Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KKNT UTM di Tahun Kedua Pandemi Timbulkan Keluhan

Jumat, 04 Juni 2021 | 06.21.00 WIB Last Updated 2021-06-04T13:38:42Z

WKUTM - Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) semester genap tahun akademik 2020/2021 yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan kepada Masyarakat (LPPM) UTM telah resmi dilaksanakan sejak 21 Mei 2021 dengan tema “Bangkit di Masa Pandemi.” Berdasarkan buku Panduan KKNT Semester Genap 2020/2021, terdapat 1697 mahasiwa yang berasal dari 18 Program Studi (Prodi) dari enam fakultas yang mengikuti KKNT kali ini. Namun, kegiatan KKNT kali ini rupanya telah menimbulkan beberapa kendala baik dari pihak panitia maupun mahasiswa.

Rachmanto Puji Habibie, selaku mahasiswa Prodi Sosiologi yang menjadi salah satu peserta mengaku bahwa jadwal KKNT yang terjadi di luar waktu yang dijadwalkan menjadikan benturan dengan jam perkuliahan.

”KKN pada kali ini masih ada mata kuliah yang harus diselesaikan juga, sedangkan di desa juga ada kegiatan yang bertabrakan dengan mata kuliah kita,” keluh mahasiswa asal Jombang. (02/06)

Selain terjadinya pelaksanaan KKN di luar jadwal, jarak antara rumah mahasiswa dengan lokasi KKNT yang tidak seluruhnya dekat juga menyulitkan mahasiswa. Abdul Khayi mengaku dia harus bolak-balik menempuh jarak yang jauh untuk mencapai lokasi tempat KKNT.

”Untuk kendala pasti ada, seperti jarak rumah yang jauh, sedangkan KKN dilaksanankan hari Jum’at, Sabtu dan Minggu, maka dari itu harus bolak-balik,” ucap Khayi, peserta KKNT asal prodi Sosiologi (01/06).

KKNT yang dilaksanakan di masa pandemi ini juga menjadikan beberapa mahasiswa merasa was-was karena bisa saja tertular Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Namun, mereka sendiri juga mengaku telah sigap dengan menerapkan protokol kesehatan untuk melindungi dirinya. Listya Dewi Surya mahasiswa asal Lamongan ini mengungkapkan bahwa dirinya selalu menyiapkan masker dan hand sanitizer untuk protokol kesehatan.
 
”Bukan takut yang berlebihan, tapi menjadi lebih peduli dengan lingkungan saja. Kalau bertemu dengan orang pakai masker dan hand sanitizer. Lagi pula kalau di desa aman,” ujar Listya peserta KKNT prodi Sosiologi (01/06).

Adapun dari pihak panitia, Tatag Handaka, selaku Ketua Pelaksana (Ketupel) KKNT, menuturkan bahwa dalam pelaksanaan KKNT ini terdapat beberapa kendala, seperti sulitnya perizinan dari desa-desa agar bersedia digunakan sebagai tempat KKN mahasiswa. Juga sistem birokrasi pada desa berbentuk kelurahan yang terlalu formal dan prosedural, mulai dari dibutuhkannya surat dari tingkat provinsi hingga kecamatan. Untuk mengatasi masalah tersebut pihak LPPM melalui Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) melakukan lobi ke desa-desa untuk memudahkan proses perizinan agar mahasiwa dapat melakukan KKN.

”Jadi ternyata antara desa dengan kelurahan itu berbeda. Kelurahan lebih detail, formal dan prosedural. Jadi perijinan harus dari provinsi ke kabupaten kota baru kecamatan. Ada juga yang meminta bahwa kecamatan akan setuju jika kelurahan telah mendapat persetujuan. Maka dari itu kita mengambil keputusan untuk DPL melobi ke desa atau kelurahan pada tanggal 21 kemarin. Lalu kendala mahasiswa salah satunya adalah sinyal, seperti halnya yang terjadi pada mahasiwa di pulau-pulau kecil yang ada di Sumenep,” tutur Tatag saat ditemui (02/06).

Solusi yang ditawarkan dari pihak LPPM bagi mahasiswa yang mengalami kesusahan pada mahasiswa yang mengalami kesulitan pada sinyal yaitu dengan mengunduh form monev dan mengisinya lalu jika berhalangan dapat diserahkan pada ketua kelompok, kemudian ketua kelompok dengan anggota yang bisa hadir itu datang, kemudian ditanda tangani oleh panitia.

Untuk mekanisme pengawasan KKNT sendiri diawali dengan DPL mendampingi ke desa tempat KKNT mahasiswa berlangsung. Lalu dilanjut dengan monev, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh panitia dan DPL secara berkala dan bergiliran.

”DPL datang mendampingi ke desa, setelah itu pekan berikutnya panitia itu monev,” ujar Tatag.

Lebih lanjut, Tatag mengungkapkan bahwa KKNT kali ini berbeda dengan KKN yang dilakukan secara reguler pada saat sebelum pandemi. Jika sebelum pandemi KKN dilaksanakan di desa-desa di kecamatan yang berada di Madura yang telah menjalin Kerjasama, maka pada masa pandemi ini KKN dilaksanakan di desa masing-masing asal mahasiswa.

”KKN sebelum pandemi dilaksanakan di desa kecamatan yang telah menjalin kerjasama di Madura. Sedangkan di masa pandemi ini dilaksanakan di desa masing-masing asal mahasiswa,” ujar Tatag.

Tatag,  mengatakan bahwa untuk mekanisme pengelompokan mahasiswa pada KKNT didasari pemetaan zona, yaitu dengan mengelompokkan mahasiswa pada desa yang paling dekat dengan lokasi tempat tinggal mahasiswa. Hal ini disebabkan tidak sepenuhnya mahasiwa mengelompok tinggal di satu desa.

”Dimasukkan ke dalam zona di mana mahasiwa itu berada. Kita usahakan paling dekat dengan mahasiswa,” ungkap Tatag.

Berkaitan dengan berita ini, Muhammad Fakhry, selaku Ketua LPPM saat ditemui (02/06) memilih menolak untuk diwawancarai dengan alasan kurang paham dengan topik yang dibicarakan. 

Meski demikian, Kevin Alexander Ronny Mewoh, peserta KKNT dari prodi Psikologi, berharap dengan diadakannya KKNT ini dapat terlaksanakannya program kerja (Proker) dengan lancar dan dapat berguna bagi masyarakat desa tempat dia melakukan KKNT.
 
"Semoga dilancarkan saja semua kegiatannya, lalu semua pihak yang terlibat tetap sehat dalam menjalankannya,” harap mahasiswa asal Kamal tersebut. (Yol/J²) 
×
Berita Terbaru Update