WKUTM – Sejak tanggal 5 Juli lalu, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah menerapkan Kebijakan Work From Home (WFH) 100%. Namun, kebijakan tersebut rupanya menuai keluhan dari pelbagai pihak seperti sulitnya koordinasi hingga kerja sama dengan institusi lain.
Seperti yang diungkapkan, Novi Diana Badrut Tamami, selaku Koordinator Program Studi (Koprodi) Agribisnis. Dirinya mengungkapkan bahwa koordinasi yang paling terdampak. Hal ini dikarenakan sering kesusahan dalam memahami intruksi melalui chat dan telepon.
”Koordinasi yang paling terdampak. Karena koordinasi melalui chat atau telepon sering kali susah memahami instruksi. Karena kerjanya dari rumah, saya dan tenaga pendidik susah mencocokkan jadwal, kadang masih ada acara lain. Jadi urusan yang harusnya selesai cepat ini bisa berlarut-larut dan tidak selesai dalam sehari,” ungkapnya ketika diwawancarai via WhatsApp (17/8).
Novi juga mengingatkan kepada dosen agar tetap memberikan pelayanan yang terbaik untuk mahasiswa di masa online saat ini.
"Saya selalu wanti-wanti ke semua dosen, ini zaman online, beri pelayanan terbaik untuk mahasiswa yang dipercayakan ke kita. Jangan pernah menggantung kiriman pesan mahasiswa, bahkan hanya sempat kirim jempol pasti mereka lega," ungkap Novi.
Adapun terkait kerja sama, Sulaiman, selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), menjelaskan tidak mudah melakukan kerja sama dengan institusi lain secara Dalam Jaringan (Daring). Hal ini dikarenakan dalam memorandum of understanding (MOU) memerlukan tanda tangan basah, dokumentasi, serah terima dan sebagainya.
”Seperti contoh MOU kerja sama yang melibatkan intitusi lain juga tidak mudah untuk dilaksanakan secara daring. Karena satu membutuhkan tanda tangan basah, yang kedua harus ada dokumentasi, yang ketiga harus serah terima, dan sebagainya,” ujar pria asal Gresik tersebut (17/08).
Adapun dari pihak Tata Usaha (TU) Rininta Purnamasari, selaku bagian dari TU Program Studi (Prodi) Sastra Inggris, mengungkapkan bahwa selama WFH banyak mahasiswa yang menghubunginya, lantaran terjadi berbagai permasalahan administratif.
”Banyak sekali yang menghubungi. Permasalahannya sedikit lebih beragam, mulai dari ujian online, tidak bisa masuk Sistem Informasi Akademik (Siakad), tidak bisa masuk email kampus, bertanya tentang Kartu Rencana Studi (KRS), skripsi, mata kuliah, dan lain-lain,” ungkapnya (17/8).
Rininta mengungkapkan agar semua pihak dapat bekerja sama dengan maksimal selama Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), tidak saling menyalahkan karena keterbatasan keadaan namun saling memahami dan membantu serta semoga pandemi ini cepat berlalu.
Dari pihak Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Sistem Informasi (BAAKPSI), Supriyanto, selaku Kepala BAAKPSI menjelaskan bahwa WFH ini membuat pelayanan menjadi terhambat. Hal ini dikarenakan tidak semua karyawan mempunyai perangkat laptop.
”Karyawan belum tentu juga punya laptop di rumah, kalau seperti itu bagaimana jika mengerjakannya tidak di kantor,” jelasnya (18/8).
Supriyanto juga menambahkan bahwa kendala jaringan internet juga menjadi hambatan dalam koordinasi antar bagian.
"Kadang-kadang sinyal bagus kadang tidak. Kalau pakai Wireless Fidelity (Wi-Fi) enak, tapi kalau paketan biasa ya kadang ada problem," imbuh pria asal Nganjuk tersebut.
Supriyanto berharap agar WFH segera berakhir sehingga kalau ada kesulitan tetap dapat tertangani karena mudah dalam koordinasi.
”Ya harapan saya sudah tidak WFH 100% lagi. Kemarin saya bilang tiga hari masuk, tiga hari libur. Jadi kalau ada kesulitan apa bisa tertangani, koordinasi juga gampang,” harap Supriyanto, saat ditemui di ruangan BAAKPSI. (IT/J1)
