Lebaran tahun 2025 rasanya sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana tidak, setelah disahkannya Undang-Undang (UU) Tentara Nasional Indonesia (TNI), masyarakat kini mulai menggemborkan baju Lebaran yang sedang dibutuhkan dan dinilai worth it, yaitu rompi antipeluru.
Jika biasanya masyarakat berbondong-bondong membeli gamis, takwa, jubah shimmer, abaya dan sarung merek BHS Signature, kini berganti tren menjadi rompi antipeluru. Bahkan, live streaming TikTok juga dipenuhi penjualan rompi antipeluru. Hal tersebut disambut antusias oleh warganet, entah sekadar penasaran atau memang ingin membeli.
Sungguh bukan hal yang biasa, Lebaran pakai baju antipeluru. Memang siapa yang akan melakukan penembakan di hari yang suci dan berkah?
Kalau kita amati secara saksama, Indonesia sedang dalam keadaan kacau balau, hingga muncul #IndonesiaGelap. Tagar tersebut digaungkan oleh warganet sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah Indonesia saat ini, juga sebagai simbol ketakutan masyarakat akan masa depan negara. Banyaknya problem yang mencuat, mulai dari kebijakan efisiensi anggaran, kasus korupsi BUMN, Tunjangan Kinerja (Tukin) Dosen, dan mangkraknya proyek negara.
Terlebih setelah disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) TNI pada Kamis (20/3) lalu, masyarakat semakin beringas, semakin kecewa dengan keputusan sepihak pemerintah. Terdapat tambahan pasal yang menerangkan bahwa prajurit TNI berhak mengisi jabatan sipil. Hal tersebut berdampak pada lapangan pekerjaan yang semakin terbatas dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang makin marak terjadi.
Butir pasal dalam UU TNI terbaru, diduga dapat memicu kembalinya Dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada masa Orde Baru. Sejak 1999, ABRI sudah berganti nama menjadi TNI. Jika Dwifungsi TNI dihidupkan kembali, militer akan mendominasi dalam berbagai sektor. Dominasi tersebut, berdampak pada berkurangnya partisipasi sipil, melemahnya supremasi hukum, dan potensi meningkatnya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Masih ingat dengan istilah Petrus? Ya, penembak misterius di masa Orde Baru. Tak menutup kemungkinan Petrus bisa muncul kembali. Bagaimana jika pengoperasian Petrus kembali dijalankan? Mereka yang tidak bersalah, tidak tahu apa-apa, tiba-tiba ditembak, tanpa adanya bukti yang jelas.
Membeli rompi antipeluru menjadi pilihan tepat untuk dijadikan tren fashion tahun ini. Selain sebagai bentuk perlindungan diri, juga dapat menyugesti diri bahwa kita masih bisa bertahan dan melawan rezim yang dianggap sebagai part kedua Orde Baru.
Tren rompi antipeluru mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap situasi keamanan saat ini. Fenomena ini menunjukkan bahwa perayaan hari raya yang biasanya identik dengan kebersamaan dan kebahagiaan, kini diwarnai dengan rasa ketidakpastian terhadap faktor keamanan. Jika pemerintah sudah tidak lagi berpihak pada rakyat, lalu siapa yang akan melindungi rakyat jika bukan diri kita sendiri?
Latifah
Mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum