Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ikuti Gerakan Literasi Nasional, UTM Resmikan Taman Literasi Masyarakat

Rabu, 11 Agustus 2021 | 07.47.00 WIB Last Updated 2021-08-12T10:30:46Z

 



 

WKUTM Unit Pelayanan Terpadu (UPT) perpustakaan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) meresmikan Taman Literasi Masyarakat (TLM) di tiga lokasi yakni, Balai Desa Telang, Masjid Baitus Salam, dan Balai Desa Gili Timur (04/08). Adapun tujuan dari TLM ini adalah sebagai Gerakan Literasi Nasional.

 

Hal ini disampaikan oleh Iriani Ismail, selaku kepala UPT Perpustakaan, yang menjelaskan tujuan dari dibentuknya TLM ini adalah sebagai Gerakan Literasi Nasional yang digagaskan oleh presiden. Gerakan ini dilakukan untuk mencerdaskan masyarakat, terutama masyarakat yang tidak mampu supaya turut mendapatkan ilmu.

 

”Ingin turut mencerdaskan masyarakat, menciptakan masyarakat madani yang tahu hak dan kewajibannya. Supaya tidak hanya berdiam diri, tapi turut serta dalam pembangunan bangsa,” jelasnya (10/08).

 

Iriani, menambahkan bahwa jumlah buku dan majalah di TLM masing-masing berkisar sebanyak tiga puluh tujuh hingga tiga puluh delapan eksemplar, dan ditargetkan untuk seluruh kalangan baik muda maupun tua. Buku dan majalah ini pun dapat ditambah atau ditukar jika ada permintaan pada pengurus di tiap titik TLM.

 

”Tergantung situasi dan kondisinya, kalau tidak ada permintaan untuk pertukaran berarti ini macet. Tapi kalau ada, bisa saja seminggu minta ganti, tidak apa-apa itu tambah bagus. Kami semakin senang, semakin cepat perputaran buku semakin kami harapkan,” jelasnya.

 

Sedangkan untuk sosialisasi, Iriani mengungkapan bahwa hal ini telah disampaikan saat peresmian TLM dan melalui Media Sosial (Medsos), baik menggunakan Instagram maupun website UPT Perpustakaan dalam bentuk foto maupun berita, dengan harapan dapat diketahui oleh mahasiswa dan masyarakat.

 

”Sosialisasinya melalui peresmian itu, medsos, dari mulut ke mulut, serta dari mahasiswa nanti anda yang memperpanjang, karena dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Jadi tidak ada alasan mahasiswa tidak tahu,” tambahnya.

 

Sa’ed, selaku Kepala Desa Telang, mengungkapkan bahwa, fasilitas yang terdapat pada Taman Literasi Raya bagian Balai Desa Telang adalah satu unit komputer, satu rak buku, dan buku dalam bentuk fisik dan e-book. Namun, pihaknya belum bisa menjelaskan total jumlah buku dan jenis buku yang tersedia.

 

”Jumlah buku belum hitung, banyak. Saya juga belum sempat buka karena ada kesibukan,” ungkapnya (09/08).

 

Adapun, mengenai TLM yang berlokasi Masjid Baitus Salam, belum dapat beroperasi walaupun telah diresmikan. Hal tersebut dikarenakan lokasinya yang rawan terkena hujan, sehingga harus disekat terlebih dahulu. Hal tersebut diungkapkan oleh Amirudin, selaku takmir Masjid Baitus Salam.

 

”Sewaktu diresmikan kemarin ditaruh untuk difoto, lalu (sekarang) dimasukkan kembali karena belum ada yang baca, takut rusak,” ungkapnya (09/08).

 

Namun, untuk pelaksanaan penyekatannya, Amir, belum bisa memastikan karena menunggu perencanaan dari ketua takmir. Serta pihaknya turut menjelaskan sejauh ini masih belum diadakan sosialisasi untuk TLM di masjid Baitus Salam. Sedangkan TLM akan diinformasikan seusai disekat.

 

”Nanti kalau sudah disekat warga pasti akan tahu,” jelasnya.

 

Alfina Dhea Damayanti, selaku mahasiswa UTM yang bermukim di kecamatan Kamal, mengatakan bahwa dirinya belum mengetahui adanya TLM. Menurutnya hal tersebut dikarenakan kurangnya pemberitaan, sehingga kurang terekspos.

 

”Masih banyak yang tidak tahu UTM punya taman baca, seharusnya mereka buat gebrakan baru, kalau tidak langsung bikin Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) khusus literasi,” katanya (09/08).

 

Dhea, mengimbuhkan bahwa penempatan dan dekorasi juga sangat penting, dirinya menyarankan sebaiknya ditempatkan di lokasi yang nyaman untuk membaca, serta dekorasi penunjang. Seperti di sekitar lahan UTM yang menghadap langsung ke sawah dan alam terbuka. Dhea menyarankan agar membangun satu tempat dengan maksimal terlebih dahulu, karena dia merasa masjid dan balai desa kurang tepat.

 

”Kenapa tidak dimaksimalkan kalau mau tempat yang bagus, satu terlebih dahulu saja tidak apa-apa, tidak usah langsung muluk-muluk tiga. Nanti kalau perkembangannya bagus langsung merancang ide baru untuk tempat selanjutnya,” imbuh mahasiswa Fakultas Hukum tersebut.

 

Senada dengan Dhea, Sri Rukiyati Ningsih, selaku warga desa Telang menjelaskan bahwa dirinya belum mengetahui terkait adanya TLM. Sri mengungkapkan hal ini dikarenakan tidak adanya sosialisasi yang diberikan oleh pihak Rukun Tetangga (RT).

 

”Saya kurang tahu juga, mungkin ada sosialisasi melalui RT dan mungkin RT lupa menyampaikannya kepada kami, warga,” jelas warga yang berprofesi sebagai guru Bahasa Indonesia tersebut (09/08).

 

Sri, berharap agar TLM ini akan tetap progresif dan juga diselipkan dengan kegiatan-kegiatan serta kerjasama dengan pihak sekolah, madrasah atau guru agar koleksi taman baca dapat dimanfaatkan secara maksimal.

 

”Sosialisasi dulu keberadaan taman ini sambil menyampaikan fasilitas yang ada, kalau perlu buat angket pada warga untuk menjaring pendapat tentang koleksi dan kegiatan yang diperlukan, lalu buat kegiatan yang menarik, seperti ciptakan game yang isinya itu bisa dijawab kalau dia membaca (mahasiswa UTM pasti bisa membuat game semacam ini). Harapan saya buku akan menjadi menu utama bagi anak dan taman baca ini benar-benar berfungsi sesuai namanya,” tambahnya. (Dit/Mel)

×
Berita Terbaru Update