tidak mudah karena kita tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang luar biasa atau potensi. Lalu proses edukasi perubahan mindset, butuh waktu tiga sampai empat tahun untuk hal ini,” ungkap warga Nglanggeran itu.

 

Menurut Sugeng, dalam pengembangan desa wisata terdapat tantangan sendiri bagi dirinya. Yakni bagaimana meningkatkan kepercayaan pada masyarakat yang notabene 90% adalah petani dan sulit apabila diajak diskusi mengenai pariwisata.

 

”Masyarakat kami itu 90% adalah petani sehingga ketika berbicara pariwisata itu tidak langsung muncul atau langsung terkoneksi. Perlu komunikasi dan informasi yang tidak langsung dan disampaikan secara bertahap. Untuk proses pembelajaran secara bersama yang bisa dilakukan itu adalah yang pertama itu dengan membangun kepercayaan dalam melakukan dan membuktikan hasilnya,” ujar Sugeng.

 

Selain itu, Sugeng juga berpesan agar kedepannya anak muda dapat lebih aktif dalam pengembangan desa wisata dengan memanfaat konten digital sehingga tetap dapat menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang ada di desa.

 

”Ini saatnya anak muda mengambil peran untuk terlibat aktif dalam pengembangan desa wisata sehingga nilai-nilai kearifan lokal yang ada di desa itu tetap terjaga dan bisa dipelajari oleh banyak orang dengan konten digital. Desa wisata itu kental dengan kesederhanaan, kearifan, kerja keras, dan kerjasama, nilai-nilai itu bisa diangkat menjadi sebuah informasi positif menjadi virus semangat untuk Indonesia lebih baik,” pungkasnya. (Vi/Cha)

×
Berita Terbaru Update