WKUTM – Berdasarkan press release pada 28 Juli 2021 lalu, Wakil Rektor III Universitas Trunojoyo Madura (UTM) akan mengusahakan cairnya dana Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2021 dalam waktu seminggu kedepannya. Namun, sampai 14 Agustus pencairan dana DIPA universitas masih belum menemukan kejelasan. Hal ini mengakibatkan beberapa program menjadi terkendala karena tidak adanya dana penyokong.
Seperti di Fakultas Keislaman (FKis), Mohamad Ali Hisyam, selaku Wakil Dekan II Fkis, mengungkapkan jika dana DIPA untuk FKis masih belum cair. Hisyam juga menambahkan bahwa terkait pencairan anggaran tersebut merupakan wewenang pihak rektorat.
”Keputusan pencairan anggaran itu sepenuhnya wewenang rektorat. Estimasi bisa saja kita perkirakan namun kebijakan akhir kita tetap menunggu kepastian dari pihak pimpinan UTM,” ungkapnya (13/8).
Adapun dampaknya, Hisyam menjelaskan bahwa hal ini membuat kegiatan dan program tidak berjalan karena memerlukan dana penyokong untuk operasional dan lainnya.
”Semua kegiatan dan program di berbagai bidang tidak bisa berjalan karena hampir semuanya butuh back up dana untuk operasional dan sebagainya,” jelasnya via WhatsApp.
Berbeda dengan Hisyam, Slamet Subari, selaku Dekan Fakultas Pertanian (FP), mengungkapkan bahwa dana DIPA di FP telah cair sebagian. Terkait penyebabnya, Slamet menuturkan untuk menanyakan hal tersebut kepada pihak universitas.
”Sudah cair tetapi belum semua, mengapa begitu bisa ditanyakan ke universitas. Lebih baik mahasiswa saja yang bergerak dan menanyakan mengapa DIPA 2021 baru turun Agustus padahal seharusnya Januari cair,” ungkapnya (13/8).
Menanggapi hal tersebut, Supriyanto, selaku Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Sistem Informasi (BAAKPSI) mengaku bingung dengan dana yang telah cair, lantaran dana tersebut belum diakses untuk penyerapannya.
”Saya juga bingung dana DIPA belum diakses untuk penyerapan, namun sudah ada yang cair,” ujar pria asal Nganjuk ini (15/8).
Keluhan dari Ormawa
Adapun keluhan dari pihak kegiatan Organisasi Mahasiswa (Ormawa), Adam Dwi Cahyana, sebagai Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKM-F) Sharia Economics n’ Financial Society (SEFiS), menuturkan apabila dana DIPA masih belum cair. Menyiasati hal ini, jika terdapat kegiatan yang memerlukan dana, Adam melakukan tindakan saving dana dan sponsorship. Namun, apabila masih belum cukup, dirinya terpaksa harus menggadaikan barang berharga.
”Kami memakai dana saving internal dan melakukan sponsorship untuk kegiatan yang butuh dana. Jika masih belum bisa ter-cover semuanya, maka terpaksa menggadaikan barang berharga,” tuturnya (12/8).
Miftakhul Farid, selaku Ketua Umum UKM-F Kesenian ABStra, berpendapat bahwa hal bagus jika dana DIPA tersebut segera cair. Apabila pencairan dana tersebut mengalami penundaan lagi, maka kegiatan Ormawa yang tidak memiliki cadangan dana akan terganggu.
”Bagus jika memang benar akan cair pada dekat-dekat ini. Jika ditunda lagi, dikhawatirkan Ormawa yang tidak memiliki dana turunan akan terkendala kegiatannya,” ujarnya (12/8).
Tanggapan lain muncul dari salah satu Ketua Umum UKM-F di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB), LDS, berharap agar menyegerakan pencairan dari dana DIPA FISIB untuk mengadakan acara atau pembuatan buku.
”Kalau memang akan diturunkan, ya mohon segera diturunkan. Karena kita juga butuh dana tersebut untuk acara atau pembuatan buku,” harapnya (12/8).
Adapun dari UKM Keluarga Mahasiswa (UKM-KM), Imam Mahrus Afwan Romadhoni, selaku Ketua Umum UKM Ikatan Mahasiswa Huffadz (Ihfadz), mengungkapkan bahwa dana DIPA yang molor dalam pencairannya juga dialami pada tahun lalu. Pada saat itu, setelah acara selesai tidak ada dana yang cair.
”Untuk tahun sebelumnya saya rasa juga bisa dibilang agak telat. Karena setelah event terlaksana, kami masih menunggu pencairan DIPA. Sedangkan kami belum memberikan fee kepada pemateri, finalis, dan sebagainya,” ungkapnya (16/8).
Selain itu, Imam berharap agar UKM didukung penuh oleh pihak kampus dan tidak hanya dituntut mencetak prestasi. Menurutnya, kegiatan yang dijalankan oleh UKM pasti membutuhkan dana penyokong agar berjalan semestinya.
”Saya berharap kami UKM didukung penuh, bukan hanya dituntut menghasilkan prestasi, namun pendukung di bagian finansial. Karena setiap kegiatan besar kecilnya pasti butuh dana,” harap mahasiswa asal Tuban tersebut.
Adapun Abdul Azis Jakfar, selaku Wakil Rektor II dan Prasetyo Nugroho, selaku Ketua Perencanaan Anggaran belum memberikan keterangan sampai berita ini terbit. (Xin/J1)

