WKUTM – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) berencana menerapkan kampus merdeka. Kurniyati Indahsari selaku ketua Lembaga Pengembangan, Pembelajaran, dan Penjaminan Mutu (LP3MP) mengatakan bahwa konsep kampus merdeka bukanlah hal baru bagi UTM.
“Sebenarnya kebijakan kampus merdeka bukanlah hal yang baru bagi UTM, karena beberapa program studi sudah mewajibkan mahasiswanya untuk melakukan kegiatan magang. Adanya program tersebut dapat dikatakan sebagai embrio dari konsep kebijakan kampus merdeka ini,” ujarnya saat diwawancarai Rabu lalu (15/07).
Kurniyati juga menambahkan, bahwa ada beberapa strategi yang dapat dilakukan UTM guna menerapkan kebijakan kampus merdeka, antara lain dengan memfasilitasi setiap program studi untuk melakukan restrukturisasi kurikulum, mengevaluasi dan mengupdate setiap Memorandum of Understanding yang sudah ada. Perkara lain yakni menjalin kerjasama dengan beberapa pihak lain, menyiapkan perangkat pembelajaran (Learning Management System), serta yang tidak kalah penting adalah menyusun panduan tentang implementasi kurikulum kampus merdeka UTM, sehingga dapat dijadikan sebagai guideline dalam merestrukturisasi kurikulum.
Di sisi lain, Prasetyo Nugroho, ketua Tim Perancanaan UTM, mengatakan bahwa berdasarkan pada kebijakan rektor, anggaran tahun 2020 difokuskan pada segi penyusunan kurikulum kampus merdeka yang dibebankan kepada tiap-tiap program studi.
”Berdasarkan kebijakan rektor, fokus anggaran tahun 2020 adalah tiap-tiap program studi wajib menganggarkan penyusunan kurikulum kampus merdeka,” ungkapnya (16/07).
Kesiapan UTM dalam menyambut kampus merdeka juga dijelaskan oleh Drajat Wicaksono selaku dosen Ilmu Komunikasi UTM. Hal ini mengingat ada beberapa aspek penunjang kebijakan kampus merdeka di UTM sudah mendukung.
“UTM sangat siap menghadapi kampus merdeka, potensi pengajar yang luar biasa, dengan akses informasi yang sudah lumayan baik, serta rentang usia para pengajar yang rata-rata masih muda, sehingga dalam mencari pemikir progresif tidaklah sulit,” jelas pria asal Yogyakarta tersebut.
Drajat juga menambahkan, bahwa tantangan dalam menghadapi era kampus merdeka ialah komitmen. Tidak hanya bertumpu pada rektor, dekan, kepala jurusan, atau kepala program studi saja, melainkan harus dimiliki oleh setiap elemen civitas akademika.
Hanifah, dosen Sastra Inggris UTM juga berharap agar kebijakan kampus merdeka ini dapat segera diterapkan di UTM.
”Harapan saya, mendatang kebijakan ini segera bisa diterapkan di UTM, karena kebijakan ini sudah sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) 2020. Proses pembelajaran sudah berbasis pada mahasiswa (student learning) bukan lagi pada dosen”, Ujarnya saat dihubungi via Whatsapp (16/07). (Meng/Tal/Yu/Wid)

