Dari balik kegelapan ada kegelapan lain yang lebih menakutkan, sepasang mata mengintai sejak ia memasuki ruangan ini. Mata itu tajam bagai pedang yang menghunus tepat memberi rasa sakit, sekaligus penuh perhatian. Sudah hampir setahun masa kelam itu ia lewati tanpa mengenal siapa yang telah ia sakiti. Sudah hampir setahun pula ia merasa diamati, sepasang mata persis seperti terakhir kali ia lihat.
Bagaimana bisa orang lupa akan kesalahannya?
Mengapa ada orang sejahat dirinya? Bukankah orang semacam dirinya harus
dihilangkan saja?
Aroma anggur menguar ke seisi ruangan. Bunyian
keras lagu romansa menemani pemilik ruangan yang kalut akan kenangan. Seteguk
lagi pikirnya, hingga ia tertidur dengan
pulas setidaknya kenangan kelam itu tergantikan oleh mimpi indah. Tak lama ia
terbangun, hanya gumaman yang terdengar dari mulutnya. Perempuan, sekaligus kekasih yang selama ini
meninggalkannya kembali lagi, sebagai bidadari yang mampu menjatuhkannya ke
dalam lautan cinta untuk yang kedua kalinya.
“Rey,” sapaan sehalus angin memanggil namanya.
Tapi siapa pria yang disapa oleh kekasihnya, adakah yang lain. Ahh tidak,
itu adalah dirinya, persis setelah ia terbangun,
secangkir kopi manis hitam pekat, minuman favoritnya dulu sebelum kekasihnya
pergi dan entah kapan akan kembali atau mungkin tidak sama sekali. Ia tidak mengerti semua ini. Satu persatu
ingatan kembali mengenang beberapa wajah-wajah yang sulit dikenali.
“Nisa,” perempuan lain memanggil
perempuan itu, suara yang lebih lembut, tatapan dari keduanya sama persis.
Wajah keduanya pun persis. Namun ia hanya mengamati keduanya dibalik mata
berpayung alis tebal miliknya, tawa keduanya manis, semanis pisang goreng yang
senantiasa menemani kopi hitamnya. Camilan yang pas di setiap pagi. Senyuman
terbit dengan simpul yang manis.
Waktu begitu cepat, tak terasa kehadirannya di
setiap menit, detik hingga hela napas tak terasa, semuanya hilang berganti
kabut tebal, menyisakan sedikit cahaya abu-abu yang tak pernah pasti. Semua
tergantikan dengan suara lain semacam raungan harimau. Alarm menghentikan mimpi indahnya.
**
Setahun Yang
Lalu
Keheningan menyelimuti
kedua insan. Keduanya linglung, masing-masing dari mereka memikirkan beberapa
hal terburuk. Sangat buruk malah, atau apa yang akan mereka katakan saat jujur
mereka pun tak tahu apa yang akan dihadapi.
"Kita harus
hentikan semua ini," ucap pria, dengan wajah tegas, tidak ingin didebat. "Maksud kamu
apa?" sedang perempuan itu menoleh, rambut panjang yang biasa tertutup
hijab itu terurai.
"Ya sudah kita
sembunyiin ini semua, gak perlu ada yang tahu,
Dan kita harus selesaikan ini semua," tangan melayang tanpa pernah
sampai ketempat tujuan, setidaknya tepat pada mulut yang beberapa jam yang lalu
baru saja menghinanya. Dan tangan itu tertahan oleh tangan yang lebih kuat.
"Perempuan tidak
seharusnya kasar, perempuan itu harusnya lemah lembut, dan tidak bodoh
sepertimu. Sudahlah cepat bersihkan diri!" perempuan itu tak bergeming.
Pria itu memasuki kamar mandi. Diraihnya
ponsel dan mengirim pesan ke seseorang.
Dua jam lebih
seseorang yang berada di kamar mandi tidak keluar, guyuran shower pun masih
terdengar, bersama dengan suara sesenggukan. Pintu terbuka menampakkan seorang
perempuan dengan kemeja dan rambut tergelung rapih. Ia masuk tanpa permisi,
mendapati kakaknya tengah meringkuk di balik selimut. Sehelai baju dari tas
yang dibawanya ia berikan sesuai pesan yang dikirimkan. Ia masih tetap tenang
namun ia menangkap semuanya dengan cepat.
Pintu terbuka, pria
itu sudah mengenakan pakaian rapih, sedang dasi yang masih tergantung dilemari.
Terkejut melihat kekasihnya ada di depannya dengan raut tenang menunggui
kakaknya.
"Rey?" hanya kata itu yang terucap. Dengan
ketenangan yang masih dipertahankannya ia menggiring kakaknya, berjalan
memunguti semua pakaian dan memasukan kedalam
plastik yang selalu dibawanya. Rey mencoba menjelaskan namun semua
ucapannya bagai nyamuk.
**
Seminggu berlalu
banyak perbedaan yang terjadi sikap dan kediaman kakaknya memang tidak beres.
Semua itu terjawab ketika ada lima buah tes kehamilan dengan dua garis.
Hari itu ia memutuskan
untuk menemui Rey. Cukup sudah ia berdiam diri. Semua ini tidak bisa dibiarkan.
"Temui aku di
tempat kita biasa, secepat
mungkin,"
Di tempat yang sudah
dijanjikan, keduanya duduk berhadapan yang satu dengan mata memuja terselip
mohon maaf dan tidak mau mengalah yang satu tetap diam. Tertekan dengan
kebisuan, Rey mencoba memecah keheningan. Nissa yang memakai hijab kakaknya,
sudah tidak bisa dibedakan lagi.
"Kenapa masih
menghubungi, bukankah sudah ku bilang kita sudahi saja semua ini," yang
satu cuma diam.
"Apa kau tak
kasihan, sampai kamu menghianati adikmu sendiri,” Nisa yang merubah penampilan
seperti Annis itu menggeleng.
"Malam itu memang
aku memaksamu maaf, jika Nisa tidak menunda atau terlalu teguh pendirian
mungkin semua ini tidak akan terjadi. Maaf jika saat itu namanya yang ku sebut,
dan aku tidak bisa lagi bersamamu." perempuan itu mendengarkan sesekali
menghela napas dan menggeleng.
"Kau
meninggalkanku meski aku memiliki calon keturunanmu?” Perempuan itu berbicara.
"Sudah kukatakan
kita sudahi saja semua ini, maaf lebih baik kau gugurkan saja!" itu
perintah bukan saran.
"Ya mungkin lebih
baik kita batalkan saja pernikahan ini, dan kuharap kau tanggung jawab untuk
kakakku," pria di hadapannya mengerutkan dahi tanda tak mengerti.
"Kamu tidak
mengenalku? Aku Nisa, dan aku tahu semua dari mulutmu sendiri, syukurlah.
Mumpung masih belum terlanjur. Sudahi saja, kau menikahlah dengan kakakku,
wajah kita samakan?
"Tadi kau bilang
gugurkan saja? Tentu aku tidak akan menikahi pria yang tidak bertanggung jawab
seperti mu.
"Nikahi atau
batalkan? " itu pilihan yang menambah pukulan, belum cukup keterkejutannya
ditambah satu lagi.
"aku memilih mu,
bukan kakakmu," ia menegaskan
"Okey keputusan
terakhir, batalkan!" perempuan itu melenggang pergi. Rey ingin mengejar
namun pesanan itu membuatnya tertahan.
**
Ia harus bersiap untuk kerja, menyelesaikan urusan-urusannya dengan
berlembar-lembar kertas yang akan selalu bertambah jika ditinggalkan. Mata itu selalu mengintai dibalik
meja kerja. Dari meja tersebut tercium aroma kopi yang semalam ia impikan, tidak biasanya, sering sekali ia memesan kopi serupa tapi aroma yang
ditimbulkan berbeda. Ada sesuatu yang menarik, mencoba mengeluarkan ingatan
tentang secangkir kopi yang selama ini ia rindukan.
“Kopi?”
suara perempuan yang menawarkan secangkir kopi, uap masih mengepul menebarkan
aroma khas kopi. Matanya tepat menuju
pada keindahan mata itu, ia menerima tawarannya dan mengikuti langkahnya. “Boleh secangkir kopi?” tanya Rey matanya masih saja tertuju pada iris yang tidak asing tapi ia lupa dimana pertamakali melihatnya.
Secangkir kopi yang ia suguhkan dan Rey menerimanya, tangan sehalus suaranya seringan
sapuan angin di rambutnya. Dalam lamunan banyak hal yang di pertanyakan, selain kapan pernah melihatnya,
tapi apa rasa dibalik semua ini? Ada getaran lain seketika senyum itu hadir.
“Kau suka menunggu hingga kopimu hangat?”
suara lembut itu kembali mengusik lamunan. “Tidak, hanya ingin menikmati kopi tanpa perlu ditiup,” jawabnya tanpa
mengalihkan perhatian dari matanya. Tatapan matanya seakan mengisyaratkan "aku akan menantimu, menyelesaikan semua ini. Bagaimana pun caranya.
**
Nisa
Hari ini kutemukan lagi tatapan mata itu,
tatapan mata yang hilang ditelan badai yang pernah menimpanya. Perasaan yang
menyakitkan, namun di sini aku terlalu setia mengubur dalam kesempatan yang
seharusnya bisa kita lalui bersama. Au kekasihmu menantimu dalam ingatan yang
tak kunjung kau ingat, kau melupakan segala kenangan membiarkan aku selalu
berkata manis untuk percaya bahwa semua bakal indah pada waktunya, namun apa?
kau bahkan tak menoleh padaku sedikit pun.
Semenjak tawamu hadir dalam lamunan, aku sadar
tak seharusnya aku berdiam diri menantimu dan mengutuk dirimu untuk semua yang
terjadi. Perselingkuhan kalian murni rasa cinta. Rasa cinta yang selalu didiamkan. Dan, ketika
ada kesempatan kalian pun tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan. Membiarkanmu
memilih yang tepat, sebelum suatu hal
yang mengikat kita. Setahun aku menanti kesempatan itu, dan kutatap kembali,
kubiarkan aku mengalah, bukan karena menyerah hanya saja jika semakin
mengikatmu aku akan terluka. Dia akan
terluka.
Aku menanti kesempatan ini, mengutarakan sakit
hati tanpa perlu berkata apapun cukup tatap aku, mungkin secangkir kopi bisa mengingatkanmu dan menghilangkan ragumu. Aku akan selalu setia tidak akan
mencari kekasih yang lain meski kau memilih yang lain, tidak kamu maka tidak
untuk yang lain. Bagaimana kopi yang
kuracik kau suka? Kuharap.
**
Air dari langit
sedikit demi sedikit jatuh ke bumi, membasahi bumi dengan siraman yang tidak
merata, membiarkan orang yang haus menanti akan kedatanganmya. Kali ini bisa
kulihat mendung malu-malu menyisip pada langit. Pemilik mata itu melewati ku.
“Rey” sapaku, namun kau hanya mengerutkan dahi tanda kau tak paham. “Rey itu namamu kan?” ternyata kau melupakan aku. Semuanya?
“Bisa makan siang, berdua saja?”
“Dengan senang hati,” syukurlah kau tak menolak. Sesampainya di tempat yang ingin kutunjukkan,
mungkin kau bisa mengingat satu hal. “Aku ingin bercerita, dan coba ingat
kembali apa yang pernah terjadi di hidupmu.”
"Sebaiknya kau
duduk, aku memesan untuk kita."
"Boleh aku mulai
bercerita? " tanyaku memastikan, semoga saja kau tak terkejut secara
tiba-tiba ada orang yang baru kau temui beberapa hari yang lalu, seakan
mengenalmu lama. Tentu saja aku mengenalmu, tiga tahun lebih kau akhiri dengan
rasa sakit, kebencian dan dendam yang tersisa. "Kau ingat?"
“Setahun yang lalu karena kebodohanmu, kau
menghancurkan tiga hubungan sekaligus. Hubunganku denganmu pada saat itu kita sudah cetak undangan, ungu dan
hitam sedikit warna biru warna yang kita setujui. Tapi apa? Bahkan
sekarang kau tak ingat apa pun.
"Maaf jika kali
ini aku terkesan menuntut , tapi aku hanya ingin meluapkan segalanya. Sekali
lagi mata bodoh, dengan segala ketidaktahuannya muncul kepermukaan. Aku benci
mata itu.
"Kedua, hubunganku
dengan saudaraku, katamu cinta kita
dilandasi cinta sesungguhnya, tapi apa? Semua hanya kebohongan. Jika benar dan
itu bukan alibi mu, kau pasti tahu siapa
dia dan siapa aku. Dan semua ini tidak mungkin terjadi, tapi syukurlah aku tidak
perlu selalu dengan pembohong sepertimu.
"Ketiga hubunganku
dengan orang tuaku, kenapa harus aku yang kehilangan semuanya. Kenapa tidak
orang lain saja kenapa harus aku. Dan kenapa harus kamu yang seharusnya aku
percaya dan mampu menjaga keutuhan keluargaku, keluarga kita.
“Dan malam itu karena kegilaanmu kau selingkuh dengan kakakku, dan
aku bisa apa, semua bisa terjadi dan mengapa semua ini terjadi. Dan kenapa aku
harus tahu segalanya, kenapa tidak secara diam saja, apa yang belum aku
berikan. Dan sekarang apa? Kau seperti orang bodoh yang melupakan segalanya.
Kau malah meninggalkan semua hubungan yang sudah kau rusak. Apa kau masih
peduli dengan kakakku, bagaimana aku bisa percaya jika kau saja meninggalkannya
setelah merusak masa depannya, meninggalkannya saat ia sangat membutuhkanmu.”
Aku tidak peduli jika kepalamu akan pening.
**
Rey
“Orang sepertimu seharusnya tiada, harusnya ke
neraka. Dia mendekam di rumah sakit jiwa karenamu. Kasian anaknya yang
terlantar tanpa pernah mengenal ibu dan ayahnya. Aku tidak sampai hati melihat
bayi semungil itu harus mengalami nasib sial karena kebodohan ayahnya.” Dua
mangkuk bakso yang di
pesan mungkin sudah mendingin. Tak tega
melihat air mata mengalir dari mata indahnya, dari mata yang akhir-akhir ini
diperhatikan. Dia harus apa membiarkannya memarahi sedang tidak mengerti semua ini.
“Makan setelah ini ikut aku,” ucapnya dengan menambahkan dua sendok sambel ke
mangkuknya. Ah air mata itu masih mengalir karena sakit hatinya ditambah sambal
cabai dua sendok.
Sedang pikirannya
masih berputar pada anak? Saudara? Dan siapa dia? Biarlah! asal aku bahagia
bisa bersamanya.
**
Semua sudah jelas kini siapa pemilik mata itu
dan apa kesalahannya sehingga perasaan selalu diintai dan perhatikan murni
karena kesalahannya sendiri. Semua memang karena dirinya kebodohannya hingga ia
harus merasakan rasa takut yang ia sendiri tak tahu kenapa. Semua kini jelas,
hanya satu yang mungkin bisa dilakukan untuk memperbaiki semua ini hanyalah
merawat bayi mungil yang kini berada di dekapannya. Sebisa mungkin ia akan
memperbaiki kesalahannya.
Namun secangkir kopi hitam pekat itu akan senantiasa
diminumnya karena tangan ajaib yang meraciknya telah kembali bukan lagi sebagai
kekasih tetapi sahabat dan ibu asuh untuk anaknya. Biarlah teguhkan hati untuk
tidak saling memiliki namun hati tetap saling memiliki.
Eka Apriliyah
Psikologi
Universitas Trunojoyo Madura

