WKUTM – Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiwa Baru (PKKMB) 2021 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah memasuki hari kedua. Namun, acara yang dibuka dengan penayangan pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ini mimin jumlah penoton. Dipantau melalui platform You Tube terdapat kurang lebih 1800-an penonton dan 500-an penonton melalui Zoom, sedangkan jumlah seluruh Mahasiswa Baru (Maba) tahun ini sekitar 4248 mahasiswa.
HM, selaku maba 2021, mengungkapkan bahwa, bila melihat dari kedisiplinan memang tidak efektif karena masih banyak maba yang tidur, pergi keluar, sekadar absen, sembari makan dan dresscode hanya bagian atasan saja.
”Kalau diliat dari kedisiplinan tidak efektif, dikarenakan masih banyak yang tidur, pergi keluar, absen saja, lalu mengerjakan tugas yang belum. Belum lagi yang sambil makan, dresscode atasan saja. Jujur tidak efektif sama sekali,” ujarnya saat dihubungi melalui WhatsApp.
Sedangkan dari pihak pantia PKKMB Sakera sendiri, Moh. Lutfi Hidayat selaku ketua pelaksana (Ketupel) dan Imam Syafie selaku community organizer (CO) sie acara saat dimintai keterangan terkait masalah tersebut masih belum dapat dihubungi sampai berita ini diterbitkan.
Adapun Ficky Dian Saputra, selaku Komandan Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI) menilai bahwa minimnya penonton video pengenalan UKM di channel YouTube dan tidak adanya interaksi secara langsung dengan Maba mengakibatkan pengenalan UKM tahun ini outputnya masih belum tercapai dengan maksimal.
”Bentuk pengenalan UKM tahun ini kami rasa masih belum maksimal. Salah satu contohnya adalah minimnya maba yang menonton video pengenalan UKM di channel YouTube yang sudah disediakan oleh panitia PKKMB. Yang kedua kita tidak bisa memberikan feedback balik kepada maba apabila dari mereka ada yang ingin ditanyakan mengenai UKM dikarenakan kita tidak bisa interaksi secara langsung dengan maba,” ungkap Ficky saat dihubungi melalui WhatsApp (03/08).
Selain itu, kekhawatiran juga muncul saat maba yang tidak mengetahui informasi tentang UKM. Mengingat keluhan Maba tahun 2020 yang menyesal karena tidak mengetahui informasi terkait UKM.
”Kalau rasa khawatir pasti ada, yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah jika ada maba yang ingin bergabung dengan UKM akan tetapi mereka tidak mengetahui informasi terkait UKM karena pada saat PKKMB pengenalan terkait UKM tidak maksimal. Dan itu yang membuat maba terkadang ikut menyesalkan terkait hal Ini. Tahun kemarin ada banyak yang mengeluhkan hal itu,” ujar mahasiswa angkatan tahun 2019 tersebut.
Ficky juga berharap agar kedepannya pihak PPKMB melibatkan UKM perihal alur kegiatan sehingga tidak ada kesenjangan antara pihak panitia dengan UKM.
”Semoga di PKKMB kedepannya teman-teman UKM benar-benar dilibatkan dari persiapan, pelaksanaan sampai pasca kegiatan supaya tidak ada gap antara Panitia PKKMB dengan teman-teman UKM,” harapnya.
Senada dengan Ficky, Irine Eka Buana Dewi, selaku ketua umum Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Ghubatras juga mengungkapkan bahwa konsep model penayangan video juga tidak efektif sama sekali.
”Untuk konsep pengenalan tidak efektif sama sekali. Cobalah kita posisikan diri kita sebagai maba yang tidak tahu-menahu apa itu UKM dan bagaimana kehidupan kampus. Tidak munafik jika semisal webinar ada penayangan video kita akan digubris tidak? Kalau aku pribadi tidak pernah saya lihat, malas soalnya putus-putus tidak jelas seringnya. Nah itu juga kemungkinan bisa terjadi sewaktu proses pengenalan yang menggunakan konsep ini,” ungkap mahasiswa prodi Manajemen tersebut. (It/J1)

