Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perempuan Dibalik Kenangan

Rabu, 31 Maret 2021 | 05.17.00 WIB Last Updated 2021-03-31T12:20:10Z



Dari balik kegelapan ada kegelapan lain yang lebih menakutkan, sepasang mata mengintai sejak ia memasuki ruangan ini. Mata itu tajam bagai pedang yang menghunus tepat memberi rasa sakit, sekaligus penuh perhatian. Sudah hampir setahun  masa kelam itu ia lewati tanpa mengenal siapa yang telah ia sakiti. Sudah hampir setahun pula ia merasa diamati, sepasang mata persis seperti terakhir kali ia lihat.

 

Bagaimana bisa orang lupa akan kesalahannya? Mengapa ada orang sejahat dirinya? Bukankah orang semacam dirinya harus dihilangkan saja?

 

Aroma anggur menguar ke seisi ruangan. Bunyian keras lagu romansa menemani pemilik ruangan yang kalut akan kenangan. Seteguk lagi  pikirnya, hingga ia tertidur dengan pulas setidaknya kenangan kelam itu tergantikan oleh mimpi indah. Tak lama ia terbangun, hanya gumaman yang terdengar dari mulutnya.  Perempuan, sekaligus kekasih yang selama ini meninggalkannya kembali lagi, sebagai bidadari yang mampu menjatuhkannya ke dalam lautan cinta untuk yang kedua kalinya.

 

“Rey,” sapaan sehalus angin memanggil namanya. Tapi siapa pria yang disapa oleh kekasihnya, adakah yang lain. Ahh tidak, itu  adalah  dirinya, persis setelah ia terbangun, secangkir kopi manis hitam pekat, minuman favoritnya dulu sebelum kekasihnya pergi dan entah kapan akan kembali atau mungkin tidak sama sekali. Ia tidak mengerti semua ini. Satu persatu ingatan kembali mengenang beberapa wajah-wajah yang sulit dikenali.

 

“Nisa,” perempuan lain memanggil perempuan itu, suara yang lebih lembut, tatapan dari keduanya sama persis. Wajah keduanya pun persis. Namun ia hanya mengamati keduanya dibalik mata berpayung alis tebal miliknya, tawa keduanya manis, semanis pisang goreng yang senantiasa menemani kopi hitamnya. Camilan yang pas di setiap pagi. Senyuman terbit dengan simpul yang manis.

 

Waktu begitu cepat, tak terasa kehadirannya di setiap menit, detik hingga hela napas tak terasa, semuanya hilang berganti kabut tebal, menyisakan sedikit cahaya abu-abu yang tak pernah pasti. Semua tergantikan dengan suara lain semacam raungan harimau. Alarm  menghentikan mimpi indahnya.

 

**

 

Setahun Yang Lalu

Keheningan menyelimuti kedua insan. Keduanya linglung, masing-masing dari mereka memikirkan beberapa hal terburuk. Sangat buruk malah, atau apa yang akan mereka katakan saat jujur mereka pun tak tahu apa yang akan dihadapi.

 

"Kita harus hentikan semua ini," ucap pria, dengan wajah tegas,  tidak ingin didebat. "Maksud kamu apa?" sedang perempuan itu menoleh, rambut panjang yang biasa tertutup hijab itu terurai.

 

"Ya sudah kita sembunyiin ini semua, gak perlu ada yang tahu,  Dan kita harus selesaikan ini semua," tangan melayang tanpa pernah sampai ketempat tujuan, setidaknya tepat pada mulut yang beberapa jam yang lalu baru saja menghinanya. Dan tangan itu tertahan oleh tangan yang lebih kuat.

 

"Perempuan tidak seharusnya kasar, perempuan itu harusnya lemah lembut, dan tidak bodoh sepertimu. Sudahlah cepat bersihkan diri!" perempuan itu tak bergeming. Pria itu memasuki kamar mandi.  Diraihnya ponsel dan mengirim pesan ke seseorang.

 

Dua jam lebih seseorang yang berada di kamar mandi tidak keluar, guyuran shower pun masih terdengar, bersama dengan suara sesenggukan. Pintu terbuka menampakkan seorang perempuan dengan kemeja dan rambut tergelung rapih. Ia masuk tanpa permisi, mendapati kakaknya tengah meringkuk di balik selimut. Sehelai baju dari tas yang dibawanya ia berikan sesuai pesan yang dikirimkan. Ia masih tetap tenang namun ia menangkap semuanya dengan cepat.

 

Pintu terbuka, pria itu sudah mengenakan pakaian rapih, sedang dasi yang masih tergantung dilemari. Terkejut melihat kekasihnya ada di depannya dengan raut tenang menunggui kakaknya.

 

"Rey?"  hanya kata itu yang terucap. Dengan ketenangan yang masih dipertahankannya ia menggiring kakaknya, berjalan memunguti semua pakaian dan memasukan kedalam  plastik yang selalu dibawanya. Rey mencoba menjelaskan namun semua ucapannya bagai  nyamuk.

 

**

 

Seminggu berlalu banyak perbedaan yang terjadi sikap dan kediaman kakaknya memang tidak beres. Semua itu terjawab ketika ada lima buah tes kehamilan dengan dua garis.

Hari itu ia memutuskan untuk menemui Rey. Cukup sudah ia berdiam diri. Semua ini tidak bisa dibiarkan.

 

"Temui aku di tempat  kita biasa, secepat mungkin,"

 

Di tempat yang sudah dijanjikan, keduanya duduk berhadapan yang satu dengan mata memuja terselip mohon maaf dan tidak mau mengalah yang satu tetap diam. Tertekan dengan kebisuan, Rey mencoba memecah keheningan. Nissa yang memakai hijab kakaknya, sudah tidak bisa dibedakan lagi.

 

"Kenapa masih menghubungi, bukankah sudah ku bilang kita sudahi saja semua ini," yang satu cuma diam.

 

"Apa kau tak kasihan, sampai kamu menghianati adikmu sendiri,” Nisa yang merubah penampilan seperti Annis itu menggeleng.

 

"Malam itu memang aku memaksamu maaf, jika Nisa tidak menunda atau terlalu teguh pendirian mungkin semua ini tidak akan terjadi. Maaf jika saat itu namanya yang ku sebut, dan aku tidak bisa lagi bersamamu." perempuan itu mendengarkan sesekali menghela napas dan menggeleng.

 

"Kau meninggalkanku meski aku memiliki calon keturunanmu?” Perempuan itu berbicara.

"Sudah kukatakan kita sudahi saja semua ini, maaf lebih baik kau gugurkan saja!" itu perintah bukan saran.

 

"Ya mungkin lebih baik kita batalkan saja pernikahan ini, dan kuharap kau tanggung jawab untuk kakakku," pria di hadapannya mengerutkan dahi tanda tak mengerti.

 

"Kamu tidak mengenalku? Aku Nisa, dan aku tahu semua dari mulutmu sendiri, syukurlah. Mumpung masih belum terlanjur. Sudahi saja, kau menikahlah dengan kakakku, wajah kita samakan?

 

"Tadi kau bilang gugurkan saja? Tentu aku tidak akan menikahi pria yang tidak bertanggung jawab seperti mu.

 

"Nikahi atau batalkan? " itu pilihan yang menambah pukulan, belum cukup keterkejutannya ditambah satu lagi.

 

"aku memilih mu, bukan kakakmu," ia menegaskan

 

"Okey keputusan terakhir, batalkan!" perempuan itu melenggang pergi. Rey ingin mengejar namun pesanan itu membuatnya tertahan.

 

**

 

Ia harus bersiap untuk kerja, menyelesaikan urusan-urusannya dengan  berlembar-lembar kertas yang akan selalu bertambah jika ditinggalkan. Mata itu selalu mengintai dibalik meja kerja. Dari meja tersebut tercium aroma kopi yang semalam ia impikan, tidak biasanya, sering sekali ia memesan kopi serupa tapi aroma yang ditimbulkan berbeda. Ada sesuatu yang menarik, mencoba mengeluarkan ingatan tentang secangkir kopi yang selama ini ia rindukan.  Kopi?” suara perempuan yang menawarkan secangkir kopi, uap masih mengepul menebarkan aroma khas kopi. Matanya tepat menuju pada keindahan mata itu, ia menerima tawarannya dan mengikuti langkahnya. “Boleh secangkir kopi?” tanya Rey matanya masih saja tertuju pada iris yang tidak asing tapi ia lupa dimana pertamakali melihatnya.

 

Secangkir kopi yang ia suguhkan dan Rey menerimanya, tangan sehalus suaranya seringan sapuan angin di rambutnya. Dalam lamunan banyak hal yang di pertanyakan, selain kapan pernah melihatnya, tapi apa rasa dibalik semua ini? Ada getaran lain seketika senyum itu hadir.

 

“Kau suka menunggu hingga kopimu hangat?” suara lembut itu kembali mengusik lamunan. “Tidak, hanya ingin menikmati kopi tanpa perlu ditiup,” jawabnya  tanpa mengalihkan perhatian dari matanya. Tatapan matanya seakan mengisyaratkan "aku akan menantimu, menyelesaikan semua ini. Bagaimana pun caranya.

 

**

 

Nisa

 

Hari ini kutemukan lagi tatapan mata itu, tatapan mata yang hilang ditelan badai yang pernah menimpanya. Perasaan yang menyakitkan, namun di sini aku terlalu setia mengubur dalam kesempatan yang seharusnya bisa kita lalui bersama. Au kekasihmu menantimu dalam ingatan yang tak kunjung kau ingat, kau melupakan segala kenangan membiarkan aku selalu berkata manis untuk percaya bahwa semua bakal indah pada waktunya, namun apa? kau bahkan tak menoleh padaku sedikit pun. 

 

Semenjak tawamu hadir dalam lamunan, aku sadar tak seharusnya aku berdiam diri menantimu dan mengutuk dirimu untuk semua yang terjadi. Perselingkuhan kalian murni rasa cinta.  Rasa cinta yang selalu didiamkan. Dan, ketika ada kesempatan kalian pun tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan. Membiarkanmu memilih  yang tepat, sebelum suatu hal yang mengikat kita. Setahun aku menanti kesempatan itu, dan kutatap kembali, kubiarkan aku mengalah, bukan karena menyerah hanya saja jika semakin mengikatmu aku akan terluka. Dia akan terluka.

 

Aku menanti kesempatan ini, mengutarakan sakit hati tanpa perlu berkata apapun cukup tatap aku, mungkin secangkir kopi bisa mengingatkanmu dan menghilangkan  ragumu. Aku akan selalu setia tidak akan mencari kekasih yang lain meski kau memilih yang lain, tidak kamu maka tidak untuk  yang lain. Bagaimana kopi yang kuracik kau suka? Kuharap.

 

**

 

Air dari langit sedikit demi sedikit jatuh ke bumi, membasahi bumi dengan siraman yang tidak merata, membiarkan orang yang haus menanti akan kedatanganmya. Kali ini bisa kulihat mendung malu-malu menyisip pada langit. Pemilik mata itu melewati ku.

 

“Rey” sapaku, namun kau hanya mengerutkan dahi tanda kau tak paham. “Rey itu namamu kan?”  ternyata kau melupakan aku. Semuanya?

 

“Bisa makan siang, berdua saja?”

 

“Dengan senang hati,”  syukurlah kau tak menolak.  Sesampainya di tempat yang ingin kutunjukkan, mungkin kau bisa mengingat satu hal. “Aku ingin bercerita, dan coba ingat kembali apa yang pernah terjadi di hidupmu.”

 

"Sebaiknya kau duduk, aku  memesan untuk kita."

 

"Boleh aku mulai bercerita? " tanyaku memastikan, semoga saja kau tak terkejut secara tiba-tiba ada orang yang baru kau temui beberapa hari yang lalu, seakan mengenalmu lama. Tentu saja aku mengenalmu, tiga tahun lebih kau akhiri dengan rasa sakit, kebencian dan dendam yang tersisa. "Kau ingat?"

 

“Setahun yang lalu karena kebodohanmu, kau menghancurkan tiga hubungan sekaligus. Hubunganku denganmu pada saat itu kita sudah cetak undangan, ungu dan hitam sedikit warna biru warna yang kita setujui. Tapi apa? Bahkan sekarang  kau tak ingat apa pun.

"Maaf jika kali ini aku terkesan menuntut , tapi aku hanya ingin meluapkan segalanya. Sekali lagi mata bodoh, dengan segala ketidaktahuannya muncul kepermukaan. Aku benci mata itu.

 

"Kedua, hubunganku dengan saudaraku, katamu cinta kita dilandasi cinta sesungguhnya, tapi apa? Semua hanya kebohongan. Jika benar dan itu bukan alibi mu, kau pasti  tahu siapa dia dan siapa aku. Dan semua ini tidak mungkin terjadi, tapi syukurlah aku tidak perlu selalu dengan pembohong sepertimu.

 

"Ketiga hubunganku dengan orang tuaku, kenapa harus aku yang kehilangan semuanya. Kenapa tidak orang lain saja kenapa harus aku. Dan kenapa harus kamu yang seharusnya aku percaya dan mampu menjaga keutuhan keluargaku, keluarga kita.

 

Dan malam itu karena kegilaanmu kau selingkuh dengan kakakku, dan aku bisa apa, semua bisa terjadi dan mengapa semua ini terjadi. Dan kenapa aku harus tahu segalanya, kenapa tidak secara diam saja, apa yang belum aku berikan. Dan sekarang apa? Kau seperti orang bodoh yang melupakan segalanya. Kau malah meninggalkan semua hubungan yang sudah kau rusak. Apa kau masih peduli dengan kakakku, bagaimana aku bisa percaya jika kau saja meninggalkannya setelah merusak masa depannya, meninggalkannya saat ia sangat membutuhkanmu.” Aku tidak peduli jika kepalamu akan pening.

 

**

 

Rey

 

“Orang sepertimu seharusnya tiada, harusnya ke neraka. Dia mendekam di rumah sakit jiwa karenamu. Kasian anaknya yang terlantar tanpa pernah mengenal ibu dan ayahnya. Aku tidak sampai hati melihat bayi semungil itu harus mengalami nasib sial karena kebodohan ayahnya.” Dua mangkuk bakso yang di pesan mungkin sudah mendingin. Tak tega melihat air mata mengalir dari mata indahnya, dari mata yang akhir-akhir ini diperhatikan. Dia harus apa membiarkannya memarahi sedang  tidak mengerti semua ini.

 

“Makan setelah ini ikut aku,” ucapnya dengan menambahkan dua sendok sambel ke mangkuknya. Ah air mata itu masih mengalir karena sakit hatinya ditambah sambal cabai dua sendok.

 

Sedang pikirannya masih berputar pada anak? Saudara? Dan siapa dia? Biarlah! asal aku bahagia bisa bersamanya.

 

**

 

Semua sudah jelas kini siapa pemilik mata itu dan apa kesalahannya sehingga perasaan selalu diintai dan perhatikan murni karena kesalahannya sendiri. Semua memang karena dirinya kebodohannya hingga ia harus merasakan rasa takut yang ia sendiri tak tahu kenapa. Semua kini jelas, hanya satu yang mungkin bisa dilakukan untuk memperbaiki semua ini hanyalah merawat bayi mungil yang kini berada di dekapannya. Sebisa mungkin ia akan memperbaiki kesalahannya.

 

Namun secangkir kopi hitam pekat itu akan senantiasa diminumnya karena tangan ajaib yang meraciknya telah kembali bukan lagi sebagai kekasih tetapi sahabat dan ibu asuh untuk anaknya. Biarlah teguhkan hati untuk tidak saling memiliki namun hati tetap saling memiliki.


Eka Apriliyah

Psikologi

Universitas Trunojoyo Madura

×
Berita Terbaru Update